TIMOR

Pengelola Usaha Arang di Lakafehan Diadukan ke DPRD Belu. Kala: Kita Siap Benahi Knalpot Pembuangan Asap

ATAMBUA, Kilastimor.com-Usaha pembuatan arang di RT 02, Dusun Laka Ikiri, Kecamatan Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Belu diadukan ke DPRD Belu, karena menimbulkan asap yang mengganggu pernapasan warga setempat.
Pengaduan disampaikan warga setempat, Corinus Tufmela dan Deny Aplugi, Senin (13/1/2020) di gedung DPRD Belu.

Kedua warga itu diterima sejumlah anggota DPRD Belu masing-masing, Yakobus Manek, Dewi Arimbi Ballo, Regina Mau Loe, Agus Pinto dan Mady Manek.

Corinus Tufmela mengungkapkan, usaha pembuatan arang sangat mengganggu warga setempat, akibat asap yang mengepul dan menyebar kemana-mana. “Karena kondisi ini, maka kami datang untuk adukan ke DPRD,” jelas dia.

Dikemukakan, sebelumnya ada perusahaan yang mengelola tempat pembuatan arang dan begitu baik terkelola, terutama asap api. Namun setelah berganti pemilik, asap api menyebar kemana-mana sampai mengakibatkan anak-anak memderita ISPA.

Inilah tempat usaha pembuatan arang yang diduga sebab polusi.

Dia berharap DPRD maupun dinas dan badan terkait untuk turun kelapangan untuk melihat kondisi yang ada, sehingga bisa mengambil tindakan.

Dikemukan, pihaknya tidak mengetahui siapa pemilik usaha tersebut. Beberapa kali dilakukan pendekatan, namun belum ada tindaklanjut yang nyata terkait polusi asap. “Kami sudah pendekatan, tapi tidak ada tanggapan untuk mengatasi polusi asap,” tutur Corinus dan Aplugi.

Kayu yang sering dipakai kata kedua, ada kayu asam dan kayu putih, yang tidak diketahui dari mana diambil. “Yang kami tau, ada kayu asam dan kayu putih yang dijadikan arang. Menurut informasi mereka membeli dari warga,” kata keduanya senada.

Baca Juga :   SBS Nilai KSR Positif Bagi Pemda Malaka

Sementara itu, Anggota DPRD Belu, Yakobus Nahak Manek mengatakan, seharusnya perusahaan yang dikelola untuk tidak menyebabkan polusi yang merugikan orang lain.
Perusahaan tandasnya, harusnya memiliki manejemen yang baik soal lingkungan. Jika tidak, masyarakat setempat akan dirugikan.

DPRD ujarnya, akan meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memantau dan menangani perusahaan itu. Kenapa dua lembaga itu harus memantau, sebab ada polusi dan ada pemanfaatan kayu sebagai bahan baku arang.

Terpisah, Pemilik Usaha Pembuatan, Fransiskus Kala yang dihubungi media ini mengatakan, dirinya telah mendengar adanya pengaduan ke DPRD Belu, dan dirinya juga telah menghadap ke DPRD untuk mengklarifikasi.

Pihaknya ujar dia, siap membenahi knalpot pembakaran, agar apa tidak menyebar. “Sesuai arahan kepala desa, kami akan tinggikan knalpot asap jadi 12 meter. Kita segera tangani,” timpalnya.

Hanya saja bilang dia, asap tidak sampai menimbulkan polusi sebagaimana diadukan. “Kita ada bakar sekarang, tapi tidak berasap yang luar biasa,” tandasnya.

Menyoal kayu untuk pembakaran, dia menyebutkan untuk kayu sebagai bahan baku arang, dirinya membeli dari warga. Namun dirinya hanya membeli kayu pada warga yang memiliki sertifikat tanah. Hal ini untuk menghindari perambahan hutan lindung. “Kita tidak ingin rambah hutan lindung, jadi kita beli pohon ditanah yang bersertifikat. Kita tidak mau ada masalah hukum. Pak wartawan bisa turun lihat, apakah usaha kami.menyebabkan polusi,” sebutnya. (ferdy talok)

Baca Juga :   Kabupaten Kupang Sudah Berhasil Lahirkan Tiga Daerah Otonom. Wabup: Kisah Ibu Kuat dan Tangguh

Most Popular

To Top