TIMOR

Willy Lay: Terbukti Manipulasi, Kami Anulir dari SK Teko Guru

ATAMBUA, Kilastimor.com-Bupati Belu, Willybrodus Lay yang dikonfirmasi terkait pengaduan guru ke DPRD Belu atas terbitnya SK pengangkatan guru dan operator sebagai tenaga kontrak (Teko) Kabupaten Belu mengemukakan, dirinya sangat sepakat untuk dilakukan revisi nama-nama guru yang tercover dalam SK Bupati Belu.

Akan tetapi bilang dia, pihaknya guru yang mengadukan hal itu harus bisa membuktikan kalau teko guru yang termuat dalam SK, tidak menjalankan tugas, atau masa pengabdian tidak sesuai sebagaimana tertera dalam SK.
“Jika ada pembuktian soal itu, maka saya akan anulir nama-nama yang terbukti tidak mengajar dan menjadi operator. Saya tidak akan tolerir hal itu,” bilangnya ketika dihubungi, Selasa (17/9/2019).

Dikemukakan, pengangkatan tenaga guru masuk dalam teko, berdasarkan keprihatinan dirinya, karena ada guru mengabdi begitu lama, namun tidak diangkat sebagai tenaga kontrak. Kemudian pemerintah mengalokasikan anggaran untuk mengangkat 204 guru dan operator masuk dalam SK Teko Kabupaten Belu tahun 2019.

Dia menjelaskan, sesuai arahan dirinya, guru yang diakomodir sebagai teko, harus mengabdi diatas lima tahun. Dan hasil validasi Inspektorat Belu, diangkatlah guru yang mengabdi diatas enam tahun. Harusnya hasil verifikasi dan validasi Inspektorat yang dipakai.

Willy Lay melanjutkan, dirinya menginstruksikan untuk diakomodir yang telah lama mengabdi. Jika terbukti ada yang tidak mengabdi sebagai guru dan operator, maka akan dianulir. “Kami akan anulir jika terbukti ada manipulasi data. Silahkan para guru sampaikan bukti-buktinya,” ujarnya.

Baca Juga :   Gubernur: NTT Harus Dapat Benefit dari Kepemilikan Komodo

Sebelumnya, dalam rapat dengar pendapat DPRD dengan para guru, yang dipimpin Ketua Sementara DPRD Belu, Jeremias Manek Seran Jr, Selasa (17/9/2019) diputuskan akan disampaikan rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Belu untuk merevisi SK Bupati Belu tentang pengangkatan tenaga guru sebagai tenaga kontrak.

Sementara itu, salah satu guru, Maria Fatima Bete kepada media ini mengaku kecewa karena telah mengabdi selama 11 tahun, namun tidak diakomodir sebagai tenaga kontrak. “Data kami sudah dimasukan semua ke dinas. Tapi diakomodir yang tahun pengabdian dibawah dirinya. Dimana keadilan,” ujarnya bertanya.

Sementara itu, Emi Seran Wilik menjelaskan, dirinya sudah mengabdi sembilan tahun, namun tidak terakomodir. Malah salah satu guru yang tidak mengabdi di Raihat, dimasukan dalam SK Teko. “Kami menuntut SK direvisi demi keadilan,” pungkasnya. (ferdy talok)

Loading...
Loading...
To Top