RAGAM

Wabup Belu Resmikan Rumah Adat Suku Wagu

ATAMBUA, Kilastimor.com-Wakil Bupati Belu, J.T. Ose Luan bersama Loro Lamaknen Ignasius Kali mengikuti acara pengresmian Rumah Adat Suku Wagu di kelurahan Fatubanao, Kec. Kita Atambua, Kabupaten belu pada, Jumat (14/7).
Acara ini dibuka dengan penyambutan Wakil Bupati dan Loro Lamaknen Ignasius Kali yang mewakili tokoh adat.

Pantauan media ini, acara Pengresmian Rumah Adat Suku Wagu yang dimulai pada pukul 11.10 ini dihadiri pula oleh Kabag Protokol dan Komunikasi Publik, Danramil 1605-01/Kota, Camat Atambua Selatan, Camat Kota Atambua, dan Lurah Fatubanao. Selain itu hadir pula para tokoh adat, Anggota Suku Wagu, dan masyarakat.

Setelah acara penyambuatan, dilanjutkan dengan acara Molo Pulok atau pemberian sirih-pinang kepada para tamu. Pemberian sirih-pinang kepada tamu ini merupakan sebuah kebiasaan tradisional Masyarakat Belu dalam menyambut tamu sebelum adanya kebiasaan modern seperti pemberian kopi atau teh kepada para tamu yang bertamu ke rumah.

Acara selanjutnya adalah tarian likurai untuk menyambut para tamu. Acara tarian likurai ini dibawakan oleh masyarakat dari Kecamatan Atambua Selatan.

Setelah tarian likurai yang dibawakan oleh Masyarakat Kec. Atambua Selatan, acara dilanjutkan dengan pemasangan bubungan rumah adat dan Bai’a Si Kali yang merupakan acara inti dari pengresmian rumah adat.

Bai’a Si Kali itu sendiri artinya pemberian makanan kepada para arwah nenek moyang. Bai’a Si Kali merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur dan juga rumah adat yang baru dibangun. Dengan melakukan Bai’a Si Kali, dipercaya para anggota suku mendapat perlindungan dan berkat dari para leluhur.

Baca Juga :   Dana Pengamanan Pilkada Malaka Rp 1,678 Miliar

Setelah Bai’a Si Kali selesai, Wakil Bupati Belu Ose Luan diminta untuk menabuh gong sebagai tanda rumah adat telah diresmikan. Untuk penghargaan kepada Ose Luan, maka anggota suku menobatkan Ose Luan dan Loro Lamaknen sebagai Tara Malu Hasai atau sesepuh adat dari Suku Wagu. Direncankan, prosesi acara pengresmian Rumah Adat Suku Wagu baru akan selesai pada, Minggu (16/7).

Andreas Bere Asa mewakili anggota suku memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Andreas yang saat ini menjabat sebagai Camat Atambua Selatan mengatakan Suku Wagu berasal dari salah satu daerah di Timor Leste. Pada Tahun 1949-an, ketika terjadi perang melawan tentara Portugis, para anggota suku pergieninggalkan kampung halamannya untuk bertahan hidup. Saat itu, mereka bereksodus ke wilayah Timor Barat, khusunya Kabupaten Belu.

Ada satu hal yang menarik dari Suku Wagu, saat melakukan eksodus. Dikatakan bahwa sebelum eksodus itu dilakukan, mereka sudah memiliki Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang di simpan rapi di dalam rymah adat. Karena itu, tak mengherankan jika, anggota sukunya hingga saat ini memiliki jiwa patriotis yang besar.

Ose Luan, selaku perwakilan pemerintah dalam sambutannya menegaskan tentang indahnya keberagaman yang ada di Indonesia. Baginya, ada banyak sekali suku yang berada di Indoneaia, namun para pemuda dalam sumpahnya (Sumpah Pemuda: 1908) mengatakan Satu Bangsa, Bangsa Indonesia. Semua suku saat itu disatukan dalam satu bangsa tanpa menyepelekan adanya keberagaman yang ada.

Baca Juga :   Harga Bongkahan Batu Bacan Masih Mencapai Rp 150 Juta

Hal ini dikatakan ditegaskan oleh Ose Luan karena ada banyak sekali konflik yang terjadi saat ini. Konflik ini dikarenakan sekelompok kaum yang menolak adanya keberagaman. Ose Luan Berharap kepada semua Anggota Suku Wagu dan semua Masyarakat Belu agar menghargai keberbedaan itu dan memandangnya sebagai sebuah keindahan dan kekuatan yang luar biasa. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top