TIMOR

Nama Diganti dalam SK Revisi Bupati Belu, Guru Honorer Kembali Mengadu ke DPRD

Para guru honorer mengadu ke DPRD Belu.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Surat Keputusan (SK) Bupati Belu terkait revisi pengangkatan 204 Tenaga Kontrak (Teko) guru dan operator di Kabupaten Belu, masih menyisahkan masalah. Pasalnya, banyak nama guru yang dihapus dari SK sebelumnya, dan digantikan dengan guru yang tahun mengajarnya dibawah para guru sebelumnya. Bahkan dalam SK yang direvisi itu, masih bermasalah karena sarjana peternakan dan hukum diangkat menjadi teko di sekolah dasar. Bahkan banyak guru bahasa inggris ditempatkan di SD.
Hal ini dikemukakan para guru dalam pertemuan dengan DPRD Belu, Selasa (8/10/2019).

Sesuai pantauan media ini, rapat yang dipimpin anggota DPRD Benediktus Hale mendengar dan mencatat keluhan para guru. Para guru begitu geram dengan SK revisi itu. Pasalnya, banyak nama-nama baru yang muncul yang dinaikan tambah masa pengabdian untuk menggantikan mereka. Padahal usia pengabdian tidak sesuai syarat yang ditentukan.

Guru SDN Wira Sakti, Octaviani Astuti Wirata dalam pengaduannya menyebutkan, dalam SK revisi yang ada, banyak data yang direkayasa, banyak nama guru baru yang muncul. Dalam SK lama, namanya ada, sementara SK revisi namanya tidak ada. Padahal ia mengaku berdasarkan data Dapodik, ia sudah mengabdi 8 tahun 9 bulan.
“Data Dapodik, saya sudah mengabdi 8 tahun 9 bulan. SK lama saya ada nama, SK baru saya tidak ada nama dan hanya 7 tahun. Ini tidak adil dan penuh rekayasa,” sebutnya.

Baca Juga :   TNI Gelar TMMD di Lasiolat Belu. Danrem: TNI Kerja Bersama Rakyat

Adrianus Mali, guru SD Tala mengaku sangat kecewa SK revisi yang diterbitkan. Pasalnya, verifikasi dan validasi tidak valid dan hasil akhirnyapun hanya memunculkan masalah.

Henderika Kolo Tes, guru SDK Manleten mengatakan, dalam SK pertama ada nama sementara SK yang direvisi tidak ada nama. Padahal ia sudah 9 tahun 9 bulan mengabdi.
“Saya dari 2009 sesuai data Dapodik. Saya sudah ada Nomor Unik Pendidik Tenaga Kependidikan (NUPTK) dari Kemendikbud, berarti sudah sah sebagai guru,” katanya.

Dalam pengaduan tersebut, terungkap ada beberapa guru yang memeliki NUPTK tetapi tidak diangkat sebagai Teko dalam SK revisi, padahal SK pertama ada.

Kejanggalan lain yakni ada guru Teko yang dianggkat dan datanya sudah 12 tahun mengabdi, padahal di sekolah yang bersangkutan mengabdi, baru didirikan 3 tahun. Dari mana data 12 tahun mengabdi.

Marianus Laka, salah satu guru SMP Lamaknen menyebutkan, dirinya sudah mengabdi 8 tahun, namun ditiadakan ketika SK Revisi diterbitkan. Padahal ada sejumlah guru yang baru wisuda 2015, malah masuk dalam SK Revisi Bupati Belu.

Mereka berharap ada keadilan, dan kembali direvisi, sebab masa kerja mereka sangat pantas untuk masuk dalam SK. Perlu dilakukan validasi data, karena banyak rekayasa pengurangan dan penambahan masa kerja.

Sementara itu, Manuel Petrus Berek guru SD Kimbana dan Juliana Luruk guru SMPN 1 Tasbar Lakafehan mengemukakan hal yang sama. Ketidakadilan sangat terlihat dan manipulasi sangat kuat.

Baca Juga :   SBS: 75 Anggota Paskibra Merupakan Representasi Pemuda Malaka yang Istimewa

Anggota DPRD Belu, Rofinus Manek mengatakan, berdasarkan pengaduan, tercatat delapan hal yang dianggap bermasalah diantaranya, ada manipulasi masa kerja, guru mata pelajaran menumpuk, kelaikan mengajar dimana ada guru sarjana perternakan dan hukum mengajar SD, data yang diambil Dinas PK, Inspektorat tidak berdasarkan Dapodik dan ada guru yang baru wisuda. Disamping itu ada guru yang berhenti mengajar diangkat sebagai teko serta ada penggabungan masa kerja.

Dia menilai, SK revisi yang ada tetap bermasalah. Karena itu, perlu dilakukan hearing.

Hal senada disampaikan anggota DPRD, Benediktus Hale, Mundus Nuak Tita dan Beny Manek. Mereka menilai SK yang ada bermasalah dan perlu ditinjau kembali. Pihaknya akan mendorong dilakukan gearing dengan Dinas PK, Inspektorat dan BKPP.

Anggota DPRD Belu yang hadir yakni, Benediktus Hale, Manek Rofinus, Edmundus Nuak, Benedictus Manek, Sari Bere, Melkyaris Lelo, Dewi Arimbi Ballo, Regina Mau Loe, Oscar Haleserens, Marthen Martins Naibuti dan Yakobus Manek. (ferdy talok)

Loading...
Loading...
To Top