RAGAM

Catatan Pinggir Jelang ETMC 2019 Malaka (1-Bersambung)

Herry Klau

Oleh: Herry Klau

“Bola Itu Bahasa Universal”

Saya mencoba memulai tulisan berseri ini dengan sebuah kutipan yang diambil dari sebuah buku berjudul “Bola Itu Telanjang” yang ditulis senior saya Dion DB Putra, yang sekarang bertugas di Pulau Dewata Bali.

Dalam sebuah ulasan yang menarik, unik dan khas ada kesimpulan otentik yang terpatri dan tak terbantahkan adalah sekelumit goresan sederhana tentang bola yang universal.

Saya membaca berulang-ulang aksentuasi yang tegas, yang prinsipil dan yang sejajar. Harmonis dan cukup memberikan makna yang mendalam. Bahwa ketika berbicara tentang bola, kita serentak berada pada alur dan lingkaran yang sedang mempersatukan berbagai perbedaan.

Siapapun takkan pernah menyangkal bahwasanya Bola menembus batas ruang dan status. Bola mengalahkan egoisme pribadi.
Bola meruntuhkan idealisme individualis. Bola menerjang tuntas beragam warna, etnis dan bahasa. Dan bola menyeragamkan. Bola itu unik dan sekali lagi bola itu universal. Bola itu umum. Bola itu satu dan masih banyak analogi yang bersentuhan ketika bicara tentangnya.

Mengapa mesti bola. Sama seperti musik yang juga adalah sebuah bahasa universal, berbicara tentang bola semua mata akan tertuju pada 22 orang (entah pria entah wanita) yang sedang merebut bola di atas lapangan hijau ukuran 110 x 75 meter itu.
Berbicara bola, setiap orang dengan fanatismenya sendiri-sendiri akan mendewakan timnya masing-masing yang berjuang berpeluh keringat dan bahkan berdarah-darah untuk satu tujuan final, meraih kemenangan.

Baca Juga :   Jelang Akhir Masa Jabatan, Bupati TTU Dilarang Lakukan Mutasi

Bola sebagai bahasa universal tentunya menjadi paham dan aliran setiap orang yang membacanya.

Saya mengawali catatan pinggir awal ini dengan bola karena 1 bulan lagi, tepatnya bulan Juli 2019 seantero warga Nusa Tenggara Timur, Flobamorata tercinta akan dirasuki ceritera dan kisah tentang bola.
Ceritera dan kisah itu akan berpusat dan melingkar di Rai Malaka sebagai penyelenggara El Tari Memorial Cup 2019, setelah sebelumnya dihelat di Kabupaten Ende 2017 silam

Warga NTT akan dipersatukan di Rai Malaka, Kabupaten bungsu yang berbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste ini. Dalam segala kesederhanaan dan keterbatasan, kabupaten yang dibawah pimpinan Bupati dr. Stefanus Bria Seran, MPH akan menerima tamu-tamu istimewa yang datang dari rahim Nusa Tenggara Timur.
Warga NTT akan berkisah panjang tentang sejarah ETMC yang sudah dihelat sekian tahun. Dan di era milenium ini, Malaka pun akan mendapat kesempatan yang sama seperti kabupaten-kabupaten lainnya berdiri dengan kepala tegak menyelenggarakan turnamen 2 tahunan ini.

Tentunya, persiapan-persiapan menjelang penyelenggaraan turnamen ini sudah dilakukan panitia yang terus merapatkan barisan dari waktu ke waktu, yang terus bekerja tak kenal waktu demi suksesnya hajatan terakbar ini.

Teringat kalimat motivasi Bupati Stefanus Bria Seran untuk menjadikan Malaka sebagai penyelenggara terbaik paling tidak untuk 100 tahun le depan, masyarakat Malaka dan panitia terus berjibaku mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya, untuk menjawabnya.

Baca Juga :   Minim Partisipasi Pemilih, KPU Malaka Disorot Saksi Paslon Gubernur dan Wagub

Lantas, apa saja yang menjadi spirit utama Malaka untuk menjadikan ETMC ini sebagai sejarah panjang yang akan ditulis dengan tinta emas, catatan pinggir selanjutnya akan mengulas tuntas semuanya, hingga satu bulan ke depan.

Loading...
To Top