RAGAM

Gerakan Bersama Kenali, Cegah dan Atasi Stunting

OPINI
Oleh
MARIA YOVITA BAU
Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

Stunting merupakan kondisi tumbuh pada anak balita yang tak normal akibat kekurangan gizi kronis. Akibatnya, anak lebih pendek untuk usiannya (kekuragan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir, tetapi baru tampak setelah anak berusia 2 tahun).

Kekurangan gizi dalam jangka waktu lama terutama pada seribu hari pertama kehidupan dapat menimbulkan kegagalan pertumbuhan.

Masalah stunting ini masih terjadi di Indonesia dan di wilayah NTT pun masih menjadi perbincangan hangat, akibat masih tingginya persentase stunting. Dan untuk mengatasi stunting perlu adanya pengenalan kepada orang tua, masyarakat sehingga mereka menyadari dan peka terhadap masalah stunting.

Perlu diketahui penyebab stunting pada dasarnya bisa terjadi sejak anak berada di dalam kandungan, penyebabnya karena sang ibu tidak memiliki akses terhadap makanan sehat dan bergizi, sehingga dapat menyebabkan calon turut kekurangan gizi. Selain itu rendahnya vitamin dan mineral yang dikonsumsi ibu, juga bisa ikut mempengaruhi malnutrisi janin.

Adapun beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu pola asuh yang kurang efektif, tidak melakukan perawatan pasca melairkan, sakit infeksi yang berulang serta sanitasi yang buruk dapat menyebabkan stunting pada sang anak.

Beberapa gejala stunting yang dapat dilihat pada seorang anak dan dapat dipahami oleh orang tua maupun masyarakat adalah seperti berikut: wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, pertumbuhan tubuh dan gigi terlambat, berat badan lebih ringan untuk anak seusianya, anak lebih cendrung pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya, dan pubertas yang lambat.

Baca Juga :   Sekda Belu akan Tutup PSHT dan IKS

Untuk menurunkan angka stunting perlu dibutuhkan kerjsama berbagai pihak meliputi pemerintah baik pusat maupun daerah, unsur masyarakat, dan keagamaan serta kader sebagai bagian terdekat dengan masyarakat memiliki peran penting sebagai agen perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku sehingga dapat menurunkan prevelensi stunting.

Maria Yovita Bau

Pemerintah menetapkan lima pilar penanganan stunting antara lain kepemimpinan yang memiliki visi dan komitme, edukasi secara nasional yang akan menimbulkan perubahan perilaku, program yang terintegrasi di semua tingkat pemerintah, pengan dan gizi yang baik, serta monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan untuk mencapai target tersebut.

Lima pilar dapat dijabarkan dalam banyak upaya yang terdiri dari upaya gizi spesifik dan gizi sensitif. Upaya tersebut harus dilakukan secara integrasi agar dapat mencapai hasil maksimal. Upaya gizi spesifik memiliki sifat jangka pendek (memberikan makanan tambahan pada ibu hamil, mengatasi kekuragan zat besi dan asam folat, mendorong inisiasi meyusui dini, mendorong pemberian ASI eksklusif, memberikan imunisasi lengkap, menyediakan obat cacing, memberikan perlindungan terhadap malaria) dan langsung ditunjukan pada seribu hari pertama kehidupan.

Upaya gizi sensitif memiliki sifat jangka panjang (menyediakan dan memastikan akses pada air bersih, menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional, menyediakan Jaminan Persalinan Universal, memberikan pendidikan dan pengasuhan pada orang tua, memberikan pendidikan gizi masyarakat, memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada remaja. Disamping itu, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi) dan ditunjukan kepada masyarakat luas tidak hanya pada seribu hari pertama kehidupan.

Baca Juga :   Perss Soe Kalahkan Persebata Lembata

Harapannya anak-anak bangsa menjadi anak yang bebas dari stunting dan perlu kerja sama lintas sektor untuk penanganan stunting. **

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top