TIMOR

New Normal, Bupati TTU Segera Terbitkan Perbup . “Terkait Penguburan Jenazah Sedang Dikaji”

Raymundus S. Fernandes

KEFAMENANU, Kilastimor.com-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) hari secara resmi menerapkan new normal dengan mengedepankan protokol penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
Hal tersebut disampaikan secara resmi dalam rapat Koordinasi oleh Bupati TTU Raymundus Sau Fernandez, S.Pt di Gedung Bale Biinmaffo, Senin (15/6/20).

Hadir pada kesempatan tersebut tokoh agama, pimpinan Perangkatan Daerah (OPD) dan Koordinator Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten TTU.

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandez saat ditemui usai rapat Koordinasi mengatakan, terkait dengan protokol di era new normal, pihaknya telah berlakukan untuk seluruh masyarakat TTU dan keputusan dari pemberlakuan new normal akan dituangkan dalam peraturan bupati termasuk soal kehidupan masyarakat.
Pihaknya meyakini dalam waktu dekat peraturan bupati tersebut akan dipublis.

“Akan diterapkan mulai dari orang nikah, orang meninggal, tempat wisata kegiatan sosial politik. Kita akan terapkan dalam keputusan bupati dan Kamis (18/6/20) mendatangsaya tanda tangani peraturan bupati,” ujarnya.

Ketua DPW NasDem NTT itu mengajak masyarakat wajib mematuhi protokol COVID-19 saat berada di rumah, pasar, tempat ibadah, dan dimana saja berada, guna mengantisipasi penyebaran COVID-19.

“Kalau kita mau, new normal ini berjalan dengan baik dan tidak ada orang terpapar virus akibat ketidakdisiplinan yang dilakukan oleh setiap pribadi. Kalau kita disiplin kita akan terbebas dari virus itu,” paparnya.

Dilanjutkan, hingga kini Pemda TTU masih mengalami kendala terkait waktu pemakaman jenazah. Pasalnya masyarakat belum meninggalkan kebiasaan lama dimana satu hari dapat dikuburkan dengan pertimbangan ekonomi. Hal tersebut masih dikaji lebih lanjut oleh tim teknis untuk mencari jalan keluar dari permasalahan lamanya waktu pemakaman.

Baca Juga :   TP PKK Malaka Vaksin Siswa SMP Sabar Subur Betun

“Kalau keluarga yang mampu dalam sehari bisa mengurus peti jenazah untuk dikuburkan. Sementara yang tidak mampu belum tentu bisa memenuhi waktu yang sudah ditetapkan bersama dalam aturan bupati dimana harus dikuburkan dalam sehari. Ini masih dikaji lagi oleh tim teknis,” ujarnya.

Sementara itu, Deken Dekenat Kefamenanu, Keuskupan Atambua Rm. Gerardus Salu, Pr dalam kesempatan tersebut mengakui memang selama ini umat katolik Dekenat Kefamenanu punya kerinduan untuk merayakan ekaristi di Gereja dan umat merasakan tanpa ekaristi belum lengkap dan sesudah masa ini lewat akan ada perjumpaan lagi.

Rencananya Gereja Katolik Keuskupan Atambua akan dibuka setelah penerapan aturan protokol di era new normal di kabupaten Belu, Malaka, dan TTU baru gereja memberlakukan karya pastoral di Keuskupan Atambua.

“Gereja bersifat hierarki maka setiap keputusan diambil bersama dan tidak bertentangan baik lokal maupun universal,” ungkapnya.

Pastor Paroki Santa Theresia Kefamenanu itu mengakui untuk sementara hal tersulit yang hadapi oleh Gereja adalah persolan kematian. Karena suku-suku tertentu proses pemakaman dibutuhakn waktu 6 hari dan sementara suku-suku biasa sudah bisa maksimal dalam 1×24 jam.

“Dari Gereja yang paling sulit itu kematian khusus terjadi pada kelompok Tionghoa membutuhkan waktu bisa sampai 6 hari,” jelasnya. (isto santos)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top