HUKUM & KRIMINAL

Lelang Lobster Sitaan Polairud Polda NTT Diduga Bermasalah

KUPANG, Kilastimor.com-Dua nelayan asal Nusa Tenggara Barat, Saharulah dan Basri telah divonis PN Kupang, karena melakukan penangkapan lobster tanpa SIPI. Keduanya ditangkap oleh pihak Polairud Polda NTT.

Namun proses hukum atas kedua nelayan tersebut, masih meninggalkan masalah lain yang belum terungkap secara jelas. Salah satunya adalah hasil tangkapan nelayan, berupa lobster sekira 600 kilo gram yang belum diketahui keberadaannya.

Bahkan santer terdengar kalau hasil tangkapan dua nelayan itu telah dijual secara sepihak, tanpa melalui pelelangan barang bukti yang disita.
Jika benar barang sitaan dijual pihak Polairud Polda NTT, maka hal itu dinilai cacat hukum. Pasalnya hasil tangkapan kedua nelayan yang disita tersebut, harusnya dilelang bukan dijual kepada pihak tertentu saja.

Direktur UD. Blue Ocean, Harli Raharjo yang juga salah satu pengusaha lobster yang ditemui media ini disela video conference yang dilakukan di BKIPM Kupang, Senin (28/10/2019) mengemukakan, dirinya telah membeli lobster hasil sitaan Polairud Polda NTT. “Kami ditelepon pihak Polairud untuk membeli lobster hasil tangkapan dari dua nelayan tersebut,” bilangnya.

Dikatakan, dirinya mengetahui lobster yang dibeli, karena nelayannya bermasalah. Namun dirinya terpaksa membeli karena sudah ditawar oleh pihak Polairud Polda NTT.

Menyoal harga lobster sitaan dari dua nelayan NTB itu, dia mengaku lupa soal harga lobster yang dibelinya. Lobster yang dibeli sekira 600 kilo. “Untuk lebih jelas, silahkan tanya pihak Polairud,”

Baca Juga :   HUT ke-32 THS-THM: Kekuatan THS-THM Tidak Pada Fisik, Tapi Batin

Sementara itu, salah satu Pengusaha Lobster di Kota Kupang, Willy Stephanus yang diminta komentarnya mengemukakan, dirinya tidak mengetahui adanya penjualan lobster sitaan Polairud Polda NTT. “Kami tidak tahu apapun, soal penjualan lobster sitaan,” bilangnya.

Sebagaimana biasanya kata Willy, pihaknya diundang jika ada pelelangan barang sitaan Polairud. “Biasanya mereka (Polairud) menggunakan surat resmi setiap ada pelelangan. Khusus untuk pelelangan lobster yang disita dari nelayan NTB itu, kami tidak dapat undangan,” paparnya.

Pemilik UD Ariesta Wijaya melanjutkan, namanya pelelangan harus terbuka, tidak bisa hanya segelintir orang.
Karena itu, sampai detik ini dirinya masih mempertanyakan persoalan pelelangan yang dilakukan oleh Polairud Polda NTT. “Saya menilai pelelangan yang dilakukan tidak sesuai prosedur pelelangan,” ungkap Willy.

Pihak Polairud Polda NTT yang dikontak via layanan WA, hingga kini belum merespon. (sani asa)

Loading...
Loading...
To Top