HUKUM & KRIMINAL

Kepentingan Sidang, Jaksa Keluarkan Paksa Kakek 95 Tahun dari RSUD Atambua. PH: Ini Langgar HAM

Tampak Kakek HB digotong para petugas dan napi di Lapas Atambua.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Diduga karena ada kepentingan jaksa, seorang kakek berusia 95 tahun dipulangkan secara paksa dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mgr. Gabriel Manek SVD, Atambua ke Lapas Atambua, Selasa (06/03/2018).

Sebelumnya, kakek yang berinisial HB tersebut dilaporkan atas dugaan kasus persetubuhan anak di bawah umur dengan inisial AB (16) pada 31 Oktober 2017 lalu, yang kemudian di dilakukan visum et repertum pada 3 november 2017.

Saat ini, HB sedang diamankan di Lapas dengan status tahanan Jaksa.

Pihak Keluarga yang ditemui kilastimor.com pada, Selasa (6/3/2018) menuturkan mereka sangat menghargai proses hukum. Mereka tidak melawan hukum.

Hanya saja, pada Senin (26/2/2018) AB terpaksa harus digotong ke RSUD oleh pihak keluarga atas inisiatif pihak Lapas karena melihat kondisi AB yang semakin parah. Sedangkan dari pihak kejaksaan sendiri tidak memberikan surat pembantaran untuk korban yang dirujuk ke rumah sakit. Hal inilah yang disesalkan keluarga.

Kuasa Hukum HB, Ferdi Tahu Maktaen kepada media mengungkapkan kekesalannya atas tingkah jaksa yang dianggap melanggar Hak Asasi Manusia. Ia mengungkapkan, kliennya saat ini masih dalam kondisi yang tidak sehat. Dia masih membutuhkan perawatan yang intens dari pihak medis.

“Klien saya dalam keadaan sakit dan masih membutuhkan perawatan yang intens oleh pihak medis. Tapi dalam kondisi sakit tersebut, klien saya dipaksakan pulang. Ada surat keterangan dokter yang mengatakan klien saya masih harus dirawat,” ungkap Ferdi.

Baca Juga :   30 Anggota DPRD Belu Terpilih Ikut Gladi Pelantikan

Ferdi menuturkan, ada indikasi kepentingan Jaksa untuk memulangkan kliennya ke Lapas pada selasa (6/3/2018). Tujuannya hanya untuk mempercepat proses persidangan.

“Ini ada kepentingan Jaksa. Mereka hanya ingin agar persidangan cepat selesai tanpa melihat sisi HAM,” tuturnya dengan nada meninggi.

Disaksikan media, AB yang terpaksa dipulangkan dari RSUD Atambua masih dalam kondisi yang sangat lemah dan tidak bisa bejalan sendiri. Kedua kakinya masih membengkak akibat bronkitis yang dialaminya.

Menurut salah seorang anak AB, Elisabeth Bete (47) menuturkan, ayahnya sampai saat ini masih harus menggunakan popok. Selama berada di RSUD Atambua, sang ayah masih sangat lemah. Bahkan untuk melangkah ke kamar mandi pun masih tak mampu dan harus digotong.

“Aturan boleh aturan, dan kami sangat menghargai hukum. Tapi bapak masih sakit kenapa harus dipaksakan untuk keluar,” ungkapnya sembari meneteskan air mata.

Elisabet menuturkan, dia bersama semua saudaranya sangat menghargai hukum. Bila pada akhirnya sang ayah divonis bersalah oleh hakim, mereka legowo dengan keputusan itu.

Elisabeth mengungkapkan bahwa ada salah seorang dokter yang meminta mereka untuk menyetujui apa yang diinginkan jaksa. “Dokter bilang, kalau bapak biar dua bulan di rumah sakit juga tidak akan sembuh. Jadi, ikut saja apa yang jaksa mau,” ungkapnya.

Hal ini diamini oleh Ferdi selaku kuasa hukum. Ia bahkan mengungkapkan ada tekanan dari jaksa, sejak HB dibawa ke rumah sakit. Bahkan dia mendapat informasi dari pihak keluarga, ada dugaan jaksa yang datang rumah sakit dan mengancam pihak keluarga kliennya. Ancaman itu pun terjadi hingga saat jaksa datang mengeluarkan secara Paksa kliennya dari Rumah Sakit.

Baca Juga :   127 Mahasiswa Katolik Ikut MPAB KMK FH Undana

Ferdi mengungkapkan, saat kliennya dikeluarkan dari RSUD Atambua, dr. Oscar Manek meminta agar kliennya harus melakukan pemeriksaan secara rutin tiga hari sekali. Menurut Ferdi, keterangan dokter tersebut jelas mau menunjukan bahwa kliennya masih dalam kondisi sakit.

“Kenapa harus paksa untuk segera kembali ke Lapas? Di lapas, siapa yang dapat mengurus kliennya, sedangkan kliennya masih harus selalu mengganti popok atas bantuan orang lain,” ujar Ferdi.

Ferdi menuturkan bahwa, saat ini pasien nya masih sering mengalami sesak napas. Kalau dia kembali ke Lapas, dia harus tidur beralaskan ubin. Dengan sendirinya, sakit yang dialami kliennya akan semakin parah.

Baginya, apa yang dialami kliennya saat ini merupakan pelanggaran HAM. Terlepas dari kasus apa yang sedang disidangkan, baginya kliennya juga seorang manusia yang punya hak mendapat perlindungan kesehatan

“Saya minta tolong agar Jaksa Penuntut Umum yang menangani kasus ini agar lebih bijak dalam melihat terdakwa sebagai seorang manusia yang punya hak untuk hidup,” sesal Ferdi.

Untuk diketahui, HB akan menjalani sidang tuntutan di pengadilan negeri Atambua.

Hingga berita ini diturunkan, Kajari Belu, Rivo Madelu belum merespon konfirmasi media ini. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top