Ragam  

156 Unit Koperasi Desa Merah Putih Mulai Dibangun di Belu dan Malaka

Progres Capai 60 hingga 80 Persen

Letkol Arh. Andi Yunus

ATAMBUA, Kilastimor.com-Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di wilayah Belu–Malaka terus dikebut.

Dari total 208 bangunan, sudah sebanyak 187 lokasi telah terverifikasi Agrinaas Pangan Nusantara, dengan capaian pembangunan rata-rata 60 hingga 80 persen.

Hal itu disampaikan Dandim 1605/Belu, Letkol Arh Andi Yunus, S.I.P., saat menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan di Atambua, Selasa (03/03/2026) malam.

“Dari 208 target Belu-Malaka, per hari ini sudah 187 titik yang terverifikasi. Dari jumlah itu, 156 unit sedang berjalan pembangunannya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pencapaian tersebut tidak diraih sekaligus karena persoalan ketersediaan lahan. Babinsa bersama pemerintah desa masih terus melakukan pendataan dan pencarian lahan yang memenuhi syarat.

“Tidak semua lahan itu milik pemerintah daerah. Ada yang milik masyarakat, ada juga milik kementerian. Jadi kita tidak bisa langsung penuhi 208 sekaligus,” ujarnya.

Dari total target, 81 unit berada di Kabupaten Belu dan 127 unit di Kabupaten Malaka. Beberapa titik lainnya masih ditinjau ulang karena ditemukan lahan yang kurang memenuhi kriteria.

Menurutnya, progres tertinggi saat ini sudah mencapai lebih dari 60 persen. Bahkan ditargetkan pada akhir Maret sekitar 50-an unit dapat diselesaikan, dengan catatan material tersedia.

“Ini padat karya, bukan kontrak. Target kita 90 hari kerja, tapi kita sesuaikan dengan kondisi cuaca dan ketersediaan material. Karena ini serentak se-Indonesia, kita juga harus antre di pabrik, seperti pesanan CMP,” jelasnya.

Ia menambahkan, wilayah yang dekat dengan sumber material tentu lebih cepat menyelesaikan pekerjaan, sementara daerah yang harus memesan dari luar membutuhkan waktu lebih lama.

Untuk progres tercepat, Desa Umaklaran di Kecamatan Tasifeto Timur dan sebagian wilayah Desa Tohe di Kecamatan Raihat tercatat paling melesat.

Terkait tenaga kerja, ia memastikan program ini benar-benar memberdayakan masyarakat lokal.

“Saya benar-benar memanfaatkan tenaga masyarakat yang ada di sini. Kalau pun harus mendatangkan tenaga ahli dari luar karena keterbatasan SDM, tetap tenaga lokal menjadi prioritas,” tandasnya.

Program KDMP ini diharapkan tidak hanya mempercepat pembangunan fasilitas, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pola padat karya yang menyerap tenaga kerja setempat. (*)

Editor: Ferdy Talok