RAGAM

Dikunjungi Delegasi Negara g7+, Bupati Belu dan Bobonaro Beberkan Perbatasan RI-RDTL yang Damai

Bupati Belu dan Bobonaro potong kue dalam kunjungan Negara g7+

ATAMBUA, Kilastimor.com-Delegasi Negara g7+ mengunjungi PLBN Motaain, Rabu (28/8/2019). Delegasi yang hadir antara lain, Menteri Sosial Afrika Tengah, HE Virginie Baikova, Mr. Bienvenu Herve Kovongbo, Direktur Multilateral Cooperation Afrika Tengah, Ambasador Ruzoviyo Guilliaume, Presiden of the Nations Unity and Reconcilliation, Mr. Edward Mubah, Executive Director of Liberia Peace Building Office, Rambang Luth dan Augusto Jr. Nelmida Miclat, dan Executive Director Initiatives for International Dialogue Filipina.

Kunjungan delegasi negara g7+ yang beranggotakan Timor Leste, Afrika Tengah, Burundi, Sudan Selatan, Guinea Bissau, Liberia dan Filipina bertujuan untuk melihat perbatasan RI-RDTL yang aman dan damai. Pasalnya negara g7+ lainnya itu, masih dilanda konflik berkepanjangan, tidak seperti Indonesia-Timor Leste.

Bupati Belu, Willybrodus Lay bersama Forkopimda menerima delegasi negara g7+ yang didampingi Dubes Indonesia untuk Timor Leste, di PLBN Motaain, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Indonesia.

Delegasi g7+

Bupati Willybrodus Lay dalam sambutannya saat menerima delegasi g7+ mengemukakan, Timor Leste dan Timor Barat Indonesia, berada dalam pulau kecil yang namanya pulau timor. Luas pulau sekira 30.000 kilo persegi dengan penduduk 3,5 juta.

Masyarakat Timor Leste dan Belu, Indonesia, merupakan satu ras dan budaya yang sama, termasuk bahasa yakni bahasa tetun. Tetapi dalam pulau kecil ini, ada dua negara yakni Timor Leste dan Indonesia, yang hidup berdampingan secara damai.

Baca Juga :   KPU Malaka Uji Publik Dapil dan Alokasi Kursi DPRD

Dikemukakan, Komisi Kebenaran dan Perdamaian (KKP) yang dibentuk pasca refferendum 1999, telah menjaga stabilitas negara. Timor Leste kini menjadi negara berdaulaut setelah memisahkan diri dengan Indonesia. “Saat ini, kerja sama terus ditingkatkan baik ekonomi, sosial, budaya dan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Selain itu ada kerja sama olahraga perbatasan juga konser musik perbatasan, serta festival budaya yang melibatkan warga di kota perbatasan,” sebutnya.

Dikemukakan, hari ini pihaknya mendapat kunjungan bermartabat, dan semoga menjadi inspirasi dan keyakinan untuk menjaga perdamaian di perbatasan RI-RDTL.

Pada kesempatan itu, dia mengajak warga kedua negara untuk melangkah kedepan secara bersama menuju era globalisasi.

Willy Lay sapaan karibnya berterima untuk pemerintah dan warga Indonesia dan Timor Leste yang telah menjaga perbatasan.
Bupati Belu itu juga mengucapkan selamat ulang tahun refendum ke 20 Timor Leste.

Sementara itu, Bupati Distrik Bobonaro, Timor Leste, Severino Soares dos Santos mengemukakan, warga perbatasan RDTL-RI selama ini hidup bersama dan damai sekali. Karena kedamaian itu, semua bisa menjalankan kehidupan di masing-masing negara. “Kami selalu berpartisipasi dalam kegiatan di Belu maupun di Maliana,” terang dia.

“Kedua negara ini beradik kakak, terutama di garis batas. Hal itulah yang memudahkan kedua negara aman dan damai. Warga kedua negara saling mengungjungi karena ada border pas atau pas masuk batas secara gratis, walau radius dan waktunya terbatas. Inilah hubungan luar biasa antara Timor Leste dan Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga :   Para Kandidat Bupati/Wakil Bupati Malaka Masih Menanti Putusan Parpol

Salah satu anggota KKP Timor Leste, Hugo Fernandes dalam narasinya mengatakan, Komisi kebenaran dan Perdamaian Indonesia dan Timor Leste telah bekerja dan berjanji untuk tidak mengulangi sejarah kelam yang terjadi pasca referendum.

Kedua negara lanjutnya, telah menerima dengan kelapangan jiwa atas hal-hal yang terjadi. Sejarah yang terjadi harus menjadi landasan untuk maju kedepan, untuk kedua negara baik Indonesia maupun Timor Leste. (ferdy talok

Loading...
Loading...
Loading...
To Top