HUKUM & KRIMINAL

Tujuh Pelaku Persekusi Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara

Kasat Reskrim Polres Belu tunjukan barang bukti yang digunakan untuk menganiaya NB.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Tujuh pelaku persekusi atas korban NB, resmi mendekam dalam tahanan Polres Belu. Ketujuh pelaku diduga kuat melakukan tindak pidana penganiayaan dan kekerasan terhadap anak.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing melalui Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Sepuh A.I. Siregar dalam jumpa pers, Rabu (30/10/2019) di Mako Polres Belu mengemukakan, kejadian persekusi atas korban NB, cukup mengejutkan buat masyarakat Malaka, NTT maupun Indonesia, sebagaimana dalam video yang viral.
Dimana seorang anak perempuan yang masih dibawah umur dianiaya dengan cara tangannya diikat pada bagian siku, kemudian digantung pada kuda-kuda atap rumah, dan kemudian dipukul atau ditendang.

Atas kejadian tersebut, Polres Belu melalui Polsek Kobalima menerima laporan dari keluarga korban penyiksaan tersebut, dan laporan resminya tepatnya pada 24 Oktober 2019. Atas laporan tersebut, Polsek Kobalima membuat laporan polisi dengan nomor LP/26/X/2019.
Polsek Kobalima kemudian berkoordinasi dengan Satuan Reskrim Polres Belu untuk melakukan penyelidikan yang intensif, terutama pemeriksaan terhadap saksi-saksi pada hari Senin lalu. Selasa kemarin, Satreskrim Polres Belu telah berhasil mengamankan tujuh orang yang diduga sebagai pelaku dari tindak pidana kekerasan terhadap anak tersebut.

Adapun para pelaku sebutnya, Paulus Lau (PL) berstatus Kepala Desa Babulu Selatan, Kabupaten Malaka. Kemudian Margareta Hoar (MH), Endik Kasa (EK), Bene Bau (BB), Domi Berek (DB), Marsel Ulu (MU) dan Melki Tes (MT).

Baca Juga :   Penjual Kayu Bakar Temukan Jasad Purnawirawan TNI di Kimbana

Dikemukakan, tindak pidana kekerasan terhadap anak tersebut terjadi pada Kamis (17/10/2019) sekira jam 11.30 WITA bertempat di teras Posyandu di Dusun Beitahu, Desa Babulu Selatan, Kecamatan kobalima, Kabupaten Malaka.

Adapun kronologi kejadiannya yakni, saat itu korban NB dituduh telah melakukan pencurian cincin. Namun tanpa ada alasan atau bukti yang kuat para pelaku ini langsung melakukan penghakiman terhadap korban ini korban kemudian dibawa ke TKP, disuruh untuk mengaku. Namun karena korban tidak mengaku juga akhirnya korban disiksa seperti video yang sudah beredar tersebut. Bentuk Siksaan terhadap korban dari para pelaku bermacam-macam, ada yang melakukan tamparan, pukulan dengan dengan kepalan, ada juga tendangan.

Semua ujarnya, dilakukan pada saat korban setelah dalam posisi kedua sikunya diikat dan digantung pada kuda-kuda atap rumah. Korban digantung diduga pelaku PL selaku Kepala Desa Babulu Selatan.

Karena merasa kesakitan imbuh Kasat, akhirnya korban terpaksa mengaku, kalau yang bersangkutan mencuri cincin milik tetangga. Korban mengaku hanya ingin lepas dari siksaan tersebut.
Setelah pengakuan tambahnya, akhirnya korban dilepaskan dari gantungan disuruh untuk mencari barang yang diduga dicuri, dengan cara korban dijambak rambutnya diseret ke rumahnya.
Pada saat itulah korban punya kesempatan untuk kabur. korban kabur ke sumur di belakang rumahnya, sampai sore hari dan ditemukan ibu kandungnya.

“Motivasi dari para pelaku ini, karena malu sebab NB dituduh mencuri cincin. Para pelaku masih berstatus keluarga dengan korban. Mereka merasa malu dan marah terhadap korban,” ujarnya.

Baca Juga :   Puskesmas Betun Dibangun Berstandar Nasional

Para pelaku sebutnya, dijerat dengan pasal 80 ayat 1, jo pasal 76 c, UU 35 Tahun 2014, tentang perubahan atas UU 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, jo pasal 170 ayat 1 dan ayat dua ke 1e, KUHP. Dengan ancaman 10 tahun penjara.

Disebutkan, pihaknya berhasil mengamankan barang bukti berupa tali untuk menggantung NB, dan sebatang kayu yang digunakan untuk memukul korban.

Penyidik lanjutnya, akan segera menuntaskan berkas perkara, untuk kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Belu. (ferdy talok)

Loading...
Loading...
To Top