RAGAM

Anggota MPR RI, Paul Liyanto: Mata Pelajaran PMP Wajib Ada, Demi Pembentukan Karakter Anak Bangsa

KUPANG, Kilastimor.com-MPR RI secara kontinyu terus melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR RI tentang Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Salah satunya dilakukan oleh anggota MPR RI, Abraham Paul Liyanto.
Jumat (21/7) lalu, Paul Liyanto sapaan karib anggota MPR RI itu, menggelar sosialisasi empat pilar di Aula SDN 1 Lewoleba, Lembata.
Hadir dalam sosialisasi itu antara lain, Pengurus PGRI Lembata, sejumlah kepala sekolah, pengawas sekolah dan para guru yang tergabung dalam wadah PGRI Lembata. Total peserta yang hadir sebanyak 115 orang.
Sosialisasi tersebut dibuka oleh Ketua PGRI Kabupaten Lembata, Joakim Nuba Baran, sekaligus sebagai moderator.

Abraham Liyanto pada kesempatan itu menyampaikan materi tentang sosialisasi 4 Pilar MPR RI serta informasi lainnya tentang DPD RI, serta tugas dan kewenangan serta berbagai regulasi yang sudah diinisiasi oleh DPD RI.

Paul Liyanto menjelaskan, sebagai anggota DPD RI yang juga anggota MPR RI, terus melakukan sosialisasi terkait dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika yang merupakan empat pilar MPR RI.

Sosialisasi penting dilakukan, ditengah rongrongan terhadap dasar atau ideologi negara, maupun upaya membentuk negara dengan bentuk dan paham lain. Pancasila paparnya, menjadi dasar negara yang final. “Bangsa ini sudah membuat konsensus soal dasar negara. Jadi Pancasila tidak bias diganti,” tegasnya.

UUD 1945 bilang dia juga menjadi sumber dari segala sumber hokum. Karena hingga kini tetap relvan, dan tetap dipertahankan sampai kapan pun. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia juga tidak bisa diganti dengan bentuk negara federal maupun lainnya. Dan Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan perekat anak bangsa, yang datang dari berbagai daerah, suku, ras, agama dan golongan.

Baca Juga :   Bupati Malaka Tinjau Lahan Bawang dan Tanggul di Benenain

Empat pilar MPR RI sudah melalui kajadian yang matang, sehingga menjadi salah satu program prioritas yang penting disosialisasikan.

Paul Liyanto ketika ditanyai tentang apakah mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) bias dimasukan dalam kurikulum menggantikan PPKN, dia sangat menyetujuinya, dan akan diupayakan dengan lembaga terkait. Sebab dengan mata pelajaran PMP dapat membentuk karakter bangsa yang lebih utuh. “Untuk PMP sangat bagus dan wajib ada. Kita akan upayakan dan beri masukkan kepada Kemendikbud dan Kemenristekdikti untuk masukan dalam kurikulam. Kita ganti dengan mata pelajaran PPKN,” katanya.

Pada bagian akhir, dia meminta para guru melalui PGRI Lembata, untuk terus menjaga dan member pemahaman yang benar tentang kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, terutama empat pilar MPR RI masing-masing Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. (fed)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top