EKONOMI

Tambak Garam Malaka Serap Banyak Tenaga Kerja

Stefanus Bria Seran

BETUN, Kilastimot.com-Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran saat jalan santai, Rabu (3/4/2019), guna melihat potensi Tambak Garam di desa Rabasa, Desa Weseben, Weoe, menyampaikan beberapa pesan.

Dikatakan, pertama, bagi anak Malaka yang lagi studi supaya tetap berkonsentrasi belajar agar segera selesai. Karena besok-besok bisa saja mereka mendapatkan pekerjaan pada tempat yang lagi ditata disini.

Kedua, kepada mereka yang ribut-ribut di luar Malaka, keluar daerah karena mereka pergi mencari pekerjaan lantaran di Malaka tidak ada pekerjaan. Jadi jangan menghalangi. Pasalnya, mereka tidak tahu apa yang sesunguhnya ada disini. Jadi mereka yang diluar dan pergi merantau itu alasan utamanya karena tidak ada lapangan pekerjaan di Malaka.
“Jadi kalau pemerintah membuka lapangan pekerjaan supaya nasib generasi-generasi Malaka jangan seperti mereka pergi merantau untuk mencari pekerjaan disana. Itu tidak boleh,” ujarnya.

Ketiga, kalau para kritikus itu pintar, kaya ilmu pengetahuan dan kaya materi, hendaknya dibawa ke Malaka supaya bersama pemerintah mengurus dan bekerja, agae rakyat Malaka hidup lebih baik.

“Kalau dia kaya ilmu pengetahuan silahkan datang kesini sumbangkan ilmu pengetahuan itu untuk kemajuan daerah Malaka,” pintanya.

Kalau dia itu kaya materi, silahkan datang investasi di Malaka. Pasti didukung agar bisa buka lapangan pekerjaan. “Tentunya bisa dapat keuntungan di daerah ini dan bisa hidup tenang lantaran dekat dengan lingkungan keluarganya. Jangan pergi cari pekerjaaan diluar dan pukul dada bahwa dia orang hebat,” tegasnya.

Baca Juga :   Ini Pesan Bupati Saat Lantik Pengurus KNPI Malaka

Keempat, kepada mereka yang tidak tahu daerah Malaka, tidak punya hubungan emosional dengan Malaka, jangan sok jadi pahlawan mencintai daerah ini. Karena pihaknya lebih mencintai daerah ini.

“Karena kami hidup di daerah ini, kami tumbuh dan besar di daerah ini, kami tinggal, besar dan bekerja di daerah ini sehingga kadar kecintaan kami kepada daerah ini sangat besar, melebihi mereka. Jangan hanya menumpang momen ini untuk mencari sensasi,” timpalnya.

Tadi ungkapnya, dirinya sudah tunjukkan kepada saudara-saudara itu hamparan belukar yang luas dan ditanya kepada pemimpin perangkat daerah apakah hamparan luas yang tidak digarap seperti ini ada efek ekonomi untuk rakyat?
Semua jawab tidak ada efek ekonomi.

Dan kalau tidak ada, apakah pemerintah tahu hamparan seperti ini lalu pemerintah diamkan apakah benar? Lalu dijawab tidak benar.

“Kalau pemerintah yang garap dayanya tidak cukup, sehingga caranya harus undang investor supaya lihat apa potensi dan garap ini,” terangnya.

Sebagai ilustrasi, luas tambak garam yang diizinkan 5.000 ha. Bila per hektar menyerap tenaga kerja sebanyak 6-8 orang maka kita sudah serap tenaga kerja kurang lebih 30 ribu tenaga kerja dengan gaji rata-rata per bulan Rp. 2 juta. Maka uang yang beredar di Malaka per bulan kurang lebih Rp 60 miliar. Itu belum termasuk tenaga bongkar muat, tenaga administrasi di lokasi pabrik garam dan bisa mendongkrak sektor riil di daerah-daerah yang berada disekitar ladang garam.

Baca Juga :   Enam Poin Hasil Rakerkesda Penting Diterapkan di Malaka

“Kita hadirkan investor dan menganut prinsip investasi bersama yakni usaha bersama, kerja bersama, jaga bersama sehingga usaha yang dimiliki menjadi milik bersama yang berlangsung turun temurun. Pemerintah dan rakyat modalnya tanah. Investor datang membawa teknologi dan modal,” pungkasnya. (edy sumantri)

Loading...
To Top