RAGAM

Ini Jadwal Ritual Adat Perdamaian dengan Buaya di Kecamatan Malaka Tengah

Eduardus
Eduardus Bere Atok

BETUN, Kilastimor.com-Meninjaklanjuti permintaan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran agar segera dilakukan ritual adat untuk menangani buaya, Pemerintah Kecamatan Malaka Tengah akan secepatnya melakukan pertemuan dengan beberapa desa dan tua adat di kantor Camat Malaka Tengah.

Pihak desa yang dilibatkan dalam pertemuan tersebut yakni, desa yang memiliki hubungan adat dengan buaya buaya. Diantaranya, Desa Fahiluka, Desa Lawalu, Desa Naimana, Desa Railor, Desa Keletek, Desa Kamanasa dan Desa Kakaniuk.

Sementara sesepuh adatnya yang bakal dihadirkan yakni dari Desa Lawalu, Naimana, Desa Kletek dan Desa Kamanasa.
Ikut hadir nanti yakni Kepala Resor Cagar Alam Maubesi, Min Bere.

Camat Malaka Tengah Eduardus Bere Atok saat dikonfirmasi mengatakan, dari hasil kesepakatan rapat tadi, pelaksanaan ritual nanti berdasarkan unsur nilai budaya yang erat kaitannya dengan buaya karena masih ada kepercayaan kalau ada keterkaitan manusia dan buaya pada beberapa rumah adat di Malaka.

Eduardus berharap dengan adanya ritual adat, manusia dan buaya bisa berdamai dan hidup pada wilayah teritorialnya masing-masing dan tidak saling menganggu dan saling menyerang.

Lanjutnya, untuk pelaksanaan ritualnya di Kecamatan Malaka Tengah bisa di wilayah pantai dan daerah aliran sungai. “Jadi kita sudah sepakat untuk wilayah pantai, dilaksanakan di Kletek oleh pihak Uma Hasan. Rencananya pada 14 April 2018 mendatang.
Sedangkan untuk sungai, akan dilaksanakan ritual di Motadikin oleh Uma Tasi di Desa lawalu pada 13 April,” paparnya.

Baca Juga :   Lay: Persekolahan di Belu Tidak Diliburkan

Ia menambahkan, untuk kurbannya, pada 18 Maret ini, tokoh atau tua adat akan mengadakan ritual, guna meminta kepada leluhur kurban apa yang akan dibawa untuk dipersembahkan pada buaya.

“Nanti kita akan tahu pada 18 Maret ini, apa saja persembahannya,” kata dia.

Terkait ritual sendiri jelasnya, semua yang ikut akan berpakaian sederhana mengunakan sarung dan mengunakan daun gewang yang diikat pada kepala, tidak mengunakan cincin emas. Untuk makanan akan dibawa pisang untuk dibakar.

Terkait telepon genggam yang harus dinonaktikan, camat menyatakan semua akan dilihat seperti apa petunjuk dan persetujuan dari leluhur, pada ritual 18 Maret ini. (pisto)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top