HUKUM & KRIMINAL

PT Kupang Bebaskan Basri Nelayan Asal NTB. “Semua Barang Bukti Harus Dikembalikan kepada Nelayan”

KUPANG, Kilastimor.com-Pengadilan Tinggi (PT) Kupang, dalam putusannya Nomor 226/PID/2019/PT KPG tertanggal 13 November, membebaskan, Basri nelayan asal Sumbawa, Provinsi NTB yang sebelumnya divonis penjara oleh PN Kelas IA Kupang.

Copyan Akta Pemberitahuan Putusan Pengadilan Tinggi Kupang Nomor 40/Akta Pid/2019/PN Kupang yang diterima media ini, Selasa (26/11/2019), ditandatangani Juru Sita PN Kupang, Deolinda Da Silva dan Kuasa Terbanding, Gerge Diter Nakmofa.

Dalam akta tersebut menyebutkan, PN Kupang telah memberitahukan putusan Pengadilan Tinggi Kupang kepada Terbanding (semula terdakwa) Basri, terkait putusan tersebut.
Adapun amar putusan itu berbunyi, mengadili: 1. menerima banding dari penuntun umum. 2. Membatalkan putusan PN Kupang, Nomor 209/Pid. Sus/2019/PN Kupang tertanggal 3 Oktober 2019 yang dimohonkan banding oleh Penuntut Umum tersebut.

Dalam konsiderans mengadili sendiri: 1. Menyatakan terbanding semula terdakwa Basri, tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan perbuatan sebagaimana didakwa oleh penuntut umum. 2. Membebaskan terbanding (Basri) dari dakwaan penuntut umum. 3. Memulihkan kedudukan harkat dan martabat terbanding seperti semula. 4. Menetapkan barang-barang bukti diantaranya KM Yuliani Indah GT 12, uang Rp 57 juta dari lelang lobster sebanyak 304 kilo dan sejumlah dokumen yang diambil dan barang bukti lain, untuk dikembalikan kepada terbangding yang semula terdakwa, Basri. 5. Membebani pembayaran perkara pada kedua tingkat peradilan kepada negara.

Diberitakan media ini sebelumnya, proses penyidikan terhadap dua nelayan asal Sumbawa yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Pol Airud) Polda NTT dipertanyakan.
Pasalnya, ada sejumlah kejanggalan ditemukan dalam penyidikan terhadap Saharullah selaku Nahkoda dan Basri.

Baca Juga :   100 TKM Malaka Diberi Skill untuk Tingkatkan Ekonomi Keluarga

Berdasarkan kronologi yang didapat media ini menyebutkan, pada 12 Agustus 2019 lalu, Saharullah bersama Basri dan sejumlah ABK masuk ke Pelabuhan Perikanan Tenau. Para nelayan asal NTB itu membawa hasil tangkapan berupa lobster.

Setelah sandar, pihaknya kemudian didatangi pihak Pol Air Polda NTT, untuk melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan itu, ditemukan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) untuk NTT telah habis masa waktu sejak Maret 2019 lalu. Sementara SIPI asal NTB masih aktif atau berlaku.
Karena SIPI NTT yang telah kadaluarsa, Pol Air kemudian menahan nahkoda kapal Juliani Indah, Saharullah dan Basri.

Pages: 1 2

Most Popular

To Top