RAGAM

Pemprov NTT Dituding Pura-pura Diam atas Kasus Human Trafficking yang Terus Menelan Korban Jiwa

Aksi bakar lilin atas meninggalnya TKW Adelina Sau

KUPANG, Kilastimor.com-Aksi Solidaritas untuk kemanusiaan kembali digelar Senin (19/2) malam di bawah tema: “Matinya Rasa Solidaritas Kemanusiaan”. Aksi itu digelar di depan kemegahan kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur Jl. El Tari Kupang, lantaran persoalan Human Trafficking yang tak kunjung selesai di daerah yang kaya akan potensi alam ini.

Aksi ini merupakan bentuk spontanitas tokoh tokoh agama yang terus melihat fenomena TKI/TKW Asal Nusa Tenggara Timur yang meninggal bagaikan binatang di daerah migran seperti Malaysia, juga di negara lain lain termasuk di Medan Indonesia. Selain itu, aksi ini juga karena persoalan penegakan hukum Yang masih Jmjauh dari sebuah keadilan terhadap persoalan kemanusiaan ini.

Aksi merupakan aksi yang kesekiankalinya berupa pembakaran lilin, tanda duka cita meninggalnya TKW asal NTT, salah satunya Adelina Sau di tanah rantauan sebagai akibat dari perdagangan orang NTT. Aksi ini untuk memprotes meninggalnya sistem penegakan hukum.

Dalam aksi itu, dilakukan dengan orasi silih berganti, nyanyian, pembacaan puisi, pembacaan tuntutan dan diakhiri dengan doa lintas agama.

Adapun inti tuntutan pertama, Mendoakan Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Indonesia dapat Mengungkap Secara terang berderang Kasus Kematian ADELINA SAU dan dapat Mmmengungkap sindikat yang mengirim almarhumah ADELINA SAU.

Kedua, mendoakan oknum hakim Pengadilan Negeri Kupang yang menangguhkan  Tersangka Diana Aman, pelaku Penjual almarhuma Yufrinda Selan pada saat P
proses persidangan, dan hingga saat ini Pelaku Diana Aman sudah tidak Mampu lagi dihadirkan Jaksa dalam melakukan eksekusi putusan.

Baca Juga :   DPRD Malaka Pacu Pemerintah Bangun Infrastruktur Jalan dan Penerangan di Rinhat

Ketiga, mendoakan hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia yang karena tidak memberikan Putusan MA, maka 9 terdakwa Edwar Leneng Cs dalam kasus Trafficking yang ditangani oleh Bareskrim Mabes Polri atas Perintah  Presiden RI harus bebas demi hukum dari Rutan Kupang-NTT.

Empat, mendoakan oknum Penyidik Polda NTT yang membuat berkas perkara  semakin tidak jelas yaitu Kasus TPPO yang melibatkan 7 Kepala Cabang perusahaan pengerah jasa tenaga kerja yang terlibat dalam kasus deportase 2013.
 
Damasus Lodolaeng Korlap pada aksi ini dalam orasinya menyatakan sikap menyayangkan pemerintah NTT saat ini, “Sudah sekian kali kita membakar lilin di depan gedung megah ini, namun Pemimpin NTT tidak menanggapi sama sekali, apakah ia tuli, apakah ia buta, tentu tidak. Dirinya hanyalah pura-pura buta, pura-pura tuli terhadap persoalan perdaganan masyarakat di NTT,” sindirnya.

Terpisah, Pdt. Emmy Sahertian, M.Th pegiat Anti Trafficking dari Sinode GMIT kepada media ini mengatakan, selama ini pihaknya hanya bergerak untuk mendata angka angka kematian.

“Kami punya data yang mencengangkan bahwa dari tahun ke tahun selalu meningkat orang-orang kita yang meninggal dunia. Ini hanya sebagian yang muncul banyak yang bahkan tidak bisa kembali dan meninggal di luar negeri tanpa keluarga di sini mengetahuinya. Terhadap fenomena seperti ini dia mempertanyakan peran nyata pemerintah NTT, apakah hanya terus diam?” Ungkap Pendeta Emmy.

Lanjutnya, sebagai Pegiat Anti Trafficking, dirinya bersama rekan-rekannya terus bersuara agar orang-orang NTT tidak diperjualbelikan, tidak dipaksa kerja. Jika ini tidak diatasi segera dari hulu hingga ke hilir, maka hal ini akan berkelanjutan dan berpengaruh terhadap peradaban itu masyarakat NTT. (dinho mali)

Baca Juga :   Kapolsek Weliman: Korban Murni Bunuh Diri
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top