TIMOR

Miris, Padang Fulan Fehan Rusak dengan Pengeboran Sumur Bor

Inilah mesin bor air yang disiap beroperasi

ATAMBUA, Kilastimor.com-Padang Fulan Fehan di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Belu, telah menjadi ikon dan destinasi kunjungan wisatawan lokal dan regional.

Sayangnya, ikon itu malah dirusak dengan dibangun sumur bor ditengah padang savana itu. Entah siapa yang membangunnya.
Pekerjaan itu, dapat dipastikan merusak panorama dan merusak alam disekitarnya akibat limbah pengeboran.

Untuk diketahui, Fulan Fehan merupakan bagian dari Gunung Lakaan dan Benteng Tujuh Lapis yang begitu dijaga masyarakat adat Dirun dan menjadi area yang pemali. Karena pemali, kondisinya terjaga hingga saat ini. Sayang, pemboran dan penggalian itu, merusak alam dan wajah padang terbaik di Belu itu.

Kadis PUPR Belu, Vincent K. Laka yang dihubungi media ini, Senin (5/10/2020) membenarkan adanya aktivitas pengeboran air di lokasi padang Fulan Fehan.

Hanya saja, dirinya belum mengetahui pemilik proyek pengeobaran air tersebut. “Kami tidak dapat informasi soal pengeboran air di Fulan Fehan. Kami juga belum tau siapa yang kerjakan,” tuturnya.

Terpisah, Kadis Pariwisata Belu, Fredrik L. Bere Mau kepada media ini juga mengaku kaget atas pelaksanaan proyek tersebut. “Saya malah dengar dari keluarga, kalau ada pekerjaan sumur di Fulan Fehan,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, dirinya sudah menegur dan menghentikan pelaksanaan proyek tersebut, karena merusak alam dan panorama Fulan Fehan. “Kita kesal karena tidak ada informasi apapun ke kita (Dinas) maupun masyarakat pemegang hak ulayat. Saya sudah minta kontraktor, Vinsen Saka menghentikan pekerjaan, karena saya juga merupakan bagian dari masyarakat Adat Dirun,” paparnya.

Baca Juga :   Tidak Lengkap SIM dan Pajak, Banyak Pengendara di Malaka Terjaring Operasi

Dilanjutkan, dirinya sudah menginformasikan ke Nai Dirun juga masyarakat adat setempat dan semua pemangku adat menolak proyek itu.

Terkait pemboran air itu, dirinya sudah melaporkan ke Pjs Bupati Belu terkait hal itu, agar dikoordinasikan ke Distamben Provinsi. Dirinya juga telah melaporkan ke Bupati Belu, Willy Lay yang sedang menjalankan cuti, karena memiliki passion yang kuat dengan Fulan Fehan.

Masih menurutnya, dirinya telah mengklarifikasi ke UPT Kehutanan Provinsi di Atambua. Menurut pengakuan Kepala UPT, Wilco Manek tidak ada pemberitahuan apapun, sebab Fulan Fehan padahal masuk kawasan hutan lindung.

Dia mengaku, pihaknya dalam musrenbang kabupaten mengajukan sumur bor bahkan diusulkan ke provinsi. Namun lokasinya tidak ditengah padang fulan Fehan seperti saat ini. “Ini sangat mengecewakan, karena tidak ada koordinasi dan pekerjaan itu merusak kawasan Fulan Fehan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Vinsen Saka belum berhasil dikonfirmasi. (ferdy talok)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top