EKONOMI

Petani Garam Magekapa Ende Keluhkan Harga Garam yang Rendah

Inilah garam yang diproduksi Petani Magekapa

ENDE, Kilastimor.com-Tambak garam di Desa Magekapa, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende ini telah beroperasi sejak tahun 2014 silam. Kini sudah memasuki tahun yang kelima.
Tambak garam Magekapa ini menjadi satu dari beberapa tambak garam yang ada di kabupaten Ende.

Cikal bakal pembuatan garam ini didasari oleh sebuah perubahan pola hidup masyarakat menuju petani mandiri dan mapan secara ekonomi. Disamping itu ditunjangi oleh lokasi tambak garam yang sangat strategis dan kadar air garam dengan kualitas bagus untuk diproduksi.

Awal pembukaan lahan tambak garam ini, masyarakat masih mengerjakannya secara manual yakni dengan membuat petak sawah, dipukul dan diratakan barulah diisi dengan air dari sumur yang memiliki kandungan garam. Ini dilakukan dengan susah payah dan memakan waktu yang sangat lama. Semuanya dijalani oleh masyarakat petani garam Magekapa dengan penuh kerja keras dalam semangat kegotong royongan.

Nikodemus Lima salah seorang petani garam Desa Magekapa kepala Kilastimor.com Rabu (25/9/2019)
mengaku, pada tahun 2016, kelompok Petani Garam Pugar mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat melalui Dinas Kelautan dan Perikanan. Bantuan itu berupa terpal geo membran yang berfungsi sebagai tempat petak, untuk proses pembuatan garam. Disamping itu ada juga bantuan berupa selang dan mesin isap. “Semuanya sungguh mempermudah pekerjaan. Dengan ini petani garam sudah tidak cape lagi seperti ketika membuat sawah garam secara manual,” katanya.

Baca Juga :   2.672 Warga Belu dan Malaka Dapat Bantuan Listrik Gratis

Lanjut Niko, kalau dikerjakan secara manual, biasanya baru bisa menghasilkan garam kurang lebih sekitar 2-3 minggu. Tapi semenjak menggunakan geo membran dan mesin isap, garam sudah bisa dipanenkan hanya dalam kurun waktu 5 (lima) hari.

Dikatakan, lahan sawah garam yang berukuran kurang lebih 5 hekatre ini, digarap oleh semua warga Desa Magekapa. Setiap kepala keluarga (kk) hampir memiliki lahan sawah garam ini. Mereka mengaku sangat senang dan bahagia ketika hasil yang dicapai diimbangi dengan harga yang baik.

Sementara itu, Pjs. Kepala Desa Magekapa, Yanuarius Sana menjelaskan, adanya tambak garam ini, ada penguatan ekonomi kerakyatan dan kedepan terus ditingkatkan. Penguatannya direncanakan melalui BUMDes, sehingga garam Magekapa ini memiliki nilai dan mata rantai ekonomi yang baik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pengakuan beberapa petani garam pugar bahwa harga jual di tahun 2017 hingga 2018 berkisar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 perkarung.
Namun di Tahun 2019 ini, harga garam sungguh anjlok begitu drastis dimana hanya Rp 30.000 perkarung.

Tengkulak membeli garam dengan harga yang sangat rendah. Kenyataan ini sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapakan. Produksi garamnya melimpah namun harganya jauh dari yang diharapkan. Kondisi ini yang membuat masyarakat petani garam pugar Magekapa resah dan mengeluh.

Akibat dari rendahnya harga garam, petani garam pugar Magekapa mengaku pasrah dan bingung. “Mau tidak jual takut garam mubasir kalau jual resiko harganya rendah. Inilah yang menjadi pemicu perekonomian masyarakat Magekapa juga semakin memprihatinkan. Kebutuhan keluarga dan anak sekolah, hampir-hampir tidak bisa terpenuhi. Itu dikarenakan banyak dari petani garam pugar yang menggantungkan harapannya dengan bekerja sebagai petani garam,” bilang Ny. Elisabeth.

Baca Juga :   Wabup Belu Lantik 240 Pejabat. "Pejabat Harus Loyal pada Struktur"

Ny. Elisabeth yang adalah warga Dusun Nggemo 1, berharap petani garam pugar di Magekapa ini mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk memecahkan masalah harga garam ini. “Kami tidak tau harus mengadu ke mana? Karena tengkulak memberikan harga yang cukup rendah dan sangat miris. Pemerintah Kabupaten Ende bisa, membangun pabrik garam di Magekapa sehingga petani memiliki harga yang pasti dan tidak ada lagi harga garam yang jauh dari harapan,” tutupnya. (eb)

Most Popular

To Top