RAGAM

Akibat Pembangunan Jalan Sabuk Merah, Dua Dusun di Desa Takirin Kekurangan Air Bersih

Tampak leding air mengering akibat kerusakan pipa.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Akibat pembangunan jalan sabuk merah, dua dusun di Desa Takirin, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu mengalami kesulitan air bersih. Hal ini dikeluhkan oleh sebagian besar warga Dusun Lo’okeu dan Dusun Baliu, Rabu (30/8).

Jalan sabuk merah dibuat melalui dusun-dusun di Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor-Leste. Pembangunan jalan yang sangat diharapkan warga Desa Takirin ini dikerjakan oleh PT. Nafiri.

Akan tetapi, pengerjaan jalan ini tidak hanya menguntungkan masyarakat saja, tapi juga merugikan masyarakat di sisi lainnya. Hal ini dikarenakan, penggusuran jalan untuk pelebaran jalan merusak banyak sekali pipa air. Padahal, pipa air yang rusak itu merupakan pipa utama yang menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Akibatnya, masyarakat mengalami kesulitan air bersih untuk dikonsumsi bahkan untuk mandi sejak pengerjaan jalan ini dimulai.

Dari pantauan media, masyarakat terpaksa harus mengambil air yang jauh dari rumah kediaman mereka. Bahkan untuk mandi pun, masyarakat harus mandi di tempat-tempat terbuka.

Alo Suri (31), salah seorang warga Dusun Lo’okeu menjelaskan bahwa banyak pipa yang patah akibat pengerjaan jalan tersebut. Akibatnya air yang dulunya mengalir deras, kini tak mampu lagi mengalir dengan baik. Banyak pipa yang dulu di tempatkan di rumah-rumah warga hampir tak berfungsi lagi.

Lusia Aluk (67) mengatakan, air sekarang tak selancar dulu. Sekarang, dengan kondisi tangan si janda yang pernah patah beberapa tahun silam itu, ia terpaksa harus menimba air sendiri.

Baca Juga :   Bulog: Kreasi Tiada Henti

Lusia berharap, pemerintah desa segera memberi tahu kepada pihak kontraktor agar segera memperbaiki pipa yang telah dirusak oleh pihak kontraktor.

“Saya ini orang kecil, tidak bisa buat apa-apa. Saya hanya minta bapak desa supaya bisa bicara ke orang-orang yang kerja jalan untuk perbaiki pipa biar saya tidak perlu ambil air terlalu jauh,” keluh Lusia.

Kepala Desa Takirin, Yosep Nahak mengatakan dirinya sudah berkali-kali memberitahukan kepada pihak kontraktor agar memperbaiki pipa yang rusak. Akan tetapi, sampai saat ini, pihak kontraktor tidak menggubris permintaannya.

Pembangunan jalan sabuk merah yang diprogramkan oleh Presiden Jokowi bertujuan untuk mensejahterakan hidup masyarakat yang berada di tapal batas. Bila ternyata melalui pembangunan itu, sang kontraktor membuat bencana lain bagi masyarakat, maka perlu ada ketegasan dari pemerintah desa dan juga pemerintah daerah kepada sang kontraktor. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top