RAGAM

Masyarakat Minta Pemda Malaka Segera Tutup Tanggul yang Jebol

BETUN, Kilastimor.com-Masyarakat Desa Motaulun dan Desa Kleseleon meminta Pemkab Malaka bergerak cepat untuk menutup tanggul yang jebol di dua desa tersebut, akibat banjir Sungai Benenain pada Minggu (2/4) kemarin. Masyarakat khawatir jika tak segera ditangani akan kembali terjadi banjir susulan, jika kembali turun hujan.

Tanggul yang jebol.

Tanggul jebol.

Pantauan kilastimor.com pada Rabu (5/4), nampak material sertu dari dua tanggul yang jebol berserakan hingga memasuki saluran irigasi dan area persawahan. Selain material sertu, lumpur yang terbawa saat banjir juga menimpun tanaman padi milik warga hingga dipastikan tanaman padi tersebut mengalami gagal tanam. Akibat tersumbatnya saluran irigasi oleh material sertu dan kayu besar, pasokkan air untuk area persawahan di desa motaulun dan kleseleon menjadi terganggu.

Bria, sala seorang Warga Desa Motaulun berharap agar pemkab malaka melalui dinas penanggulan bencana yang berkoordinasi dengan dinas PU bisa segera menutup tanggul yang jebol. Sebab bila tidak segera ditagani, maka akan kembali terjadi banjir.

Kami sudah cukup rugi banyak karena banjir. Kami tidak mau ada banjir lagi hanya karena pemerintah lamban memperbaiki tanggul yang jebol,” ujarnya.

Senada, Gardis Banu (47) warga Dusun Kleik, Desa Motaulun. Dirinya mengeluhkan 5 petak tanaman padinya yang mati akibat tertimbun lumpur dan material sertu. Ia berharap Pemkab Malaka bisa segera memperbaiki tanggul yang jebol dan membersihkan material sertu yang menimbun area persawahannya sehingga bisa kembali diolah.

Baca Juga :   6 BUMP di Kabupaten Kupang Dilaunching. Titu Eki : Ini untuk Mengangkat Peternak Menjadi Pengusaha

“Saat ini, saya hanya bisa melihat padi saya mati saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Namanya juga bencana siapa bisa lawan. Saya berharap pemkab malaka bisa menimbun kembali tanggul yang jebol dan mengeruk material sertu yang masuk dalam area persawahan saya,” ujarnya.

Selain tanaman padi, banjir yang melanda malaka juga merusak puluhan hektar tanaman jagung milik warga. Warga terpaksa melakukan panen lebih cepat jika tak ingin jagungnya membusuk akibat terendam air bercampur lumpur.

Regolinda Abuk (75) warga desa Motaulun mengaku mengalami kerugian akibat puluhan are tanaman jagungnya mengalami gagal panen. Ia mengatakan, jagungnya yang sudah berbunga mati total akibat direndam air bercampur lumpur setinggi hampir 1 meter.

“Saya tidak dapat hasil apa-apa. Semuanya mati karena banjir,” keluhnya.(richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top