RAGAM

Direktris RSUD Atambua: Rapid Test Post Mortem Diperbolehkan

dr. Bathseba Elena Corputty

ATAMBUA, Kilastimor.com-Direktris RSUD Mgr. Gabriel Manek SVD, dr. Bathseba Elena Corputty menjawab keraguan publik atas hasil rapid test covid-19 terhadap orang yang telah meninggal.
Karaguan publik menyeruak pasca meninggalnya salah satu staf BP3D Belu dengan inisial BUM, yang kemudian dinyatakan positif Covid-19 setelah dilakukan rapid antigen di RSUD Atambua beberapa waktu lalu.

Elen Corputty sapaan akrab Direktris RSUD Atambua kepada media, Kamis (5/8/2021) mengemukakan, rapid test post mortem diperbolehkan.

Rapid test post mortem di masa pandemi Covid-19 sangat diperlukan, terlebih bagi orang yang meninggal diluar rumah sakit. “Rapid untuk orang yang sudah meninggal diperbolehkan,” katanya.

Disebutkan, rapid tes untuk orang yang sudah meninggal penting dilakukan untuk mengetahui apakah apakah meninggal karena terpapar covid atau tidak.

Dengan rapid, akan diketahui hasilnya, dan tentu bisa menolong tenaga medis yang menangani maupun keluarga.
“Kan ada dokter dan tenaga medis yang tangani. Penting kita tau, apalagi meninggal diluar rumah sakit. Dengan begitu tenaga medis akan waspada dan terjaga kesehatannya,” paparnya.

Tidak saja untuk tenaga medis, hasil ini juga untuk menjaga keluarga orang yang meninggal. Jangan sampai keluarga terpapar virus corona. “Kita semua tahu adat kita di Belu. Pasti ada yang melayat dan meratapi orang yang meninggal. Dengan kita tahu hasil rapid tes, maka semua akan terlindungi,” imbuhnya.

Baca Juga :   BPJS Kesehatan Adakan Gebyar Prolanis di Sukaerlaran

Terkait salah satu staf BP3D Belu, BUM yang meninggal diluar rumah sakit dan dinyatakan positif Covid-19 setelah dibawa serta diperiksa di RSUD, dia mengatakan, pihaknya telah menajalankan prosedur secara benar.
Dimana, jenazah yang dibawa ke rumah sakit, dilakukan rapid tes post mortem. Dan setelah diperiksa di laboratorium RSUD, jenazah tersebut dinyatakan positif Covid-19.
Dari situ, dokter menyampaikan kepada kepada keluarga. Namun keluarga tidak menerima baik, hingga terjadi tindak kekerasan terhadap dokter.

Masih menurutnya, manejemen, dokter dan tenaga medis RSUD Atambua tidak sembarang menyatakan seseorang positif covid atau meng-covid-kan orang. Prosedur harus dijalankan yakni melakukan rapid antigen. “Kita tidak sembarang covid-kan orang. Semua harus melalui tes sesuai prosedur,” tuntasnya.

Dia berharap masyarakat tidak men-judge dokter dan tenaga medis. Pasalnya mereka terikat sumpah. Selain itu, para dokter dan tenaga kesehatan bekerja sesuai prosedur yang ada. (ferdy talok)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top