RAGAM

Canang BBGRM, Harganas dan HKG PKK, Lebu Raya Sebut Semangat Gotong Royong Pudar Akibat Ada Kanibal Sosial

Gubernur NTT pose bersama warga yang mendapat hadiah saat pencanangan BBGRM di Motaain, Belu.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Sudah lazim semua menyebut gotong royong sebagai warisan leluhur Indonesia. Akan tetapi, realita saat ini menunjukan semangat gotong royong di bangsa ini sudah semakin memudar. Itulah fakta yang harus diakui oleh semua orang bahwa pudarnya semangat gotong royong akibat adanya Kanibal sosial.

Namun, bila semua orang meyakini bahwa nilai gotong royong adalah sebuah nilai yang baik dan harus terus dijaga oleh masyarakat Indonesia, maka semua harus punya kewajiban untuk kembali menumbuhkembangkan nilai tersebut, untuk tetap menjadi semangat kebersamaan.

Hal ini disampaikan oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya saat melakukan Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-15, Hari Kesatuan Gerak PKK (HKG-PKK) ke-46, Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-25 Tingkat Provinsi NTT, dan Gelar Teknologi Tepat Guna (Gelar TTG) ke-4 di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, JumaT (27/4/2018).

Dikatakan, pudarnya semangat gotong royong disebabkan oleh kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ini menimbulkan individualisme dalam diri masyarakat, cendrung menyendiri, cendrung tidak ingin menolong sesama. Padahal nilai inilah yang baik, nilai inilah yang yang harus hidup dalam masyarakat yang plural dan majemuk.

“Nilai ini mesti dijaga karena kita butuh kebersamaan. Kita tidak butuh jalan sendiri-sendiri. Kita butuh bergandengan tangan, berjalan bersama-sama membangun diri, membangun keluarga, membangun daerah, dan membangun bangsa kita,” tutur gubernur yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 16 Juni 2018 nanti.

Baca Juga :   Bupati Puji Sekda Malaka. Pejabat Harus Miliki Otak Jernih dan Hati Murni

Karena itu, BBGRM tidak hanya sekedar berkumpul untuk bersenang-senang. Namun BBGRM harus menjadi refleksi bagi kita semua. Selain itu, BBGRM harus menjadi titik komitmen untuk terus-menerus meneguhkan semangat kita, membangu gotong royong di tengah-tengah masyarakat.

Dijelaskan, saat ini pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Jokowi, telah memberikan dana yang cukup besar kepada desa-desa. Dana ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan partisipasi masyarakat, meningkatkan semangat gotong royong masyarakat untuk membangun desa.

“Karena itu, saya minta pada para bupati agar hal ini sungguh-sungguh diperhatikan. Tujuannya agar penggunaan dana desa benar-benar mendorong partisipasi masyarakat dalam mewujudkan desa yang maju dan masyarakat yang sejahtera,” ujarnya kepada 10 ribuh lebih masyrakat yang hadir pada acara tersebut.

Berbicara gotong royong, bukan hanya sekedar berbicara tentang aktifitas harian kita. Berbicara tentang gotong royong sama artinya kita sedang berbicara tentang ideologi Bangsa Indonesia.

Ketika Bung Karno berpidato pada tanggal 1 Juni 1945, beliau menguraikan lima sila yang disebutnya dengan Panca Sila. Saat itu, Sang Proklamator menguraikan lagi Panca Sila dalam tiga sila atau Tri Sila yaitu Sosial Demokrasi, Sosial Nasionalisme, dan Ketuhanan. Dikatakan bahwa bila Tri Sila masih dianggap terlalu banyak, maka Beliau merampingkannya lagi menjadi satu sila atau Eka Sila yaitu Gotong Royong.

Itulah penjelasan singkat Bung Karno tentang Ideologi Bangsa Indonesia. Gotong royong menjadi jantung dari bangsa ini. Karena itu, menurut Lebu Raya, Masyarakat Indonesia patut menjaga nilai dan semangat dari gotong royong itu sendiri.

Baca Juga :   Bupati Malaka jadi Pembicara Pada Diskusi Deseminasi JKN

Pada masa pemerintahannya, aku Frans Lebu Raya telah banyak mendorong semangat gotong royong melalui koperasi seperti program unggulannya, Anggi Merah. Akan tetapi, beliau mengakui bahwa koperasi yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi NTT hampir berjalan di tempat. Namun, bukan berarti mengendorkan semangatnya untuk terus mendukung pembangunan koperasi hingga tingkat desa.

“Di masa pemerintahan saya, saya sangat mendorong pembangunan koperasi. Hasilnya, ada satu-dua koperasi yang berjalan dengan baik. Namun saya pikir… dengan dana yang dikelola oleh Propinsi itu susah majunya. Karena itu saya terus berkomitmen untuk bangun koperasi sampai akhir masa jabatan saya,” tuturnya.

Lebu Raya menegaskan, semangat gotong royong ini harus dijaga. Sebab tanpa kita sadari, bila semangat gotong royong dibiarkan luntur akan mengakibatkan bertumbuh pesatnya individualisme di desa-desa.

Individualisme akan mengakibatkan muncul yang namanya “Kanibal Sosial”. Kanibal sosial adalah sifat saling menghancurkan karakter satu dengan yang lain.

“Ini tidak boleh terjadi di Indonesia khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” tegas Lebu Raya.

Gotong royong juga dimaksudkan bahwa pelaku utama pembangunan adalah pemerintah. Tetapi, seluruh lembaga institusi dan masyarakat juga menjadi pelaku pembangunan. Itulah semangat gotong royong dalam membangun bangsa ini.

“Marilah kita bekerja bersama-sama membangun Bangsa Indonesia,” ajaknya. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top