HUKUM & KRIMINAL

Dilaporkan Warganya ke Kejari Belu, Begini Jawaban Kades Lasiolat

Siprianus Bele

ATAMBUA, Kilastimor.com-Kepala Desa Lasiolat, Siprianus Bele mengaku sangat senang karena dilaporkan oleh warganya ke Kejari Atambua, Kamis (15/3/2018) terkait dugaan korupsi dana desa.

Baginya, itu merupakan bentuk koreksi masyarakat yang patut diapresiasi oleh para pemimpin.

“Ketika masyarakat datang lapor, itu artinya masyarakat mau menilai kinerja kita. Itu sebuah bentuk penilaian dan koreksi dari masyarakat. Bagi saya itu merupakan hal yang baik,” ujarnya.

Menanggapi laporan tersebut, Kades Siprianus mengatakan dirinya tidak tahu menahu terkait dengan anggaran dana desa Tahun 2016. Hal itu dikarenakan dirinya baru dilantik menjadi kepala desa pada 10 Januari 2018 lalu.

Terkait dugaan korupsi dana desa tahun 2017, dirinya mengaku dia siap bertanggungjawab.

Siprianus menuturkan dirinya akan mencocokan laporan warga dengan administrasi yang ada.

Untuk Tahun 2017, Siprianus menuturkan pemerintah desa sudah cukup transparan dengan memasang baliho terkait pengelolaan dana desa. Selain itu, mereka juga telah memasang baliho pengelolaan dana desa per tahapan. Tujuannya agar masyarakat dapat ikut menilai dan mengontrol jalannya pemerintahan desa dalam mengelolah dana desa.

Dia menambahkan, baru-baru ini mereka telah diperiksa oleh BPK. Hasilnya, BPK menyimpulkan bahwa pengelolaan dana desa di Desa Lasiolat telah dilaksanakan dengan baik.

Namun karena sudah ada laporan ke Kejari Belu, maka dirinya siap untuk membuktikan pengelolaan dana desa dengan hasil fisik di lapangan.

Baca Juga :   Wacana GBHN Merupakan Reformulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

“Saya sudah mendengar, ada masyarakat akan melapor saya ke kejari. Saya tidak ingin mematahkan niat mereka. Bagi sebagian warga, ada rasa ketidakpuasan dengan pembagian bantuan. Semisal bibit lele yang dibagikan. Saya sudah bagikan bibit lele itu sesuai dengan kesepakatan bersama yang mana lele itu dibagikan kepada lima kelompok karang taruna atau kelompok anak-anak muda. Semuanya sudah dijalankan sesuai dengan RAB,” paparnya.

Siprianus sendiri sangat berterima kasih kepada warga yang telah melaporkan dirinya. Baginya, semuanya itu sebagai bentuk koreksi dari masyarakat yang patut diapresiasi.

“Sekali lagi, saya berterima kasih kepada masyarakat yang telah mengontrol jalannya pemerintahan desa di masa kepemimpinan saya. Bagi saya ini sebuah koreksi dan kontrol. Hal itu sangat penting karena seorang pemimpin harus mendengarkan kritik dari masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan oleh media ini, diduga korupsi dana desa, Kepala Desa Lasiolat, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu dilaporkan sejumlah warga ke Kejaksaan Negeri Belu. Warga menemui Kasi Intel, Jhon Purba meminta agar masalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Ketua BPD Lasiolat, Alosius Besin bersama sejumlah warga yang melaporkan sang kades.

Kepada awak media usai menyerahkan laporan di kantor Kejari Belu, Kamis (15/03/2018), Ketua BPD Lasiolat itu mengungkapkan, ada dugaan korupsi pemanfaatan sejumlah dana desa untuk beberapa kegiatan dalam Tahun Anggaran 2016 dan 2017.

Baca Juga :   DPC PDIP Belu Komitmen Menangkan Pasangan MS-EN

Ada beberapa item yang dilaporkan warga yaitu rehabilitasi gedung kantor Kepala Desa Lasiolat pada Tahun 2016 sebesar Rp 58 juta dan Rp 50 juta pada Tahun 2017.

Item kegiatan lain pada 2017 yang dilaporkan antara lain pembangunan tembok penahan dengan dana sebesar Rp 50 juta, pembangunan saluran irigasi senilai Rp 176 juta, penghijauan dan pelestarian lingkungan sebesar Rp 47 juta, pengadaan sarana dan prasarana pertanian yang tidak dilaksanakan.

Aloysius menuturkan, kegiatan Yang sudah dilaksanakan yaitu budidaya jeruk yang tidak sesuai rencana anggaran. Padahal dalam rencana anggarannya adalah pengadaan bibit lamtoro.

Selain itu, beberapa item kegiatan lain yang tidak difasilitasi dengan dana desa adalah pelatihan meubeler dengan anggaran berjumlah Rp 70 juta, pelatihan pertukangan dan perbengkelan dengan anggaran Rp 33 juta.

Dugaan korupsi lain terdapat pada pengadaan budidaya ikan lele jumbo dengan anggaran Rp 58 juta. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top