RAGAM

May Day di Belu Sunyi Sepi. Ini Alasan Organisasi Buruh

Stanis Tefa

ATAMBUA, Kilastimor.com-Hari Buruh Internasional yang diperingati pada setiap 1 Mei atau yang akrab didengar May Day sangat identik dengan aksi turun ke jalan oleh para buruh seluruh dunia.

Aksi ini dilakukan untuk memperjuangkan nasib mereka dengan memberikan beberapa tuntutan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup para buruh.

Kabupaten Belu adalah salah satu Kabupaten di daerah Perbatasan RI-RDTL yang sarat dengan kasus para buruh. Permasalahan itu antara lain, pemberian gaji yang jauh dibawah standar Upah Minimum Propinsi (UMP) dan Upah Minimun Regional (UMR), tidak adanya jaminan sosial bagi para buruh, hingga kasus pemecatan secara sepihak oleh para pengusaha.

Selain itu, pemerintah Kabupaten Belu sendiri pun masih mempekerjakan banyak tenaga sukarela. Padahal, buruh itu adalah para sarjana yang menghabiskan ratusan juta untuk menyelesaikan pendidikannya. Namun sayang, gaji para tenaga sukarela itu hampir sama, bahkan jauh di bawah para pelayan yang bekerja di toko dan swalayan.

Di tengah gonjang-ganjing nasib miris para buruh, organisasi buruh di Belu tak banyak berbuat, apalagi mengadvokasi berbagai permasalahan yang ada. Mereka lebih memilih diam dan berafiliasi dengan pemerintah.

Hal ini diakui oleh Marius Nahak, Sekretaris Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Belu. Dirinya menuturkan bahwa KSPSI telah berkoordinasi dengan dinas Nakertrans Kabupaten Belu dan pihak kepolisian untuk tidak mengadakan aksi turun ke jalan pada 1 Mei 2018.

Baca Juga :   Belu Tuan Rumah Konferensi Perempuan Timor untuk Membahas Kemiskinan

Dirinya bersama beberapa anggota KSPSI bahkan mengitari kota pada 1 Mei 2018 hanya untuk memastikan tidak boleh adanya aksi yang dilakukan oleh para buruh.

“Hari ini kami dari KSPSI bersama Akodo, Dinas Nakertrans, dan pihak TNI-POLRI melakukan pantauan ke seluruh kota untuk memastikan tidak akan adanya demo. Kami keliling dari jam 08.00-11.00 Wita, situasi masih dalam keadaan aman. Toko-toko juga dibuka seperti biasa,” ujar Marius ketika dihubungi via telephon selularnya.

Dikatakan, pada Hari Buruh ini, pihak KPSI pusat memiliki empat tuntutan yang sudah disampaikan ke pemerintah pusat. Namun secara kelokalan, KSPSI Kabupaten Belu sendiri tidak memiliki tuntutan satupun kepada pemerintah kabupaten. Padahal, banyak sekali permasalahan yang terjadi dengan para buruh di Kabupaten Belu.

Akhir-akhir ini, muncul banyak sekali persoalan dikalangan buruh. Beberapa persoalan yang sempat diangkat media terkait pemecatan karyawan PT. Cipta Laku Lestari. Selain itu, ada persoalan lain yang hangat dibahas masyarakat Belu adalah terkait pemecatan sepihak yang dilakukan oleh Pemda Belu terhadap belasan orang Tenaga Kontrak Daerah tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.

Permasalahan tenaga kontrak menjadi semakin marak mana kala ketahuan adanya pemecatan sepihak dikarenakan munculnya orang-orang baru yang merupakan titipan para penguasa di Belu. Beberapa anggota DPRD Belu pun sempat melontarkan akan membuat Pansus untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun rupanya, janji Pansus hanya sebatas janji manis para wakil rakyat kepada para pekerja yang disolimi haknya.

Pages: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top