RAGAM

Kelurahan Rinbesi Gelar Gempita Merah Putih

Tebe menjadi salah satu lomba dalam Gempita Merah Putih di Rinbesi

ATAMBUA, Kilastimor.com-Gempita HUT RI di Kelurahan Rinbesi, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu digelar dengan berbagai perlombaan, salah satunya adalah Tebe antar RW.

Tari Tebe merupakan tarian khas masyarakat Belu dan Kabupaten Malaka yang menandakan pergaulan yang akrab di antara warga. Selain itu, Tari Tebe juga sebagai suatu luapan kegembiraan atas keberhasilan atau kemenangan. Tari Tebe diperagakan oleh para pria dan wanita bergandengan tangan sambil bernyanyi bersahut-sahutan melantunkan syair dan pantun yang berisikan puji-pujian, kritikan atau permohonan, sambil menghentakan kaki sesuai irama lagunya.

Tari Tebe berakhir ketika semua penarik duduk bersilang diatas tikar besar untuk bersama-sama mencicipi hidangan ringan sebagai tanda untuk berpisah dan pulang ke rumah masing – masing.

Tari Tebe yang merupakan salah satu budaya dari NTT ini biasanya dilakukan pada malam hari waktu adat pesta perkawinan atau acara lainnya. Menurut catatan sejarah, pada zaman dahulu dilaksanakan para Meo pulang dari medan perang membawa kepala musuh, kemudian dipancangkan ditengah lalu mereka mengelilinginya semalam suntuk dan biasanya selama 3 atau 4 hari lamanya.

Namun seiring berjalannya waktu, Tari Tebe sekarang dipentaskan pada acara Gereja atau acara kegembiraan lainnya. Juga acara pendinginan rumah adat (rumah pemali) atau saat panen untuk menginjak padi dan lain-lain.

Tonny Jaga Kota selaku ketua panitia Gempita Merah Putih di Kelurahan Rinbesi yang ditemui di sela acara tersebut (16/8/2018) menuturkan bahwa pada era modern ini, banyak anak muda yang mulai perlahan meninggalkan tradisi budaya lokal. Karena itu, pada Gempita Merah Putih dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-73 ini, digelar sebuah perlombaan Tebe antar RW se-Kelurahan Rinbesi.

Baca Juga :   Ingin Jadi Caleg, Ketua KPU TTU Resmi Diberhentikan

Hal ini diamini oleh Lurah Rinbesi, Sophia F.Lina, ST. Menurutnya, banyak orang, saat ini, yang beranggapan bahwa hal-hal tradisional yang berbau budaya adalah sebuah gambaran ketertinggalan. Namun sebenarnya modernitas merupakan sebuah kombinasi dari budaya dan tradisi yang akhirnya memunculkan budaya baru yang kita sebut modernisasi.

Selain menumbuhkan rasa cinta akan budaya, Sophia juga menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa persatuan dan persaudaraan di Masyarakat Kelurahan Rinbesi. Selain itu, dengan dibuatnya kegiatan ini, diharapkan dapat terjalin komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Kegiatan yang berbau budaya akan kita jadikan sebuah agenda rutin tahunan agar kaum muda Rinbesi selalu merasa superior dengan budaya sendiri. Dengan begitu, budaya lokal akan semakin lestari. Karena Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika. Indonesia itu kaya akan budaya. Marilah kita lestarikan budaya nusantara kita ini,” ujar Sophia.

Selain lomba Tebe, ada dua perlombaan lainnya yaitu lomba tarik tambang dan lomba panjat pinang. Beberapa perlombaan ini digelar mulai dari tanggal 15-17 Agustus 2018.

Pantauan media, berbagai perlombaan yang berlangsung di lapangan samping Hotel King Start Tersebut ditonton oleh banyak masyarakat, tidak hanya dari Kelurahan Rinbesi saja. Mereka merasa terhibur dengan berbagai perlombaan tersebut.

Modes Funan, salah seorang warga Desa Takirin, Kecamatan Tastim yang ikut menonton acara tersebut menuturkan bahwa dirinya merasa sangat terhibur dengan berbagai perlombaan tersebut. Menurutnya, “ini bukan hanya sebuah perlombaan biasa, tapi juga sebuah hiburan rakyat yang harus tetap dipertahankan”. (richi anyan)

Baca Juga :   Deputi BIN Tinjau Kelompok Tani Makmur di Kamanasa, Betun
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top