HUKUM & KRIMINAL

Polisi Diduga Kriminalisasi Janda Lima Anak. Ini Kronologisnya.

Inilah Rumah milik Yasinta Bete dan anak-anaknya.

BETUN, Kilastimor.com-Aparat kepolisian Polsek Kobalima dan sejumlah warga Metamauk, Kecamatan Kobalima Timur, diduga mengkriminalisasi janda lima anak, Yasinta Bete tanpa dasar.

Begini kronologisnya. Pada  13 Juli lalu, Yasinta Bete memotong kayu jati miliknya pada tanah yang didiaminya, sekira 30 puluhan pohon. Lokasi kejadian di Mahkota Biru, Desa Alas Selatan, Kecamatan Kobalima Timur.

Yasinta Bete kepada media ini, beberapa waktu di kediamannya  menjelaskan, kayu miliknya yang dipotong, hendak dijual untuk membangun rumahnya, sebab selama ini dirinya dan anak-anak mendiami gubuk reot yang dibangun sebelumnya. Selain itu, uang hadil penjulan kayu untuk membayar utang.

Dikemukakan, saat sedang menyensor kayu, tiba-tiba datang polisi dari Polsek Kobalima dan meminta dihentikan pemotongan kayu. Menurut polisi, dirinya dilaporkan sejumlah pihak yakni Lambert Bau dan Karlus Berek dan Bene Luan.

Dia menjelaskan, dirinya sudah menjelaskan semua kepada polisi, kalau kayu yang dipotong merupakan kayu miliknya dan berada di tanah sendiri. Namun polisi tidak menggubrisnya.

Polisi lalu memasang police line pada seluruh tanahnya, tanpa diketahui dasarnya. Padahal, tidak ada masalah tanah apapun. Tanah itu milik orang tuanya. Setiap tahun pihaknya membayar pajak. “Pajak kita bayar setiap tahun sejak tahun 1991 Silam. Jati ini juga kami yang tanam,” paparnya.

Sebelum menyensor kayu, dirinya pernah meminta surat izin dari Kepala Desa Alas Selatan, Adam Fahik. Akan tetapi, hal itu tidak dikeluarkan tanpa alasan yang jelas. “Karena saya butuh uang untuk bayar utang, juga bangun rumah, ya saya potong. Tidak tahu saya rugikan siapa. Ini tanah saya dan pohon jati milik saya. Ini permainan dan kriminalisasi saya,” bilangnya.

Baca Juga :   Bank NTT Berhasil Menggaet 45 Persen Dana Pihak Ketiga di NTT

Jika ada pihak-pihak yang mengklaim tanahnya, tegas dia, apa buktinya dan dimana putusan hukumnya? Baik secara adat maupun hukum perdata?

Masih menurutnya, dirinya sudah menjalani pemeriksaan di Polsek dan semua sudah dijelaskan secara terang benderang. Dimana letak kesalahan dirinya? Untuk apa garis polisi dipasang diseluruh tanah saya?

Yasinta mengemukakan, jika terus terjadi kriminalisasi terhadap dirinya, dia tidak akan diam dan pastinya akan melakukan perlawan secara hukum. “Saya tidak curi, saya potong kayu di tanah saya. Semua kayu jati saya dan orang tua saya yang tanam,” sergahnya.

Dikemukakan, dirinya janda dengan enam anak. Dia memotong kayu jati untuk dijual, demi membangun rumah, bayar utang dan biayai anak-anak. Dirinya sangat kesulitan menjalani hidup. Karena itu, dia memutuskan untuk memotong kayu jati miliknya. “Saya ini janda. Saya potong kayu saya untuk hidupi keluarga saya. Kenapa saya dibuat seperti ini. Ini jelas tidak adil,” bilangnya miris.

Dia meminta perhatian Kapolda NTT, Kapolres Belu, Bupati  dan DPRD Malaka, terkait kasus ini. Dia meminta keadilan demi hidupnya dan seluruh keluarganya.

Sementara itu, Kapolres Belu, Yandri Irsan yang dihubungi belum merespon konfirmasi wartawan media ini. (fed/richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top