HEADLINE

Tiga PRT Asal Amarasi Korban Human Trafficking Dipekerjakan Tanpa Gaji

Inilah tiga PRT yang berhasil dibebaskan di Jakarta.

KUPANG, Kilastimor.com-Dugaan Human Trafficking atau perdagangan orang terjadi lagi. Kali ini menimpa TKW asal NTT, yang ditemukan di Jakarta.

Adapun tiga TKW yang menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT) yakni AM (20) ,YL (23) dan FR (20). Ketiga korban merupakan warga Amarasi Kabupaten Kupang.

Ketiga warga NTT selama ini dipekerjakan di kediaman Hares Kumar Manuwani asal Negara India beralamat di Jalan Ampera Raya No 99 Kav 7, samping kampus IPDN Jakarta Selatan.

Informasi yang diperoleh kilastimor.com, mereka direkrut oleh SLK dari Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi.

Mereka ‘dihipnotis’ dengan iming-iming gaji besar dan ke Jakarta secara gratis. Mereka diberi jatah libur setiap hari Sabtu dan Minggu, setiap bulan bisa kirim uang hasil kerja ke orang tua dan lain sebaginya. Semuanya menjadi celah SLK memuaskan “hasrat” untuk merekrut tiga anak ini.

Hingga di majikannya, naas menimpa ketiga anak itu. Telepon genggam semua disita. Mereka dilarang keluar gerbang rumah serta tidak diizinkan beribadah. Ditambah pula Gaji mereka ditahan, dan berbagai perlakuan tidak manusiawi lainnya menimpah mereka.

Atas perlakuan itu, satu dari mereka mengambil telepon genggam milik petugas dapur dan menelpon orang tua di Amarasi secara secara diam-diam. Kemudian orang tua di Amarasi memberi informasi lewat telepon kepada Isak dari Komyt Jakarta (Komunitas Masyarakat Timor Jakarta).

Berdasarkan informasi tersebut hingga akhirnya Komyt didampingi Pengacara muda asal NTT, Novianus Martin Bau, SH dari Kantor Hukum Gery dan Samo Law Office segera melapor ke Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (15/11/2018). 
Atas niat baik tersebut mereka diterima oleh unit PPA Polres Metro Jakarta Selatan, dan meminta untuk mediasi.

Informasi yang didapatkan kilastimor,  beberapa saat usai kedatangan pelapor di Polres, disusul pengacara terlapor. Negosiasi antara kedua pihak terjadi seketika.

Hingga jam 3 subuh disepakati untuk negosiasi di rumah Pak Kumar. Setelah itu diarahkan ke kantor penghubung dan didampingi staf kantor penghubung mewakili pemerintah NTT maju sebagai negosiator untuk penyelesaian hak-hak pekerja.

“Sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
gaji 100 persen diberikan kepada 3 anak tersebut namun dikurangi biaya tiket berangkat dari Kupang Rp 2 juta per orang. Korban juga meminta pulang, sehingga tidak perlu dilanjutkan urusannya.

“Semoga ini menjadi pembelajaran lagi bagi semua orang di NTT,” Tutur Martin Bau kepada kilas timor lewat telepon genggamnya, Sabtu 17/11. (sani asa)

Komentar
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top