HUKUM & KRIMINAL

Dukung KPK Berantas Korupsi di Indonesia, IFGF Gelar Deklarasi Anti Korupsi

IFGF deklarasi Anti korupsi bersama KPK.

JAKARTA, Kilastimor.com-International Full Gospel Fellowship (IFGF) atau Gereja Injil Sepenuh Internasional (GISI) turut mendukung anti korupsi di Indonesia. IFGF Conference 2017 menggelar Deklarasi Anti Korupsi. Deklarasi ini digelar di Balai Sarbini, yakni dalam salah satu session dialog dari IFGF Conference 2017, pada Jumat (4/8).

Dalam deklarasi ini, sempat dilakukan dialog yang dimoderatori oleh senior pastor (Ps) IFGF, Ps. Jimmy Untoro. Hadir dalam acara ini, Ketua KPK Ir. Agus Rahardjo.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua KPK Ir. Agus Rahardjo mengatakan bahwa, indeks korupsi di Indonesia saat ini mengalami penurunan. Menurutnya, indeks ini mengalahkan Malaysia, Filipina yang masih diatas Indonesia.

Dikatakan, pencapaian ini merupakan kerja keras dan perjuangan yang luar biasa. Tentunya perjuangan dan kerja keras tersebut karena dukungan dari seluruh rakyat Indonesia. Dimana ada banyak bentuk dukungan, seperti yang dilakukan oleh IFGF.

Dijelaskan, upaya pemberantasan korupsi merupakan upaya untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Sehingga, ketika gereja mendukung KPK, maka gereja terlibat bersama negara dalam upaya persatuan NKRI.

“Saya sangat yakin dan optimis, bangsa akan mencapai sejahtera, apabila kita sama-sama memberantasan korupsi. Karena secara ekonomi, jika tidak ada korupsi, maka uang negara digunakan untuk upaya kesejahteraan masyarakat,” Jelas Agus Rahardjo.

Ketika ditanya oleh Ps. Jimmy Untoro, apakah dirinya tidak takut menjadi ketua KPK. Agus Rahardjo, menanggapi bahwa, kenapa harus takut. Dirinya meminjam salah satu kata temannya, bahwa jika menjadi KPK, tidak mengurangi umur, karena takut atau berani juga tidak mengurangi umur. Sehingga tidak perlu takut.

Baca Juga :   Partai Gelora Nyatakan Dukungan kepada Sahabat. "Duet Willy-Ose Bawa Perubahan Signifikan di Belu"

Dirinya mengapresiasi IFGF yang empati terhadap korupsi. Menurutnya, ini adalah langkah menuju kesejahteraan bersama. Untuk itu, dirinya mendorong kehadiran gereja untuk memberikan pendidikan tentang korupsi dalam persepsi ajaran Kristen. Selain itu, gereja dalam pengelolaan keuangan, harus siap transparan agar bisa bicara ajaran agama agar bisa dibawa ke praktik sehari-hari.
Dirinya mencontoh, pengurus NU, beberapa waktu yang lalu, mengeluarkan fatwa untuk tidak mensolatkan koruptor yang meninggal.

Menurutnya, mungkin dalam ajaran Kristen juga memberikan pendidikan justifikasi rohani yang sesuai dengan ajaran Kristen kepada seorang koruptor. Sehingga menurutnya, hal ini membuktikan bahwa gereja sangat mendukung anti korupsi.
Pada kesempatan ini, Agus Rahardjo mensosialisasikan aplikasi Jaga.

Dijelaskan, aplikasi ini untuk mengetahui setiap sistem pendidikan, perijinan, ekonomi, dan lain-lain sistem keuangan instansi daerah dan pusat di Indonesia.

“Dengan demikian aplikasi ini bisa mengcover APBD, APBN dan semua sistem keuangan di Indonesia. Dan, semua sistem keuangan instansi di Indonesia, akan dipantau langsung oleh KPK dan Masyarakat Indonesia yang memiliki aplikasi tersebut,” jelas Agus Rahardjo.

Dirinya juga menjelaskan bahwa jika pemberantasan korupsi merupakan upaya mensejahterakan masyarakat. Tetapi dikatakan, banyak transaksi swasta yang tidak dapat tersentuh oleh KPK. Dikatakan juga bahwa, KPK selama ini hanya memantau keuangan negara.

“Kalau korupsi di negara lain, suap menyuap antar swasta itu harus dipantau juga. Saya kira kalau ini juga diterapkan di Indonesia, maka akan berdampak baik dalam upaya mensejahterakan masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga :   Dinas Perhubungan Malaka Harus Diperdakan

Diakhir dialog, ketika ditanya Ps. Jimmy Untoro, apa tips yang diberikan kepada sekolah IFGF tentang anti korrupsi. Agus Rahardjo pada kesempatan ini menjelaskan bahwa, KPK saat ini punya banyak kurikulum tentang anti korupsi. Tetapi dirinya mengatakan bahwa, hal yang paling penting adalah bagaimana memberikan teladan bagi anak-anak di sekolah. Dikatakan bahwa saat ini guru telah hilang keteladanan sehari-hari, bagi anak-anak.

“Kalau ingin jadi teladan di sekolah dalam kehidupan sehari-hari, seorang guru mengajarkan kepada anak-anak, mana yang miliknya sendiri, dan mana yang bukan miliknya. Lalu, mana yang anak-anak punya, dan mana yang sekolah punya. Disekolah, masih ada guru jual buku dan modul, itu bukan pelajaran anti korupsi yang baik. Jadi, kompetensi guru juga harus ditingkatkan dalam hal anti korupsi,” jelasnya.

Untuk diketahui bahwa, IFGF Conference 2017 ini di hadiri oleh Gereja IFGF GISI di Indonesia dan beberapa Negara. Hadir pula dalam konferensi ini, tim dari IFGF dari NTT, yakni dari Kota Kupang dan Ende. (qrs)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top