RAGAM

SBS: Penulisan Buku Kepemimpinannya Harus Obyektif

FGD tentang Buku tiga tahun kepemimpinan SBS-DA.

BETUN, Kilastimor.com-Penulisan buku jejak pemimpin Malaka sangat penting bagi generasi penerus dan anak cucu Malaka.
Buku itu perlu ditulis sebagai bukti sejarah bagi anak cucu dan pemimpin Malaka mendatang. Untuk itu penulisan buku harus tetap berpedomankan pada kaidah penulisan buku, obyektif dan menyajikan apa adanya.
Hal itu disampaikan Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran dalam arahan pembukaan FGD Penyusunan Buku 3 Tahun SBS-DA Memimpin Malaka di, Jumat (7/12/2018).

“Sejak saya dan almarhum Bapak Daniel Asa dipercaya untuk memimpin Kabupaten Malaka tahun 2016 lalu, salah satu mimpi saya jejak langkah. Setiap langkah harus ada bekasnya untuk dapat ditelusuri dengan baik para penerus yang akan datang,” tuturnya.

Dirinya pernah membaca salah satu buku tentang para pejuang dan pemimpin di Tiongkok. Salah satunya Jenis Khan. Sampai sekarang anak cucunya masih bekerja keras mencari kuburan Jenis Khan.
“Pada saat melakukan penelusuran mereka menggunakan metode ilmiah. Mereka menelusuri jejak kuburan Jenis Khan menggunakan metode tes DNA. Karena pada jaman dulu seorang pemimpin besar saat membentuk timnya pasti ada turunannya.

“Dalam pikiran saya seorang pemimpin dalam bentuk sesederhana mungkin akan meninggalkan sesuatu baik dalam tulisan, parasasti atau monumen untuk memudahkan penelusuran,” imbuhnya.

Hal itu yang membuat dirinya terinspirasi membuat kuburan Bapak Daniel Asa agar memudahkan anak cucu mencarinya. Saat ini memang belum terasa tetapi dalam 100-200 tahun kedepan sangat dibutuhkan.

Baca Juga :   Ribuan Penari Likurai Hiasi Pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah di Malaka

Demikian juga dengan buku ini. Saat ini memang terlihat biasa-biasa saja, tetapi 100-200 tahun kedepan orang mau menelusuri tentang pemimpin-pemimpin Malaka dan apa saja yang dilakukan maka buku yang ditulis saat ini sangat membantu.

“Kita tulis buku ini bukan untuk saya tetapi buat anak cucu 100-200 tahun yang akan datang. Yang penting ada sesuatu untuk menerangkan tentang jejak langkah pemimpin Malaka baru dieksplore lebih dalam,” tandasnya.

Buku ini ditulis lanjutnya, bukan untuk dipuji. Mau tulis baik atau tidak dirinya tidak ada kepentingan.
“Saya sangat menghargai karya ini supaya pemimpin yang akan datang terutama pemimpin yang menggantikan bisa mengetahui apa yang dilakukan pendahulunya.
“Prosedur penulisan buku, harus diikuti dan didiskusikan, apa yang dilihat, didengar dan dilaksanakan. Ditulis apa adanya sesuai narasumber yang ada. Harus obyektif,” tuntasnya. (edy sumantri)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top