RAGAM

Minimalisir Korban, Pemda Malaka Gelar Sosialisasi Penangkalan Buaya

Inilah sosialisasi penangkal buaya yang digelar Pemda Malaka.

BETUN, Kilaskimor.com-Buaya yang terus merenggut nyawa sejumlah warga Malaka akhir-akhir ini, membuat Pemda Malaka mengambil langkah-langkah terobosan. Salah satunya menggandeng BKSDA NTT untuk menangkal buaya.

Terbukti, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Malaka, melalui Bagian Kesejahteraan Masyarakat Setda Malaka, menggelar sosialisasi bersama Badan Konservase Sumberdaya Alam (BKSDA) I Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT), Kamis (1/3) di aula Kantor Bupati Malaka.

Hadir pada kesempatan itu yakni, tokoh adat, tokoh masyarakat, para kepala dinas, camat, Kapolsek dan Danramil.

Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran, M.Ph menyampaikan, kegiatan ini dilakukan untuk menjawab keluhan masyarakat terkait aksi buaya yang akhir-akhir ini dan menelan korban jiwa

Lanjut Bupati Stef, Untuk menyikapi keluhan masyarakat, sebagai pimpinan Wilayah, saya merasa penting untuk dilakukan Sosialisasi terkait Penangkal buaya, sehingga Masyarakat Malaka khususnya di daerah pesisir pantai, dan sekitar daerah aliran Sungai Benenain, tidak secara terus menerus menjadi korban terkaman buaya.

“Langkah-langkah yang harus dibuat yakni, penyuluhan soal tempat-tempat yang menjadi sarang buaya, agar tidak didekati warga, pengurangan terhadap populasi buaya, pemasangan penangkar buaya, dan normalisasi sungai dan rawa – rawa yang menjadi sarang buaya.

Terpisah, Kepala Bidang BKSDA wilayah I Agustinus Kristiantoro, ketika dikonfirmasi media ini menjelaskan, pihaknya diundang Pemda Malaka untuk menyajikan materi terkait penangkalan buaya di Kabupaten Malaka.

“Secara teknis, lanjut Kristiantoro, Pihaknya menyediakan solusi penangkalan jangka pendek dan jangka panjang, Solusi jangka pendek, Kita akan lakukan sosialisasi secara intensif terkait tempat-tempat yang menjadi sarang buaya. Sedangkan solusi jangka panjangnya kita akan menyiapkan alat penangkaran buaya, sehingga bisa menjadi icon bagi kehidupan ekonomi masyarakat Malaka, minimal menjadi destinasi wisata bagi wisatawan asing dan lokal,” ungkapnya.

Baca Juga :   Warga Maudemu Tagih Janji PLN Rayon Atambua

Pembangunan alat penangkar ini urai dia, tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama, karena selain siapkan alatnya, juga perlu menyiapkan makanan yang menjadi santapan buaya. “Buaya sudah ada dalam penangkaran tidak boleh kelaparan dan mati. Kita juga akan memberikan pelatihan teknis terkait metode penangkapan buaya, sehingga pada saat proses penangkapan tidak boleh menelan korban Jiwa,” ungkapnya. (adhi teiseran)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top