RAGAM

Buktikan Undana Dukung Anti Korupsi, Rektor Janji Tindak Dosen Nakal

KUPANG, Kilastimor.com-Sebagai bukti dari dukungan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Prof. Ir Fredrik L Benu.,M.Si,. Ph.D terhadap anti korupsi di Indonesia, dirinya berjanji untuk menindak jika ada dosen yang nakal atau terlibat dalam praktik korupsi. Hal ini menurutnya sebagai bagian dari memberikan pembelajaran mulai dari dalam kampus.

Rektor Undana beri sambutan.

Rektor Undana beri sambutan.

Rektor yang akrab disapa Fred Benu ini, dengan tegas, berjanji akan tindak dosen yang nakal dalam kampus Undana. Hal ini disampaikan Fred Benu dalam sambutannya, pada Selasa, (23/5) pagi, di Aula Rektorat Undana, dalam kegiatan Seminar Nasional yang bertajuk Peran Mahasiswa Dalam Pemberantasan Korupsi.

Lebih lanjut, Fred mengatakan, sebelum mahasiswa terlibat dalam pemberantasan korupsi, kampus harus terlebih dahulu memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang Korupsi dan tanamkan budaya anti korupsi. Dirinya mencontoh, dalam berbagai kasus di Indonesia, ada begitu banyak pejabat yang pintar dan paham tentang korupsi. Tetapi, justru semakin pahamnya mereka, tidak menutup kemungkinan mereka tetap melakukan tindak korupsi. Untuk itu, Fred pada kesempatan ini, menuntut mahasiswa untuk membangun budaya anti korupsi dalam lingkungan kampus Undana.

Terkait budaya pemberantasan korupsi, Fred mengatakan bahwa, budaya pemberantasan korupsi, minimal sudah dilakukan, jauh sebelum, seorang anak berada di keluarga dan menjalani pendidikan sejak dini. Hal ini menurut Fred, lebih menekankan kepada perilaku. Dimana menurutnya, perilaku yang baik, dapat meminimalisir upaya korupsi dalam diri seseorang.

Baca Juga :   Persab Belu Favorit Juara El Tari Memorial Cup 2017. Ini Hasil Drawingnya

Fred pada kesempatan ini mengisahkan bahwa, dirinya pernah mendapatkan laporan dari Ombudsman, terkait pengaduan mahasiswa. Dimana ada mahasiswa melapor karena, ada dosen yang mempersulit mahasiswa pada saat melakukan yudisum. Lebih lanjut dirinya mengisahkan, mahasiswa mengadu ke Ombudsman bahwa, kadang dosen menuntut untuk di loket-loket pengurusan administrasi di kampus.

Terkait hal ini Fred menegaskan, bahwa ini hal jual beli map di loket juga merupakan praktik korupsi. Sehingga apabila mahasiswa menemukan hal-hal demikian, maka langsung saja melapor ke rektor.

“Kalau ada praktik-praktik yang demikian, maka segera laporkan kepada saya. Saya janji akan tindak tegas dosen-dosen atau pegawai yang nakal seperti itu. Jika budaya anti korupsi itu kita bangun dari sekarang di kampus, saya yakin hal demikian melatih mahasiswa untuk berperan dalam upaya pemberantasan korupsi,” tegas Fred.

Lebih lanjut dirinya juga mencontoh, bahwa beberapa tahun yang lalu, ada orang tua mahasiswa yang mengadu tentang dosen yang meminta uang sebanyak 37.000.000, kepada calon mahasiswa kedokteran. Tujuan dari uang tersebut adalah untuk memuluskan mahasiswa tersebut masuk ke fakultas kedokteran.

Fred mengaku, saat itu, setelah mendapatkan laporan, dan dirinya sempat memanggil dosen tersebut, kemudian dosen tersebut diberhentikan sebagai dosen di Undana. Hal ini menurutnya, sebagai langkah untuk memberantas korupsi, dimulai dari kampus. Dirinya menambahkan bahwa, kadang dirinya mendapat laporan juga bahwa ada dosen yang memanfaat kan jasa mahasiswa, agar yudisium nilainya bagus. Bagi Fred, ini juga merupakan praktik korupsi yang terselubung.

Baca Juga :   Paket Venna Ikuti Proses Diinternal Partai

“Kita akan didik mahasiswa untuk terlibat dalam pemberantasan korupsi. Jadi, jika ada dosen yang nakal, saya akan tindak tegas,” tandas Fred.
Masih terkait praktik pemberantasan korupsi di kampus Undana, dirinya selalu terbuka untuk diaudit oleh lembaga audit yang berkompeten. Dirinya mengakui, sebelum pemerintahan sekarang, audit hanya dilakukan inspektorat. Tetapi untuk saat ini, ada lima instrumen yang melakukan audit di undana. Selain inspektorat, menurut Fred, BPKP, BPK dan intrumen atau lembaga yang lain.

Alfred juga mengakui, kadang ada kesalahan dan temuan, hal ini diakui bahwa ada banyak aturan yang kadang tumpang tindih, sehingga, kadang instrumen yang satu ketika melakukan audit, akan bertentangan dengan instrumen yang lain. Walaupun demikian, menurut Fred, dipandang baik, karena sebagai upaya untuk pemberantasan korupsi.

Mengakhiri sambutannya, Fred mengajak mahasiswa untuk sama-sama membangun pemahaman dan budaya anti korupsi. Dirinya berharap, setiap tahun, mahasiswa melakukan berbagai bedah kasus korupsi, agar mahasiswa semakin paham tentang korupsi dan bagaiamana menanganinya. (qrs)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top