RAGAM

BKKBN NTT Sosialisasi SDKI kepada Mitra Kerja

KUPANG, Kilastimor.com-Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi NTT mengelar sosialisasi Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, di Hotel Silvia Kupang, Kamis (25/4/2019).

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTT, Marianus Mau Kuru, SE, MPH dalam laporannya menyampaikan persoalan KKBPK di NTT sejak tahun 1979-2019. Masalah utama BKKBN adalah TFR NTT masih tinggi. Sejauh ini, BKKBN hanya berhasil meningkatkan CPR 41,2 persen sehingga ada korelasi antar TFR dan CPR. Disamping itu, durasi penggunaan kontrasepsi masih dibawah tiga tahun. Maka itu, diharapkan kepada peserta KB menggunakan kontrasepsi selama tiga tahun.

“Sasaran khusus kita adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena umnned masih tinggi. Kita tidak boleh hanya sebatas mencari orang untuk mengikuti KB tetapi harus memberikan pemahaman-pemahaman yang baik kepada peserta KB,” ungkap Marianus.

Dia melanjutkan, saat ini stunting menjadi pusat perhatian semua kementerian, karena stunting sangat berbaya bagi pertumbuhan anak. NTT mengalami stunting paling tinggi di Indonesia sama halnya dengan umur harapan hidup masih rendah. Secara nasional umur harapan hidup mencapai 72 tahun, sedangkan di NTT hanya 68 tahun. hal ini ada koherelasi dengan AKI dan AKB.

Marianus juga memyampaikan Rata-rata lama sekolah masih rendah, akibat TFR masih tinggi. Rata-rata lama sekolah di NTT hanya tujuh tahun, sedangkan nasional sudah mencapai sembilan tahun. Sehingga orang yang memiliki banyak anak, kemiskinan makin tinggi.

Baca Juga :   Waki Kota Disebut Bawa Perubahan di Kota Kupang Dua Tahun Terakhir

“TFR tinggi maka IPM rendah. Sebab kesejateraan masih rendah. Di NTT, gizi masih rendah dan berdampak pada pertumbuhan otak anak. Sehingga BKKBN sudah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang ada di NTT.
Pertumbuhan ekonomi NTT sudah mencapai 5,18 persen, sedangkan nasional masih 5,02% tetapi banyak penduduk NTT miskin karena pertumbuhan ekonomi NTT itu dari akomodasi dan rumah makan, bukan dari masyarakat. Kepada semua elemen untuk bersama-sama meningkat ekonomi masyarakat,” paparnya.

Sementara Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pembangungunan BKKBN, Prof. Rizal Damanik, PhD dalam sambutannya menyampaikan persoalan gizi ini menjadi pusat perhatian karena faktor utamanya adalah masalah kependudukan.

Masalah gizi merupakan masalah yang ada dalam kependudukan. Semua elemen harus bekerjasama untuk mengatasi masalah yang sangat serius ini.
Stunting sudah menasional sehingga BKKBN sudah melaksanakan program Kampung KB. BKKBN diminta untuk membuat desa stunting.

Rizal mengajak semua elemen untuk melihat faktor-faktor apa yang menjadi penyebab terjadinya stunting karena masalah stunting sangat kompleks bisa terjadi karena kekurangan air bersih dan lain sebagainya.

“Persoalan TFR ini bisa diatasi jika kampung KB yang ada berjalan maksimal dan pemuda harus sibuk menjalankan aktifitas bukan sibuk dengan urusan yang tidak jelas. Kita harus memperhatikan pola konsumsi masyarakat di pesisir dan pedesaan sehingga sumberdaya manusia bisa baik,” tandasnya.

Baca Juga :   BPD Bisesmus akan Tetap Pertanyakan Lolosnya Hendrik Modok. Nahak: Kita Siap Bertemu

Rizal berharap kepada semua mitra kerja harus melakukan penelitian agar kedepan semua staf dan mitra kerja bisa memahami benar masalah-masalah yang terjadi.

Dirinya berharap BKKBN harus kolaborasi dengan berbagai elemen untuk mengatasi semua permasalahan yang ada. (sany asa)

Loading...
Loading...
To Top