EKONOMI

Budidaya Maek Bako Tingkatkan Pendapatan Masyarakat Belu

Bupati Belu pantau maek bako milik Mateus Bere Bau.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Pemerintah Kabupaten Belu dibawah duet kepemimpinan Willybrodus Lay-JT. Ose Luan memiliki salah satu program budidaya maek bako sebutan khas Belu atau porang.

Disetiap kesempatan, Bupati dan Wabup meminta masyarakat Belu untuk membudidayakan tanaman porang demi meningkatkan pendapatan petani. Namun upaya itu mendapat tantangan karena ada rasa pesimistis terus menggelinding sejak program ini digulirkan Bupati Belu pada tahun 2017. Banyak kalangan memandang, bahwa program ini tidak bermanfaat dan hanya membuang-buang anggaran. Kiritikan dan hujatan yang bertubi-tubi, tidak melemahkan nurani dan semangat sosok pekerja keras ini untuk terus memperjuangkan peningkatan ekonomi keluarga petani, melalui budidaya tanaman maek bako.

Awalnya Bupati Belu mengajak sejumlah kelompok tani untuk menanam Maek Bako. Kelompok tani yang diajak tersebut sekarang sudah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, bahkan salah satu warga Desa Dubesi, Kecamatan Nanet Duabesi, Matheus Bouk sudah bisa membeli mobil untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan yang ia miliki.

Seiring waktu, animo masyarakat Belu untuk menanam maek bakopun semakin tinggi. Animo tersebut merujuk data luas areal tanaman maek bako yang dikeluarkan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Belu sebesar 249 ha pada tahun 2018.
Tanaman Maek Bako tidak hanya dikembangkan di Kabupaten Belu, tetapi di seluruh pelosok nusantara, mengingat tanaman porang kini menjadi buruan banyak investor Jepang dan Cina. Harganya yang terus melonjak dari tahun ke tahun, menjadikan banyak petani turut menanam porang selain tanaman pangan lain.

Salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Belu yang ikut mengembangkan tanaman maek bako di wilayah perbatasan adalah Mateus Bere Bau. Tokoh berpengaruh ini menanam 20.000 pohon maek bako diatas lahan seluas 12 hektar are, dari luasan 35 hektar are yang dimiliki.
Diatas lahan seluas itu, tumbuh berbagai jenis tanaman pertanian dan perkebunan. Ia mengaku, kebun miliknya itu mulai digarap tahun 1996 dan sejak adanya Gerakan Lingkungan Hidup, tepatnya tahun 2010, ia pun menerima penghargaan “Kalpataru” di Istana Negara.

Bukan tanpa alasan, tokoh berpengaruh ini ikut-ikutan mengembangkan tanaman maek bako. Setelah mengamati perkembangan tanaman ini, ia menyadari bahwa maek bako yang diprogramkan Bupati Belu merupakan komoditas tanaman perkebunan yang sangat menjanjikan bagi para petani. Program ini benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat kecil.

Dihadapan Bupati Belu Willybrodus Lay, Pimpinan OPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Belu, Camat Lamaknen, Kepala Desa Se Kecamatan Lamaknen dan masyarakat Desa Kewar, Tokoh masyarakat yang juga Anggota DPRD Kabupaten Belu ini bercerita, “Saya pernah semobil dengan Bapak Bupati Belu. Dalam perjalanan saya bertanya, sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Bapak, terkait ajakan kepada masyarakat untuk menanam maek bako. Jawaban singkat dari Bupati waktu itu bahwa, nilai eksport maek bako saat ini udah sampai ke Jepang,” kenang Mateus Bere Bau. Hasil diskusi singkat di dalam mobil waktu itu berbuah kenyataan.

Mateus Bere Bau mengaku, ketika Pemerintah Kabupaten Belu mulai mengalokasikan bibit maek bako pada tahun 2017 kepada kelompok tani di desa-desa yang berada di Kecamatan Lamaknen Selatan, dirinya terinspirasi untuk ikut mengembangkan tanaman bernilai ekonomis tinggi ini.

Ia berinisiatif meminta bibit dari sejumlah kepala desa di Kecamatan Lamaknen Selatan. Setelah mendapatkan bibit dan menanam, ia mulai menggerakan masyarakat untuk mencari bibit maek bako ke hutan-hutan untuk ditanam.
Pada tahun 2018, ia pun mendapat bantuan bibit maek bako dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Belu.

Ia berpendapat, pengembangan tanaman maek bako sangat sederhana, tidak memakan biaya besar dan hanya satu kali tanam untuk selamanya. Oleh karenanya, Tokoh Adat Lamaknen itu mengajak seluruh elemen masyarakat Kecamatan Lamaknen untuk mendukung program penanaman maek bako yang sudah digalakkan Bupati Belu.

“Kita harus dukung program ini dengan mengembangkan tanaman maek bako, karena tanaman bernilai eksport tinggi,” ujar Mateus Bere Bau.
Anggota DPRD empat periode itu juga meminta, agar Pemerintah terus memperkenalkan tanaman maek bako secara luas kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Belu.

“Kalau ada isu-isu yang mengatakan bahwa maek bako itu adalah program yang dibuat-buat saja oleh bupati, jangan percaya, karena itu isu bohong dan dusta. Kita tidak boleh ikut isu-isu yang tidak jelas, karena kita sendiri sudah rasakan manfaatnya secara langsung,” tukasnya.

Estimasi Nilai jual Porang

Dalam hitungan normal, 1 (satu) pohon tanaman porang dapat menghasilkan umbi seberat 2,5 kg. Harga jual umbi mentah dipasaran sebesar Rp 2.500 per kilo gram. Jika melihat harganya, bisa dihitung nilai ekonomisnya sebagai berikut: 2,5 kilo per umbi x Rp 2.500 maka didapat Rp. 6.250. Jika anggota DPRD Kabupaten Belu ini menanam 20.000 pohon porang, dapat dihitung financial analisis sebagai berikut: 2,5 kg x 20.000 umbi = 50.000 kilo. Jika dikalikan dengan Rp 6.250 per umbi maka didapat Rp 312.000.000. Wow…sebuah hasil yang luar biasa.

Kembali kepada program pemberdayaan masyarakat, kedua pemimpin wilayah (Willy – Ose) ini benar-benar meletakan Visi Belu Mandiri dalam mengangkat harkat dan martabat rakyat Belu di daerah perbatasan. Konsep pemberdayaan kedua pemimpin Belu ini terarah dan terukur sesuai bingkai Nawa Cita Ketiga Presiden RI, Membangun Indonesia Dari Pinggiran.

Ketika berkunjung ke Desa Kewar, Bupati Belu mengaku, kehadirannya di kebun milik tokoh adat berpengaruh ini, adalah untuk mendorong etos kerja petani dalam memenuhi kesejahteraan ekonomi rumah tangga mereka melalui budidaya tanaman maek bako. Ia menyampaikan bahwa, nafas kesejahteraan harus dirasakan oleh seluruh rakyat Belu.

Atas kesungguhan dan konsistensi dirinya dalam melaksanakan program pemerintah, Bupati Belu mengapresiasi dan menokohkan tokoh berpengaruh ini sebagai Petani Teladan. Ia dianggap, berhasil menciptakan kemandirian dalam sector pertanian dan perkebunan, termasuk mengangkat nasib para petani dilingkungan sekitar.

Pemerintah Kabupaten Belu selalu optimis melakukan pendekatan agronomi, karena pendekatan seperti ini menyediakan banyak solusi dalam meningkatkan kesejahteraan petani. (ferdy talok/dvertorial).

Komentar
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top