EKONOMI

Warga Tiga Dusun Tolak Pembangunan PT. Semen Indonesia Kupang

OELAMASI, Kilastimor.com-Masyarakat dari 3 dusun, Desa Oematnunu, kecamatan Kupang Barat menolak PT. Semen indonesia Kupang berada di wilayahnya.

Penolakan ini terjadi karena kurang lebih 800-900 hektar lahan pertanian dan peternakan warga dianggap disabotase dan akan dijadikan sebagai pertambangan bahan baku PT. Semen Indonesia Kupang. Penolakan ini disampaikan warga kepada kilastimor.com di Dusun Boneana, Desa Oematnunu, Kecamatan Kupang Barat, pada Minggu (23/4) kemarin.

Warga ketika menyampaikan penolakan PT. Semen Indonesia Kupang.

Warga ketika menyampaikan penolakan PT. Semen Indonesia Kupang.

Goris Tilhelong, dalam pertemuan tersebut, mewakili warga yang hadir mengatakan bahwa, penolakan ini terjadi karena sebagian besar lahan pertanian dan peternakan warga tiga dusun tersebut, juga masuk dalam kawasan pertambangan PT. Semen Indonesia Kupang.

Menurut Goris, dirinya bersama masyarakat setempat mengetahui bahwa, beberapa waktu yang lalu, pihak PT. Semen telah melakukan pengukuran lahan untuk kawasan pertambangan. Dimana pada saat pengukuran itu hanya melibatkan beberapa warga di luar pemilik tanah atau tuan tanah dari tiga dusun tersebut.

“Kami sangat menyayangkan karena pihak PT Semen Indonesia Kupang seolah-olah melakukan Sabotase lahan kami. Dimana beberapa waktu yang lalu pihak PT. Semen Indonesia Kupang bersama warga yang bukan dari wilayah kami, kemudian kami tahu mereka tidak punya tanah yang luas, tetapi mereka mengukur lahan seluas kurang lebih 900 ha, untuk kawasan pertambangan PT. Semen Indonesia Kupang,” jelas Goris.

Baca Juga :   Teko Dinas PU Malaka Ditemukan Tewas Dikamar. Ini Hasil Visumnya

Jermias Fina, Tobias Manggi, dan Dominggus Tui, tiga warga yang juga kepala marga dan pemilik lahan dikawasan tersebut, pada kesempatan ini dengan tegas juga menolak PT. Semen Indonesia Kupang. Dimana ketiga tokoh ini, mengaku memiliki lahan lebih luas dikawasan tersebut.

Mereka menolak karena alasan, jika pertambangan tersebut beroperasi, maka mereka akan terancam kehilangan lahan mereka. Selain itu menurut mereka, anak cucu mereka yang akan jadi korban, karena kehilangan tempat tinggal, kesehatan mereka akan terganggu akibat polusi dari pabrik, juga kehilangan lahan pertanian dan peternakan bagi keberlanjutan kehidupan mereka sebagai petani dan peternak.

Ketiga tokoh ini sangat menyayangkan sikap pemerintah, yang seolah-olah tidak mempedulikan persoalan ini. Untuk kepala desa sendiri, menurut mereka secara sepihak membangun komunikasi dengan pihak PT. Semen Indonesia Kupang.

Pemerintah provinsi dan kabupaten sendiri, dianggap seolah-olah menjadi apatis, dan dianggap telah menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada pihak PT. Semen Indonesia Kupang. Untuk itu, ketiga tokoh ini, dengan tegas, menolak dan bersi keras tidak akan menghibahkan tanahnya untuk PT. Semen Indonesia Kupang.

“Pemerintah desa, pemerintah kabupaten dab provinsi, sejak tahun 2015 PT. Semen Indonesia Kupang ini dibangun, dan hingga saat ini tidak pernah datang. Hanya pihak PT. Semen Indonesia Kupang saja yang datang, tetapi itu juga hanya di kepala desa dan tuan tanah yang lain, yang kami tahu lahan mereka hanya beberapa hektar saja,” jelas ketiga tokoh ini.
Selanjutnya, ketiga tokoh ini berharap, ada tanggapan dari pemerintah agar persoalan ini tidak meluas. Bahkan hingga terjadi sengketa yang menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga :   Bupati Belu Bersama Danrem 161/WS Buka TMMD di Lasiolat

Untuk diketahui bahwa, kawasan pertambangan PT. Semen Indonesia Kupang meliputi 3 desa di kecamatan Kupang Barat, yakni Desa Konhium, Desa Oematnunu, dan Desa Oenaek. Penambangan yang dilakukan PT. Semen Indonesia Kupang, di tiga desa ini, sebagian besar untuk kebutuhan tanah kapur. (qrs)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top