HUKUM & KRIMINAL

Pendeta Emmy: Waspadai Modus Baru Perdagangan Orang di NTT

KUPANG, Kilastimor.com-Persoalan perdagangan orang atau Human Trafficking adalah persoalan bangsa yang tak pernah selesai dan daerah NTT menjadi garda terdepan yang memperlihatkan “prestasi” ini sebagai daerah dengan indeks perdagangan orang tertinggi di Indonesia.

Perdagangan orang yang merupakan persoalan kompleks, masif, terstruktur ini menjadi musuh terbesar bangsa ini khususnya di daerah NTT.

Persolan melawan perdagangan orang yang tidak lain adalah perbudakan modern di era ini adalah tanggung jawab semua orang, baik yang tergabung dalam kelompok-kelompok, Relawan, jaringan kemanusian yang tak kenal lelah tak kenal pagi tak kenal malam, hanya untuk suatu misi kemanusiaan ini maupun meriea yang belum atau tidak bergabung namun punya cara masing masing dalam menghadapi kompleksitas persoalan Human Trafficking.

Adapun kelompok kelompok pejuang kemanusiaan yang ada di anataranya J-RUK Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (J-RUK), Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JEPIT), PIAR NTT, Pemuda Katolik, GMIT, LBH Apik dan masih banyak kelompok lainnya yang terpanggil untuk melawan perdagangan orang. Pasalnya, peradaban masyarakat saat ini memperdagangkan orang bagai memperdagangkan sayur-sayuran di Pasar.

Berbagai Fenomena dapat dilihat, perekrutan secara ilegal masuk dalam lingkaran keluarga, perekrutan terhadap kelompok rentan seperti kaum perempuan dan anak anak yang putus sekolah, dikirim jadi migrasi paksa tanpa dokumen dokumen yang lengkap juga tanpa ketrampilan yang menunjang.

Fenomena lainnya adalah anak-anak di Desa direkrut dengan janji dan iming iming uang yang besar, numpang pesawat gratis dapat Handphone (HP), bisa berfoto selfie di pesawat, bisa ke Luar Negeri dan masih banyak model janji rayu manis termasuk uang siri pinang kepada orang tua yang bersangkutan dengan meyakinkan mereka bahwa belum kerja saja sudah bisa dapat uang apalagi sudah kerja sendiri tentu mendapat uang yang lebih banyak.

Diinformasikan bahwa kisaran uang siri pinang tiga sampai puluhan juta rupiah per kepala atau satu orang rekrutan. Masih banyak fenomena yang terjadi, namun belakangan dua fenomena ini yang terjadi serius bahwa ketika satu PJTKI merekrut calon TKI/TKW yang belum dan/ atau sudah mendapat tempat penempatan yang bayaran atau maharnya tidak memungkinkan mendapat keuntungan maka PJTKI yang bersangkutan menjual kembali rekrutan rekrutan mereka ke PJTKI yang lain, miris bukan?

Baca Juga :   Ini Sembilan Poin Edaran Wali Kota Kupang Terkait Covid-19. Salah Satunya Pesta Ditiadakan

Dan lebih aneh fenomena satu ini, sudah berulang kali orang orang kita di kampung yang direkrut, dikirim dan sesudahnya tidak ada kabar sama sekali, apa yang bisa diperbuat apalagi ketika mendapatkan kabar bahwa yang bersangkutan telah meninggal salah satunya seperti Alm. Yufrinda Selan yang dikirim kembali dengan identitas palsu Melinda Sapay, dikirim jenazahnya dengan tubuh penuh jahitan.

Kuat dugaan bahwa organ organ tubuhhnyaa telah diambil. Diinformasikan bahwa saat ini organ tubuh manusia merupakan barang langkah dan mahal yang menjadi sasaran atau target baru para pedagang manusia.

Melihat berbagai fenomena yang ada, media mencoba mewawancarai salah satu pegiat anti trafficking di NTT, Pendeta Emmy Sahertin, M.Th Ketua BPP Advokasi, Hukum dan Perdamaian pada Sinode GMIT di Kupang.

Pendeta Emmy yang ditemui media di kantor Sinode GMIT ini menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi terkait perdagangan orang. Fenomena terbaru yang membuat hati miris ini adalah perdagangan orang yang bertujuan untuk memperdagangkan organ tubuh manusia.

Selanjutnya Pdt. Emmy mengungkapkan data bahwa hingga tiga tahun terakhir data kematian TKI/ TKW asal NTT semakin meningkat. Pada tahun 2016 sebanyak 54 orang, 2017 sebanyak 64 orang dan 2018 hingga berita ini diturunkan, sudah sebanyak 3 orang TKI TKW yang meninggal dan dikirim kembali.

Pdt. Emmy melanjutkan bahwa dari data yang ada dia melihat ada jenazah yang tubuhnya masih utuh, banyak pula yang tubuhnya penuh bekas jahitan, pertanyaan mengapa tubuh mereka penuh jahitan? Apakah organ organ tubuh yang tak kelihatan masih lengkap,” Ungkap Pdt. Emmy bertanya.

Baca Juga :   Sengketa Pilkada Belu, Hari Ini MK Gelar Sidang Pemeriksaan Pendahuluan

Sebagai pegiat anti trafficking tentu hal ini hal seperti ini menjadi dampak dari peradaban kita di Desa dan kampung kampung yang dengan rela mengirim anak, cucu, adik Kakak menjadi TKI TKW.

Hal ini merupakan pembunuhan peradaban di desa-desa, tidak ada lagi budaya gotong royong, ada perubahan pola pikir anak kirim jadi TKI TKW supaya orang tua disini tiap bulan terima uang dari anak, padahal orang tua tidak tahu apa yang anaknya kerjakan disana. “Kalau laki-laki sudah pasti menjual tenaga, tapi kalau perempuan ada yang mungkin lebih dari menjual tenaga yaitu menjual atau dijual tubuh, inilah dampak yang dapat dilihat dan dirasakan langsung.

Disamping itu, dampak yang tidak kelihatan adalah maraknya atau berkembangnya penyebaran virus HIV/AIDS penyakit yang mematikan itu.

Pdt. Emmy melanjutkan berbagai fenomena yang ada, kejahatan ini terstruktur dan merupakan mata rantai kejahatan yang sulit diputuskan. Dia memberi contoh pada kasus Yufrinda Selan yang meninggal dunia di Malaysia pada tahun 2016.

Dalam peristiwa itu Diana Aman, dan beberapa orang ditangkap dan disidangkan namun sayang satu kejahatan yang diperlihatkan bukti kejahatan terstruktur adalah Diana Aman dialihkan penahanan dari tahanan rumah tahanan negara (Rutan) yang super ketat penjagaan menjadi tahanan kota yang berdasarkan KUHAP tahahan tidak keluar kota dan melapor sesuai jadwal yang ditentukan. Konyolnya Diana Aman terpidana 9 tahun penjara berdasarkan putusan Pengadilan Negeri kelas I Kupang ini tidak tahu keberadaanya mulai dialihkan status tahanannya hingga saat ini.

Pdt. Emmy bersama rekan rekan jaringan kemanusiaan mencoba mencari tahu hingga ke kepolisian namun mereka katakan bahwa “menangkap Diana Aman adalah kewenangan Jaksa. Sedangkan Jaksa yang ditemui mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya sulit melacak keberadaan Diana.

Baca Juga :   Ketiadaan Juknis , Pemkot Belum Telusuri Ijazah Palsu

Selanjutnya Pdt. Emmy mengatakan, sebagai relawan, jaringan kemanusiaan pihaknya mengharapkan kesadaran dari masyarakat agar tidak mengirimkan anak-anaknya secara ilegal.

Migrasi kerja merupakan hak seseorang tapi migrasi yang legal, bukan migrasi paksa yang ilegal dengan iming-iming uang yang banyak dan tanpa sadar bisa pertaruhkan nyawa dan organ tubuhnya.

Dia menjelaskan memerangi perdagangan orang yang adalah perbudakan modern adalah tugas dan tanggung jawab bersama. Mari satukan semangat pikiran dan keyakinan untuk tidak menjual orang-orang NTT. “Stop bajual orang NTT” menjadi slogan pembakar semangat pegiat anti trafficking ini digelorakan di mana-mana dengan tujuan menjaga dan memelihara nilai kemanusian di NTT yang bermuara pada pengamalan pancasila yang adalah dasar negara.

Terpisah dari itu salah satu tim relawan kemanusiaan yang tidak ingin disebutkan namanya, kepada media ini mengatakan, persoalan Perdagangan orang di NTT adalah persoalan terstruktur yang masih diperlihatkan didepan mata kita.

“Teman teman Mungkin telah mengetahui beberapa hari Yang lalu Unit TPPO Polres TTS menangkap dua DPO trafficking yaitu Apelea Mooy dan Andi Killa yang terlibat dalam kasus kematian TKW, Yuliana Kana dan korban Ance Juliana Punuf yang selama ini sulit dikejar dan ditangkap oleh satuan trafficking jajaran Polda NTT. Ini menjadi tanda tanya besar mengapa sulit ditangkap?

Namun komitmen Polres TTS dibawah kepemimpinan Kapolres AKBP Toto Mulyanto, pengungkapan kasus kasus Trafficking mulai terungkap satu persatu, sayangnya Kasat Reskrimnya Harus dimutasi setelah Memimpin Penangkapan dua DPO itu.

Bukankah anggota yang berhasil berdasarkan titah Kapolri Harus diberi Penghargaan.

Ia mempunyai keyakinan, ada ketakutan oknum-oknum tertentu dengan tertangkapanya kedua DPO ini. Ini merupakan kejahatan terstruktur yang diperlihatkan dan dipertontonkan secara langsung kepada semua masyarakat.

Ia mengharapkan agar kepada semua pihak terus memerangi perdagangan orang dan organ ini secara bersama sama. Kemanusiaan adalah segalanya. (dinho mali)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top