RAGAM

Terima Kapolri Award, Ini Cerita Brigpol Kresna Ola Bangun Rumah Merah Putih di Kenebibi

Kapolres Belu pose bersama Brigpol, Kresna Ola

ATAMBUA, Kilastimor.com-Apresiasi patut diberikan kepada Brigpol, Krispianus Ola Komek. Bagaimana tidak, dalam keterbatasan sarana dan dana, Bhabinkamtibmas Desa Kenebibi, Kakuluk Mesak, Belu itu mampu berbuat lebih. Terkhusus meningkatkan sumber daya manusia di desa tersebut.
Atas inisiasi dan pengorban itu, Kresna Ola sapaan karibnya, mendapat reward atau perhargaan level nasional dari Kapolri, setelah menyabet Bhabinkamtibmas terbaik kedua se-Indonesia.

Kresna Ola yang kepada wartawan di ruang kerja Kapolres Belu, Rabu (26/6/2019) menceritakan suka dukanya berkarya untuk kemanusian itu.
Dia menyebutkan, sejak dirinya dipercaya sebagai Bhabinkamtibmas desa itu, dia awalnya mempelajari kebiasaan dan keadaan masyarakat.
Waktu demi waktu dia mulai mengidentifikasi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat.

Dari hasil pantauan lapangan itu, ternyata banyak anak-anak desa tersebut tidak bersekolah. Hal itu terjadi lantaran banyak orang tua yang buta aksara. “Mungkin karena keterbatasan pengetahuan orang tua, anak-anak pun tidak mau anaknya bersekolah. Jadi anak-anak tidak diperhatikan pendidikannya,” bilang dia.

Karena masalah pokoknya ada pada orang tua, maka dirinya mengambil kesimpulan kalau orang tua yang patut dibuka pikirannya. Tentunya dengan membuat mereka belajar tulis dan menulis.

Saat ia merintis upaya mengentas buta aksara warga Kenebibi, berbagai tantangan dihadapi. Salah satunya gedung dan fasilitas pendukung lainnya. Ditengah keterbatasan, ia tidak patah arang. Dia bahkan menjadikan naungan pohon sebagai tempat belajar bagi para orang tua yang ingin belajar.
Saat dirinya membuka pusat belajar itu, terdapat 60 peserta dan semuanya orang tua yang buta aksara.

Baca Juga :   Banjir di Malaka, Enam Orang Tewas dan Ribuan Hektare Komoditi Pertanian Hancur

Bermodal white board dan spidol dan buku-buku sedanya, ia mulai mengajarkan abjad dan berhitung. Alhasil pesertanya bisa tahu menulis dan membaca. “Penuh kesabaran saya terus mendidik mereka. Syukur semua bisa membaca dan menulis. Hal ini juga berpengaruh langsung pada anak mereka. Dimana mulai di sekolahkan agar lebih pintar,” ujarnya.

Setelah berjalan sekian tahun dia berkreasi, barulah diperhatikan oleh pimpinannya. Akhirnya pada 2018 lalu, dibangun "Rumah Merah Putih" sebagai tempat untuk mendidik warga buta aksara. Disitulah sedikit terbantu baik fasilitas maupun tempat yang representatif.

Kini lanjutnya, peserta belajar kian banyak, karena setiap penerima PKH yang buta aksara, wajib untuk belajar di Rumah Merah Putih. “Saat ini bertambah banyak peserta, karena saya kerja sama dengan pendamping PKH. Jadi yang terima PKH, wajib ikut belajar,” timpalnya sembari menambahkan, ditengah bertambahnya peserta, saat itu juga sejumlah kendala menghantui. Salah satunya yakni tenaga pendamping dan pendidik. Walau demikian, dirinya dengan sabar dan tekun terus mendidik para peserta.

Ditanyai soal jadwal belajar,  suami dari Beatrix Arensdof Lapia itu menyebutkan, jadwalnya hanya Selasa dan Rabu.
Menyoal selain piagam, apakah dalam ajang perhargaan itu juga dijanjikan pendidikan, pria kelahiran Adonara, 6 Juni 1985 itu menjelaskan, tidak ada jaminan apapun soal itu. Namun dirinya akan terus berinovasi termasuk didaerah lain ketika dimutasikan.

Baca Juga :   Tanam Air, Wali Kota Ajak Camat dan Lurah Belajar di TDM

Kapolres Belu, AKBP, Christian Tobing menyatakan rasa bangganya atas prestasi yang diraih. Apa yang dilakukan anggotanya ini merupakan perbuatan luar biasa, terutama dalam meningkatkan SDM masyarakat Kenebibi.
Diharapkan ada anggota lain juga berinovasi demi membangun masyarakat, selain mengatasi masalah ditengah masyarakat. (ferdy talok)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top