RAGAM

Diputuskontrak Oleh Pemda Belu, Para Teko Menangis di Gedung DPRD

Eks teko kesehatan mengadu ke DPRD Belu.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Rabu (28/2/2018 adalah hari yang tak mungkin dilupakan bagi Lodia Bubu Riu (35) sekeluarga. Pengabdiannya selama belasan tahun bekerja sebagai tenaga kontrak di Puskesmas Wedomu, Kecamatan Tasifeto Timur harus terhenti karena diputuskontrak oleh Pemda Belu. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya linangan air mata yang dapat menggambarkan kesesalan dirinya.

Kedua kakinya seakan tak dapat menopang tubuhnya saat dia tahu kalau dirinya tak lagi diterima sebagai tenaga kontrak Daerah Belu di Dinas Kesehatan. Kecerahan pagi seketika menjadi gelap gulita. Ia mencoba kuatkan diri kalau masih ada cara untuk memperjuangkan nasibnya.

Lama duduk terdiam di Puskesmas Wedomu, akhirnya menguatkan dirinya untuk kembali ke rumah memberitahukan apa yang baru saja dialaminya kepada sang suami. Ibu yang sedang dalam masa hamil tuanya itu hanya mampu menangis saat memberitahukan apa yang ia alami kepada sang suami.

Sang Suami yang bekerja sebagai wiraswasta tak mau ikut larut dalam situasi itu. Ia menyembunyikan kegalauan hatinya dengan terus menguatkan sang istri.

Lodia adalah salah satu dari 12 orang lainnya yang diputuskontrak oleh Pemda Belu sebagai tenaga kontrak daerah. Pemutusan kontrak itu sesuai dengan surat kontrak daerah yang dikeluarkan Bupati Belu pada 28 Februari 2018. Di Puskesmas Wedomu sendiri, ada tiga orang tenaga kontrak yang diberhentikan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Baca Juga :   Devi Ndolu Kembali Ditunjuk Sebagai Wakil Ketua DPRD Malaka

Dengan kekalutan hatinya, ia bersama dua orang rekan lainnya, Lidia Leni Lirik dan Fransisco Alfonso yang diputuskontrak coba berunding untuk datang menghadap Kadis Kesehatan Kabupaten Belu, Theresia Saik.

Lodia sudah bekerja sejak tahun 2005 dan baru diangkat sebagai Tenaga Kontrak (Teko) Daerah pada tahun 2012. Fransisco sudah mengabdi sejak tahun 2005 dan dikontrak sejak tahun 2010. Sedangkan, Lidia dikontrak sejak tahun 2010. Belasan tahun mengabdi, mereka diputuskontrakan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.

Mereka bertiga memang pernah diberikan nilai C oleh Kepala Puskesmas Wedomu, Yanuarius Bau Bale. Saat itu mereka diminta untuk tetap bekerja karena menurut Yanuarius, nilai mereka sudah diperbaiki. Entah apa yang terjadi, tapi saat kontrak baru dikeluarkan, nama mereka tak tertera di dalamnya.

Lidia Leni Lirik pernah datang bersama sang suami menghadap Kadis Kesehatan. Namun, jawaban yang dilontarkan kadis sangat menyakitkan hati Lidia.

“Sudah tahu tidak ada nama di SK masih saja datang membeli formulir SK,” ujar Lidya menirukan kembali apa yang disampaikan Kadis Kesehatan Belu kepadanya. “Pemecatan ini atas penilaian dari kepala puskesmas,” lanjutnya.

Karena tak puas denga jawaban kadis, mereka bersepakat mencari hari yang baik untuk bersama-sama datang mengadu ke DPRD Kabupaten Belu.

Senin (5/03/2018) pagi, Lodia bersama dua orang rekannya datang menemui para wakil rakyat. Mereka datang meminta keadilan dari para wakil rakyat. Saat itu, mereka diterima oleh Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Belu, Jeremias Junior Manek, Anggota DPRD Belu, Francisco Soares, dan Rudy K. Boy Bouk.

Baca Juga :   Bangun Komunikasi Demi Menjaga Kerukunan Umat Beragama di Amanuban Timur

Lodia tak percaya bahwa setelah mengabdi belasan tahun, dia harus diputuskontrak oleh Pemda Belu tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Padahal, bertahun-tahun mengabdi, tidak pernah ada teguran dari pimpinan bahwa kinerja kerja mereka tidak baik dalam melayani masyarakat setempat.

“Saya sudah 13 tahun mengabdi, tapi tiba-tiba diberhentikan,” tutur Lodia dengan nada tersendat sembari mengusap air matanya.

Sembari meneteskan air mata dirinya menambahkan bahwa mereka hanya ingin tahu penyebab sampai mereka diberhentikan tanpa ada pemberitaan terlebih dahulu.

“Apakah kinerja pengabdian terhadap kemanusian di bidang kesehatan belasan tahun sangat buruk di mata pemerintah Belu,” ujarnya sembari terus meneteskan air mata.

Lodya Bubu Riu dengan masa kehamilan tuanya ikut datang mengeluhkan dan mengadukan ke DPRD Belu lebih banyak meneteskan air mata dan hanya menyampaikan kekecewaannya.

“Inikah balasan pemerintah Belu atas pengabdian kami selama ini? Dimanakah letak hati nurani para pemimpin pemerintah,” ujatnya lirih.

Fransisco, seorang Teko kesehatan yang juga diputus kontrak 2018 oleh SK Bupati Kabupaten Belu, Willybrodus Lay menyampaikan harapan mereka untuk pemerintah.

“Kami bersama keluarga sangat merasa sedih atas keputusan pemecatan ini. Kami juga berharap ada revisi dari pimpinan daerah untuk keputusan ini,” ungkapnya.

Lodia, istri Redison R. Ulu pekerja serabutan itu menuturkan, Ia rela mengabdi sebagai tenaga sukarela tanpa digaji selama tujuh tahun dan baru diangkat sebagai Teko pada tahun 2012 lalu demi membantu suami menafkahi anak-anaknya.

Baca Juga :   Laporan Kasek SDI Oenaek Sepihak. Murid Dipulangkan Lebih Awal untuk Persiapan Jalan Salib

“Saya sudah mengabdi bertahun-tahun, tiba-tiba tidak kerja lagi begini, anak-anak…,” kata Lodia terputus. Hanya air mata yang mampu menggambarkan kesedihannya.

Lodia warga RT 02, RW 04 Dusun Kabenate, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur kini mengaku bingung menanggung biaya hidup keluarganya.

Ia berharap Bupati Belu, Willybrodus Lay berbelaskasih untuk meninjau kembali SK pemberhentian terhadap mereka.

“Kita mohon Bapak Bupati revisi ulang SK supaya kami bisa kerja kembali. Anak-anak kami butuh makan… Mereka butuh sekolah… kalau begini… Kami harus buat apa lagi?” Demikian ujarnya sembari mengambil tisu dari dalam tasnya untuk menyeka air matanya. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top