RAGAM

Ini Cara Media dalam Menangkal Berita Hoax di Perbatasan RI-RDTL

Diskusi menangkal berita hoax.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Anggota Divisi Peliputan Persatuan Jurnalis Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL, Mariano Parada mengungkapkan beberapa cara yang dilakukan oleh awak media dalam menangkal berita Hoax di Perbatasan RI-RDTL.

Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam diskusi yang diadakan oleh Circle Imagine Society (CIS Timor) dengan tema peran berbagai pihak dalam meminimalisir berita Hoax serta hate speech bagi kaum milenial guna menangkal tumbuhnya paham radikalisme di wilayah pembatasan.

Hadir juga sebagai pembicara dalam diskusi yang diadakan di aula Hotel Nusantara Dua pada Kamis (30/8/2018) yaitu Benediktus Ngalu dari Kesbangpol Kabupaten Belu dan Tokoh Agama Rm. Yoris Giri, Pr.

Pada kesempatan Tersebut Mariano menuturkan bahwa berita yang menebar kebencian dengan mengangkat isu SARA adalah salah satu bentuk berita hoax. Karena itu, jurnalis yang tergabung dalam Pena Batas RI-RDTL selalu dibekali ilmu jurnalistik untuk hati-hati dalam menulis berita terkait SARA.

“Bukan kita tidak menulis, kita tetap menulis fakta yang terjadi di lapangan. Hanya saja, kita sangat hati-hati dalam pemilihan diksi bahasanya agar tidak menimbulkan konflik lanjutan,” jelas Mariano

Dikatakan NTT sebagai sebuah propinsi yang sangat menghargai keberagaman. Namun, isu SARA juga merupakan sebuah isu yang masih sangat sensitif di kalangan masyarakat. Karena itu, pegiat media harus cerdas dalam mengungkap sebuah permasalahan terkait dengan isu SARA.

Baca Juga :   Tujuh Tahun Buta dan Ditolak Dokter, Albinus Sembuh atas Mujizat Tuhan

“Contohnya kasus penodaan Hostia kudus umat nasrani. Hal ini terjadi beberapa kali di dalam tahun 2017. Kita tidak bisa menulis bahwa Umat Muslim atau umat Kristen Protestan melakukan penodaan Hostia Kudus Umat Nasrani. Tapi yang kita tulis adalah oknum yang melakukan hal tersebut, bukan agamanya. Dengan begitu, berita yang kita sajikan bisa menjadi informasi bagi masyarakat umum”, tutur Mariano.

Rm. Yoris Giri, Pr dalam diskusi tersebut menuturkan bahwa salah satu sumber provokasi yang dapat memecahkan keberagaman antar umat beragama adalah para tokoh agama itu sendiri.

“Kaum berjubah melalui khotbahnya yang provokatif dapat menanamkan benih-benih kebencian dalam diri umatnya. Dalam pertemuan lintas agama, saya sampaikan bahwa mengapa kita harus membangun banyak tempat-tempat ibadat yang mewah padalah umatnya sendiri masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Apakah dengan tempat ibadat yang mewah baru kita bisa berdoa dengan baik? Mengapa kita tidak bantu menyumbangkan sedikit kepada mereka yang susah?” Demikian tutur Rm. Yoris.

Dikatakan, mengapa kita harus mempersoalkan baju yang kita pakai dan cara berdoa kita? Bukankah Tuhan yang kita sembab itu satu dan sama? Lalu untuk apa kita harus bertengkar?

Dijelaskan bahwa bila para tokoh agama sudah paham soal Empat Konsensus Kebangsaan yaitu Pancasila, UUD’45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI,maka dengan demikian, tidak akan ada lagi yang mempersoalkan keberagaman itu.

Baca Juga :   Banyak Membantu, Warga Translok Banuk Komitmen Dukung Sahabat

“Ingat, kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak hanya atas perjuangan kaum muslim saja, tidak hanya atas perjuangan kaum Kristen atau Hindu atau pun Budha. Kemerdekaan Bangsa Indonesia diraih dari sebuah perjuangan bersama kelompok Muslim, Kristen, Hindu, Budha, bahkan mereka yang tak memiliki agama,” tegasnya.

Diakhir pembicaraannya, Rm. Yoris mengutip sebuah doa indah yang dibuat oleh Paus Fransiskus I tentang bagaimana manusia harus menghargai keberagaman itu.

“Bila terdengar jeritan,
Buatlah kami belajar mendengarkan;
Bila terjadi kebingungan,
Jadikanlah kami inspirasi keselarasan;
Bila terjadi keraguan,
Jadikanlah kami pembawa kejelasan;
Bila terjadi diskriminasi,
Jadikanlah kami pembawa solidaritas;
Bila terjadi kegemparan,
Jadikanlah kami pembawa ketenangan;
Bila terjadi pendangkalan,
Jadikanlah kami penuntun menuju kedalaman;
Bila terjadi prasangka,
Jadikanlah kami pembangkit kepercayaan;
Bila terjadi permusuhan,
Jadikanlah kami pembawa rasa hormat;
Bila terjadi kepalsuan,
Jadikanlah kami pembawa kebenaran. Amin. Paus Fransiskus I. (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top