HUKUM & KRIMINAL

Dua Terdakwa Kasus Dugaan Korupsi Rp 43 Miliar Dituntut Berbeda oleh JPU

KUPANG, Kilastimor.com-Paulus Yulianto dan Darius Admaja terdakwa kasus dugaan korupsi pembangunan dermaga di Bakalang, Kabupaten Alor dan Pamakayo, Flores Timur tahun 2014 senilai Rp 43, kembali dihadirkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang, Kamis (20/7) untuk jalani sidang lanjutan.

Kedua terdakwa dihadirkan untuk mendengarkan tuntutan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejati NTT, Hendrik Tiip. Kedua terdakwa dalam persidangan didampingi kuasa hukumnya, George Nakmofa.

JPU Kejati NTT, Hendrik Tiip dalam amar tuntutannya menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dengan cara melawan hukum dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi dengan merugikan keuangan negara.

Menurut JPU, perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diatur dan diancam dalam pasal 3 jo pasal 18 UU Nomor 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan UU 20/2001 tentang perubahan atas UU 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP.

“Setelah memeriksa saksi-saksi dan mendengarkan keterangan ahli serta ahli, terdakwa dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Untuk Darius Atmaja dituntut selama 1,6 tahun penjara sedangkan Paulus Yulianto dituntut selama 1,8 tahun penjara, ” kata JPU.

Selain pidana badan selama 1,6 dan 1,8 tahun penjara, lanjut JPU, terdakwa diwajibkan membayar denda sebesar Rp 50 juta. Dengan catatan, jika terdakwa tidak membayar denda tersebut setelah putusan hakim berkekuatan hukum tetap maka akan diganti dengan 3 bulan kurungan.

Baca Juga :   SBS: ASN dan Teko Harus Jalankan Tanggung Jawab dengan Baik

“Jika terdakwa tidak membayar denda sebesar Rp 50 juta maka akan diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan,” tegas JPU Kejati NTT, Hendrik Tiip.

Usai membacakan tuntutan oleh JPU, Ketua majelis hakim Edy Purwono didampingi hakim anggota Paula Fransiska Nino dan Gustaf Marpaung langsung menunda persidangan hingga pekan depan, dengan agenda pembacaan pledoi (nota pembelaan) oleh kuasa hukum terdakwa. (crh)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top