RAGAM

Inilah Eks Penjara Belanda untuk Mengurung Napi dan Tahanan dari Daratan Timor, Rote dan Sabu

Inilah eks penjara Belanda yang kian rapuh dan tak terawat.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Bagi kebanyakan masyarakat NTT, khususnya daratan Timor, Rote dan Sabu tidak mengetahui keberadaan Lembaga Pemasyarakatan atau penjara zaman Belanda. Khusus untuk daratan Timor hingga Rote dan Sabu hanya menggunakan satu penjara untuk menghukum penjahat.
Ternyata penjara milik Belanda, yang digunakan hingga Indonesia merdeka, terletak di lingkungan Merdeka, Kelurahan Atambua, Kecamatan Atambua, Kabupaten Belu.

Gasper U. Medah

Pantauan media ini, Kamis (12/9/2019), eks penjara Belanda hingga Indonesia itu, tidak terawat dan ditumbuhi semak belukar.
Hitungan media ini, penjara lama tersebut memiliki 10 ruang tahanan dan 1 ruang kantor. Sungguh peninggalan sejarah itu, kian rapuh, dan tembok-tembok mulai retak dan usur termakan usia.

Diluar gedung eks penjara, terlihat, ada sumur tua yang masih dimanfaatkan hingga kini. Sementara kamar mandi dan WC telah rusak dan rata dengan tanah.
Dikawasan itu, terlihat beberapa warg eks Timor-Timur membangun rumah darurat untuk ditinggali.

Gasper U. Medah, salah satu pensiunan polisi yang bertugas di Belu sejak tahun 1978 mengaku sangat mengenal penjara untuk penjahat dari daratan Timor hingga Rote dan Sabu itu. Baik tahanan maupun narapidana ditempatkan di eks Penjara Belanda itu.

Dia mengemukakan, penjara itu sudah ada sejak lama ketika Belanda masih menduduki Belu dan Indonesia belum merdeka. Hanya saja dirinya tidak mengetahui tahun pembangunan penjara itu.
Ketika dirinya bertugas Polres Belu, penjara di Atambua itu sudah ada, dan sebagai polisi sering bertugas mengamankan penjara itu.

Baca Juga :   Sekwan Enggan Berkomentar Soal Dua Unit Mobdin Pimpinan DPRD Belu. Modin Pimpinan Dialihkan ke Komisi

Dia menjelaskan, saat itu Kepala Penjara Atambua adalah almarhum Stanis Klau. Sedangkan staf saat itu sekita enam orang. Mereka diantaranya, Om Klemens Kali, Om Lapia, Martinus Keys, Bere Mau, Longginus Bere dan Wayan Rista.

Disebutkan, penjara untuk daratan Timor hingga Rote dan Sabu, hanya ada di Atambua. Bagi pelaku kehajatan yang terancam hukuman diatas 10 tahun, maka dibawa ke Penjara Atambua.

“Kalau ada pelaku kejahatan dari Rote, Sabu, Kupang, TTS dan TTU yang terancam 10 tahun penjara akan dibawa ke Atambua. Kalau tidak ke Atambua, maka dibuang ke Nusa Kembangan. Jadi kalau pelaku tidak dibawa ke Atambua, maka dibawa ke Nusa Kembangan. Dulu penjara ini penuh dengan penjahat,” tuturnya.

Masih segar dalam ingatannya, salah satu penjahat adalah Anton Asa yang telah meninggal dunia. Dia bisa keluar penjara sekalipun dikunci pintunya dan diduga dia menggunakan kakaluk atau kekuatan rumah adat.

Masih menurut Medah, penjara itu dipindahkan ke gedung baru di Kilo 3 Atambua, sekira tahun 1980-an. Dengan berpindah tempat, penjara lama ditutup hingga sekarang.

Ini salah satu kamar penjara yang ditumbuhi semak belukar.

Dia mengaku miris dengan situs sejarah tersebut yang tidak diperhatikan dan dipugar.
Pensiunan polisi dengan pangkat Kapten (AKP) itu meminta Pemda Belu melalui Dinas Pariwisata, untuk segera memugar penjara Belanda itu, agar menjadi destinasi wisata sejarah.
“Ini perlu dipugar oleh pemerintah. Bisa jadi destinasi sejarah yang menarik. Karena bukan saja penjara bagi orang Belu, tapi seluruh daratan Timor Barat hingga Rote dan Sabu,” pintanya. (ferdy talok)

Baca Juga :   Wairata: Perlu Sinergitas dalam Pembangunan Pariwisata Kota Kupang
Loading...
Loading...
To Top