HUKUM & KRIMINAL

NM Diduga Rengut Kegadisan Mawar yang Belum Genap 5 Tahun di Hutan Wekatimun

ATAMBUA, Kilastimor.com-Mentari bersinar cerah siang itu (22/6) di langit Atambua. Ada seorang ibu turun dari ojek dan mendatangiku yang sedari tadi duduk di teras rumah sembari menikmati sebatang kretek yang baru saja dinyalakan. Dari kejauhan iya tersenyum kepadaku. Namun, ketika aku mempersilahkannya duduk, ibu itu langsung menundukan kepala sembari meneteskan air mata. Putrinya, sebut saja Mawar yang berumur belum genap 5 tahun baru saja direngut mahkota kegadisannya oleh NM (16), salah seorang anak tetangga. Hati sang ibu sedang dilanda mendung yang dhasyat.

Ilustrasi

Ilustrasi

“Kaka tolong saya dulu. Selasa (20/6) itu, saya punya anak Mawar diduga diperkosa oleh NM. Kami sudah visum di RSUD Atambua dan langsung dilaporkan ke polisi. Kami juga sudah diambil keterangan oleh polisi (Polres Belu, red) Rabu (21/6). Tapi samapai sekarang polisi belum ambil pelaku,” ujar OT, ibu Mawar dengan suara tersendat-sendat seakan tak dapat menahan sedih yang dialaminya. “Kasian saya punya anak e… kaka”, lanjutnya.

Tanpa banyak berpikir lagi, saya langsung bersiap diri dan mengajak Sang ibu pergi ke rumahnya untuk melihat lokasi kejadian dan menanyakan para saksi lain. Sang ibu lebih banyak terdiam di jalan. Hanya sesekali mengeluarkan suaranya untuk menunjukan arah jalan menuju rumahnya di Wekatimun, Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu.

Sesampai di rumahnya, saya sudah ditunggui oleh sanak keluarganya. Saya tidak langsung mulai dengan wawancara. Saya hanya ingin membuka percakapan kami dengan beberapa cerita lucu hanya untuk mencairkan suasa. Sementara asyik bercerita, datang seorang warga memberitahukan kalau pihak kepolisian Polres Belu sudah datang untuk mengambil
sang pelaku.

Saya langsung mengikuti para polisi pergi ke rumah NM yang berada persis di belakang rumahnya Mawar. Di rumah korban, polisi tak banyak berbicara polisi hanya datang mengambil pelaku untuk dimitai keterangan di Kantor Polisi. Setelah polisi pergi bersama pelaku dan kedua orang tuanya, saya pun kembali ke rumah Mawar untuk menanyakan beberapa hal guna mengetahui kronologis kejadiannya.

Baca Juga :   Bulog akan Serap Gabah dan Beras Petani Belu dan Malaka

Dia menceritakan, Selasa (20/6), Sang ibu yang sakit mengajak Mawar untuk tidur siang. Mawar yang penurut mengikuti ajakan sang ibu. Tapi, namanya anak-anak, ia lebih suka bermain ketimbang tidur siang. Melihat sang ibu yang tertidur, Mawar lantas menyusup pelan-pelan keluar lewat pintu depan rumah lalu pergi ke rumah pelaku untuk bermain bersama adik pelaku yang umurnya sebaya.

Sementara asyik bermain, pelaku NM mengajak untuk pergi ke hutan yang berada tak jauh dari tempat tinggal mereka untk memetik asam. Mawar pun tertarik dengan ajakan itu. NM memegang tangan korban berjalan keluar rumah menuju ke hutan. Beberapa saat kemudian mereka sampai ke sebuah pohon asam yang berada di hutan. Di sanalah diduga NM mulai melakukan aksi bejatnya, karena tak ada orang lain selain mereka berdua.

Kira-kira pukul 15.00, OT tersadar dari tidurnya. Melihat Mawar yang tak ada di sampingnya, OT mulai memanggil putrinya itu. Karena tak ada jawaban dari sang putri, OT pun mulai kesal. Ia berteriak keras memanggil putrinya beberapa kali, tapi tetap tak ada jawaban. OT yang kesal semakin keras berteriak memanggil nama putrinya.

Beberapa saat kemudia, Mawar bersama NM muncul dari dalam hutan. OT tidak curiga, hanya saja ia kesal. Ketika putrinya datang ia langsung bertanya dengan nada kesal kepada putrinya, “Kaka dari mana?”. Mawar pun menjawab ibunya dengan santai kalau ia baru saja mengambil asam di tengah hutan. Mendengar jawaban putrinya, OT pun lalu mengajak Mawar untuk pergi ke rumah tetangga.

Di sana, Mawar bermain seperti biasa. Tapi, tiba-tiba Mawar menangis kesakitan sembari memegang alat vitalnya. Ketika ditanyai oleh sang ibu, Mawar yang polos pun menceritakan apa yang telah dialaminya di hutan. Sang ibu yang malu dengan tetangga lalu mengalihkan perhatian tetangganya dengan bercerita hal lain. Walau telah berusaha mengalihkan perhatian para tetangga, tapi hati sang ibu terus dilanda kecemasan. Ia pun mengajak putrinya pulang.

Baca Juga :   Pemkab Malaka Dapat Opini Disclaimer dari BPK Perwakilan NTT

Sampai di rumah, karena sibuk dengan pekerjaan rumah, ia pun lupa akan apa yang tadi diceritakan oleh putrinya. Saat itu, korban di rumah sudah tak seperti biasanya, ia semakin nakal, ia semakin liar, ia tak lagi penurut. Beberapa kali ia harus ditegur oleh ibunya, tapi ia tak menurut. Sampai-sampai Sang ibu terpaksa memukul Mawar karena kenakalannya. Mungkin hati kecil Mawar sedang berontak karena mahkota kegadisannya sudah direbut.

“Mawar waktu itu tidak seperti biasanya. Dia nakal sekali sampai terpaksa saya harus pukul dia,” kenang OT.

Mendengar korban yang menangis, tantanya EBM yang tinggal bersama mereka membujuk Mawar mandi. Waktu itu kira-kira pukul 17.00 EBM memandikan korban. Ketika menggosok sabun di tubuh korban, Mawar merintih kesakitan sembari memegang kemaluannya. EBM penasaran lalu bertanya kepadanya, “Ada apa kaka?” Mawar yang polos pun tak menutupi apa yang telah dialaminya. Ia menceritakan semua yang dialaminya sewaktu di hutan bersama NM. Mendengar cerita itu, EBM yang merupakan seorang bidan di RSUD Atambua langsung mengajak Mawar masuk ke kamar. Di sana ia coba memeriksan sakit yang dikeluhkan Mawar.

“Saya kaget ketika melihat ada memar di alat vital Mawar. Saya di rumah sakit biasa melakukan visum bagi para korban pelecehan seksual. Saya kaget ketika melihat apa yang dialami korban sama persis dengan kasus-kasus lain yang pernah saya tangani,” ujarnya.

Karena itu, EBM membujuk Mawar untuk pergi ke RSUD Atambua untuk memeriksakannya ke dokter. Kumbang yang awalnya tidak mau karena takut akan jarum suntik, akhirnya luluh dengan bujukan tantanya. Sang ibu yang sebelumnya telah mendapatkan penjelasan dari EBM pun hanya bisa menurut.

Baca Juga :   TMMD 2018 di Malaka Sangat Memuaskan

Kira-kira pukul 17.30 mereka tiba di RSUD Atambua dan langsung melakukan visum ke dokter yang bertugas. Dari hasil visum dokter menyatakan Mawar telah mengalami pelecehan seksual. Karena itu, dokter menyarankan untuk langsung melaporkannya ke kantor polisi. Tak ingin mengambil langkah sendiri, EBM pun menghubungi ayah Mawar, RFBK via telepon seluler untuk segera datang ke RSUD Atambua.

EBM hanya memberitahukan kepada RFBK kalau Mawar sedang berada di RSUD Atambua, karena itu, segera datang.

Sewaktu tiba di RSUD Atambua, RFBK langsung bertanya kepada EBM apa yang dialami anaknya. Namun, EBM tak ingin menjawab dan menyuruh RFBK untk langsung bretanya kepada dokter. Tak puas dengan jawaban itu, RFBK langsung masuk ke dalam ruangan visum dan bertanya kepada anaknya, “Kaka kenapa, kaka sakit ka? Siapa yang buat kaka? Mari bisik di bapa pun (punya, red.) telinga”, ujarnya sembari memegang pipi anaknya dengan kedua tangannya. Mawar tak menjawab sepatah kata pun.

Karena tak mendapat jawaban, RFBK langsung keluar. Hatinya berkecamuk. Apa yang sebenarnya terjadi dengan anaknya? Ia baru mendapat jawaban setelah selesai melakukan visum.

“Waktu saya tahu, saya langsung menangis. Saya rasa tidak kuat untuk berdiri”, kenangnya dengan mata berkaca-kaca sembari meramas kepalanya dengan kedua telapak tangan.

Apa yang di alami Mawar sebenarnya bisa tidak terjadi jika kedua orang tuanya mengikuti naluri putrinya. Pada hari sebelum kejadian (19/6), paman Mawar datang ke rumahnya. Saat hendak pulang, Mawar menangis sejadinya karena hanya ingin pergi ke kampung untuk berlibur ke rumah kakek dan neneknya. Hanya saja keinginan itu tidak dituruti oleh kedua orang tuanya.

Kapolres AKBP Yandri Irsan yang di temui di kantornya mengatakan, kasus ini masih didalami oleh anggotanya. “Pelaku akan tetap dihukum jika terbukti bersalah. Kita tidak akan main-main dengan hukum”, tegas AKBP Yandri. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top