RAGAM

Penting Ditumbuhkan Nasionalisme bagi Generasi Muda Belu

“Sehingga dengan adanya upaya untuk menanamkan rasa nasionalisme ini paling tidak harapan kita kedepan masyarakat di daerah perbatasan bisa lebih menumbuhkan semangat, jiwa, rasa dan cintah tanah air NKRI,” tandas Parada.

Sementara itu Wabup Ose Luan mengatakan, kegiatan seminar ini sangat positif untuk membuka wawasan seluruh peserta khususnya anak-anak pelajar generasi muda bangsa Indonesia, supaya memhamai bahwa kita berada dalam satu bangsa Indonesia. Kegiatan ini cukup berbobot, dilihat dari beberapa penyampaian singkat oleh narasumber karena membuka cara berpikir peserta terutama pelajar bahwa kita butuh untuk supaya negara ini tetap dipertahankan dengan mengeleminir berbagai macam tantangan, hambatan termasuk hal-hal yang diperjuangkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk menghancurkan dengan menjadikan keanekaramagan itu sebagai alasan untuk konflik.

“Selalu orang pakai alasan agama, beda ras, budaya dan lain lain sebagai alasan untuk menganggu kewibawaan negara kita sebagai warga negara NKRI. Semua terbuka lugas dalam seminar tidak ada tekanan apapun atau sesuatu yang disembunyikan tidak ada yang tertutup,” sebut dia.

Pemerintah Kabupaten Belu melalui Kesbangpol ada bidang Wasbang, mereka juga melakukan sosialisasi terkait hal itu, hanya mungkin sasarannya itu yang kurang tepat dan alangkah baiknya sasaran kepada anak-anak pelajar generasi muda karena mereka itu yang kurang disentuh dengan berbagai nilai dalam dunia pendidikan yakni nilai-nilai empat konsensus nasional dan itu harus ditanam sehingga mereka paham dan mengerti tentang nasionalisme, semangat cinta tanah air dan NKRI harga mati.

Baca Juga :   Ini Alasan Ketidakhadiran Pemda Belu dalam Pembukaan Sidang III DPRD Belu

Peran Pers dalam memperkokoh semangat nasionalisme dan wawasan kebangsaan masyarakat perbatasan Belu jelas Fredrikus, akan terus memberikan kontrol sosial untuk menginformasikan seluruh perkembangan pembangunan di rai Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Selama ini orang masih melihat pers dengan sebagai masalah, karena telinga mereka masih merah dan tipis ketika dikritik, bahkan pula ada yang memilih untuk menjauh bahkan menghindar dari pers karena takut diobok-obok.

“Pers itu sejatinya pembawa harapan, penyambung bagi yang tidak kesampaian dan penghubung bagi yang terputus. Karena itu saya ajak kita semua masri jadikan pers sebagai sahabat di tanah sahabat, bukan sebagai musuh yang harus dimusuhi atau dijauhi ,” pinta dia.. (yan)

Pages: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top