TIMOR

Terkait Raskin, Sahabat Sudah Realisasikan Janjinya

ATAMBUA, Kilastimor.com-Banyak pertanyaan bahkan sindiran dilontarkan lawan politik terkait pelaksanaan raskin gratis yang merupakan salah satu program Sahabat.
Terkait pertanyaan itu, Cawabup Belu, JT. Ose Luan yang juga petahana atau incumbent memberi penjelasan lengkap.

Kepada masyarakat Raifatus, Kecamatan Raihat, Belu, mantan Sekda Belu itu mengemukakan, sebenarnya ada yang salah kaprah soal beras miskin (Raskin).
Pada 2015, Raskin merupakan program pemerintah pusat melalui Kemensos. Karena ada sejumlah keluhan soal biaya transportasi raskin yang dibayar warga penerima sebesar Rp 1.600, maka
Paket Sahabat menjanjikan agar menalangi atau mensubsidi biaya pengangkutan atau biaya trasnportasi bagi penerima raskin.

Setelah dilantik pada tahun 2016 lanjutnya, pihaknya berupaya untuk memenuhi janji untuk menalangi biaya angkut raskin hingga ke setiap desa. Karena APBD sudah ditetapkan, maka tidak ada celah untuk memenuhi janji itu. Namun pada APBD Perubahan 2016, pihaknya berhasil memasukan semua biaya dan mengcover hingga Januari 2016.
Alhasil, penerima raskin tidak lagi membayar sepeserpun biaya angkut raskin. “Kita subsidi biaya angkut atau transportasi. Dan janji itu kita penuhi. Siapa bilang kita ingkar janji? Apakah penerima raskin 2016 ada yang bayar Rp 1.600 per kilo,” tanyanya. Peserta kampanye dengan serentak menjawab tidak ada biaya apapun yang dibayar. “Kami tidak bayar apapun,” bilang warga.

Masih menurut Ose Luan, pada tahun 2017, program raskin diubah menjadi beras sejahtera (Rastra). “Nomenklatur Raskin sangat tidak bagus, maka diganti nama menjadi rastra,” ujarnya.

Baca Juga :   Gubernur NTT Apresiasi Kegiatan PISMA Unwira

Pemerintah pusat sebutnya, kemudian memutuskan semuanya gratis tanpa membayar apapun. “Pempus tahu kita di daerah subsidi biaya transportasi, maka sejak berubah jadi rastra semua ditanggung dan beras diterima gratis. “Lalu salahnya dimana,” tanyanya.

Dia melanjutkan, tahun 2018 Pempus kembali mengganti sebutan rastra menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang berlaku hingga hari ini.
Disamping itu, pemerintah melalui program PKH, juga memberikan bantuan beras 30 kilo kepada setiap penerima. “Mereka tiup isu tapi tidak kuasai aturan, jadi asal tabrak,” tuturnya.

Dia meminta warga Belu untuk tidak termakan isu hoax yang disebar, apalagi hanya untuk memenuhi hasrat politik dan berusaha menjatuhkan petahana. “Jangan terpengaruh dengan permainan yang disebar,” tutupnya. (ferdy talok)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top