TIMOR

Ini Kata Kadis Kesehatan Belu Soal DBD. “55 Pasien Tengah Dirawat di RSUD Atambua”

ATAMBUA, Kilastimor.com-Kasus Demam Berdarah Dengue yang terus meningkat dan menyebabkan salah satu anak penderita meninggal dunia di RSUD Mgr. Gabriel Manek, Rabu (26/2/2020) membuat Pemda Belu melalui Dinas Kesehatan siaga.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, dr. Joice Manek yang dikonfirmasi media ini angkat bicara terkait kasus DBD yang kian meningkat penderitanya.

Dikemukakan, kasus DBD memang terus meningkat penderitanya dan satu orang diantaranya meninggal dunia. Penderita DBD didominasi oleh anak-anak dari kasus-kasus yang ditangani. “Benar kasus DBD kian meningkat bahkan ada satu anak-anak meninggal dunia. Kasus DBD yang mengakibatkan jatuh korban jiwa baru satu orang,” tuturnya.

Disebutkan, pihaknya pada dua pekan lalu telah mengeluarkan instruksi kepada jajaran kecamatan dan desa serta petugas kesehatan di kecamatan juga desa, untuk siaga dan sosialisasikan bahaya DBD.

Disamping itu, pihaknya juga melakukan fogging pada kawasan padat penduduk, juga yang terjadi kasus DBD. “Fogging sudah kita lakukan pada pagi, siang dan sore hari,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, dia meminta masyarakat untuk hidup sehat dan membersihkan lingkungan. Termasuk menerapkan pola 3M Plus yakni mengubur kaleng bekas yang bisa menampung air hujan, menutup dan tempat penyimpanan air.

Selain itu, tidur harus menggunakan kelambu maupun menggunakan obat nyamuk, untuk menghindari gigitan nyamuk malaria. “Hanya ini cara untuk menghindari DBD,” bilangnya.

Baca Juga :   Kapela St. Alexander Haitimuk Ditahbiskan Uskup Atambua

Terpisah, Kabid Pelayanan RSUD Mgr. Gabriel Manek SVD, Siprianus Mali kepada media ini mengemukakan, sesuai data yang ada sekira 140 pasien DBD telah dirawat pihaknya.

Sementara itu, pasien yang sedang dirawat per Jumat (28/2/2020) sebanyak 55 orang. Pasien anak sebanyak 39 orang dan dan dewasa 16 orang.

Menyoal fasilitas perawatan, dia mengatakan pihaknya saat ini cukup terkendala bangsal perawatan yang penuh, sehingga ada pasien yang dirawat di lorong. “Kita kekuarangan ruangan baik bangsal anak maupun dewasa. Saat ini hanya tersisa ruang isolasi yang tidak digunakan,” ungkapnya. (ferdy talok)

Most Popular

To Top