RAGAM

Kakek 95 Tahun Mengikuti Sidang dalam Keadaan Sakit

HB terdakwa kasus pelecehan seksual digendong oleh tim JPU guna mengikuti sidang di PN Atambua.

ATAMBUA, Kilastimor.com-HB seorang kakek berusia 95 tahun harus rela mengikuti sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Atambua, Rabu (7/3/2018), walau dalam keadaan sakit. Kakek yang diduga dalam kasus pelecehan dengan cecenya sebut saja Mawar (15) tersebut mengikuti persidangan dengan duduk di kursi roda karena tak mampu berjalan.

HB (95), Warga Desa Teun, kecamatan Raimanuk, Belu harus berjibaku dengan penyakit karena meski dalam keadaan sakit bronkitis, HB harus duduk di kursi roda untuk mendengarkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Atas dugaan tersebut, HB dilaporkan ke Polisi oleh orang tua dan saudara Mawar pada 3 November 2017.

Pasca dilapor, HB ditahan pihak Polsek Raimanuk selama satu pekan. Namun karena kondisi HB kurang sehat, anak-anak HB meminta penangguhan penahanan.

Elisabet Bete, anak kandung HB, menuturkan sebelum menjadi tahan Jaksa, HB sudah dalam kondisi menderita sakit bronkitis. Akibat penyakit yang diderita, kakek berusia 95 tahun terpaksa dirujuk ke RSUD Atambua pada 26 Februari 2018.

Menurut pengakuan Elisabet, HB dikeluarkan secara paksa oleh pihak Kejaksaan Negeri Belu pada Selasa (6/3/2018) dengan alasan HB harus mengikuti sidang tuntutan.

Sidang tuntutan JPU atas dugaan persetubuhan yang dilakukan HB terhadap AB yang adalah cecenya dilaksanakan pada Rabu(7/3/2018) di Pengadilan Negeri Atambua.

Ironisnya, kondisi HB yang sementara menderita penyakit bronkitis dan tidak bisa berjalan akibat kondisi kakinya yang bengkak dan HB terlihat tidak berdaya.

Baca Juga :   Danrem: Animo Pemuda NTT Ikut Test TNI AD Sangat Tinggi

Kuasa Hukum HB, Ferdy Tahu kepada media mengatakan pihaknya sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan Jaksa yang menangani kasus kliennya.

Menurut Ferdy, seharusnya HB dirawat hingga sembuh, baru bisa mengikuti proses persidangan. Namun hal tersebut tidak digubris JPU.

Selaku kuasa hukum, Ferdy mengaku sejak mendampingi kliennya, HB sudah dalam kondisi kritis. Pihak lapas Atambua sudah mengeluarkan surat pembantaran atau surat ijin berobat bagi tahanan agar HB dirawat di RSUD Atambua. Atas rujukan tersebut, HB diantar ke RSUD Atambua untuk menjalani perawaran secara intensif atas penyakit yang dideritanya.

Namun ternyata, dalam perjalanan, jelas Ferdy, pihak JPU tidak menghargai bantaran yang dikeluarkan pihak Lapas dan secara paksa JPU menjemput HB di RSUD Atambua pada, Selasa (6/3/2018) agar bisa hadir dalam sidang tuntutan Jaksa pada Rabu (7/3/2018). (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top