RAGAM

Esthon Foenay Unjuk Kebolehan Menari Foti di Desa Pukdale, Kabupaten Kupang

OELAMASI, Kilastimor.com-Sebagai bagian dari kecintaan terhadap adat istiadat dan budaya suku Rote, Esthon Foenay menunjukan kebolehannya menari Foti.
Mantan Wagub NTT itu, begitu energik dan cepat menggerakan kedua kakinya, seiring dengan bunyi gong yang dimainkan.

Tak pelak, gerakannya diiringi oleh tepuk tangan dan sorak warga yang menyaksikan tariannya. Decak kagum pun keluar dari mulut, warga suku Rote yang menyaksikannya.
Kepiawaian Esthon Fonay menari foti ini, diperlihatkan ketika bersama Yayasan Gerakan Peduli Sosial (YGPS), mengunjungi Desa Pukdale, kecamatan Kupang Timur, pada Minggu (16/7).

Terkait tarian foti, Esthon mengatakan, mungkin banyak orang heran, karena dirinya bukan berasal dari suku Rote, tetapi mampu menari foti. Esthon menjelaskan, hal ini dilakukan karena kecintaannya terhadap adat istiadat dan budaya di NTT.

Dikatakan, NTT memiliki keragaman adat istiadat, budaya yang perlu dilestarikan. Sehingga walaupun dirinya berasal dari suku Timor, tetapi harus bisa mempalajari adat istiadat dari suku yang lain.

“NTT adalah provinsi yang kaya akan keberagaman suku, bahasa, budaya dan adat istiadat. Kita harus tunjukan kecintaan kita kepada kekayaan budaya tersebut. Kita harus lestarikan dengan mewariskan kepada anak cucu, agar budaya kita jangan hilang,” ungkap Esthon.

Selain itu, dirinya menjelaskan, kemampuannya menari foti, adalah bagian dari kecintaannya terhadap budaya suku Rote. Hal tersebut sebagai bagian dari kebanggaan dirinya yang terlahir dari rahim seorang ibu yang berasal dari suku Rote.

Baca Juga :   Dua Penyanyi TTU Juara Bintang Radio LPP RRI Atambua

“Sebagai anak yang terlahir dari rahim seorang ibu dengan suku Rote, saya harus tahu. Seperti suku yang lain di NTT, suku Rote memiliki kekayaan budaya Rote yang khas. Untuk itu tidak salah, saya harus menunjukan kebanggaan saya, melalui salah satu tarian yang saya tunjukan yakni tarian Foti. Ibu saya dari Suku Rote dan ayah saya dari suku Timor, maka budaya serta adat Rote dan Timor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan saya,” katanya.

Tarian foti jelas dia, mengandalkan kecepatan gerakan atau hentakan kaki. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan dan biasa dilakukan oleh pria. Tarian ini juga bisa dibawakan oleh wanita, tetapi syaratnya adalah harus mampu menggerakan kaki dengan cepat. Tari Foti biasanya diiringi dengan ritme musik tradisional, yakni permainan Gong yang sangat cepat.

Esthon berharap, kecintaan terhadap berbagai budaya dan adat istiadat di NTT, dapat menunjukan kekayaan yang ada ditengah masyarakat. Dan, upaya pelestarian budaya, dapat menepis berbagai tawaran budaya dari luar yang berusaha menggeser budaya yang dimiliki masyarakat. (qrs)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top