ATAMBUA, Kilastimor.com-Master Plan Pengembangan Kawasan Strategis Perkotaan Atambua Pemerintah Kabupaten Belu mulai mematangkan terus dimatangkan pemerintah bersama para pakar penataan kota dari Universitas Gadjah Mada. Master plan yang disusun menjadi pedoman pengembangan kota Atambua yang merupakan beranda NKRI dengan Timor Leste.
Hal ini ditandai dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang Pemaparan Masterplan Pengembangan Kawasan Strategis Perkotaan Atambua yang digelar di Aula Betelalenok, Kamis (30/04/2026).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari FGD yang sebelumnya dilaksanakan pada Maret 2026 lalu, sekaligus menjadi forum penting untuk menghimpun masukan dari berbagai pihak.
Bupati Belu, Willybrodus Lay mengemukakan, Atambua memiliki posisi strategis sebagai daerah perbatasan langsung dengan Timor Leste. Dan Atambua bukan sekadar kota biasa, tetapi wajah Indonesia yang dilihat pertama kali oleh warga negara tetangga.
“Kita harus tampil sebagai beranda depan Indonesia. Jangan sampai memalukan. Kota ini harus cantik, tetapi juga harus diiringi pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.
Ia menyebutkan, saat ini pertumbuhan ekonomi Belu berada di kisaran 6 persen. Ke depan, pemerintah menargetkan peningkatan hingga 7 persen melalui perencanaan yang matang dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Meski di tengah kondisi efisiensi anggaran, Bupati menekankan bahwa semangat pembangunan tidak boleh ikut dikurangi. “Efisiensi anggaran boleh, tapi tidak boleh efisiensi semangat membangun,” ujarnya.
Bupati juga berharap kehadiran tim UGM dapat membuka jejaring yang lebih luas, termasuk akses ke pemerintah pusat dan peluang investasi.
Ia mencontohkan keberhasilan Balikpapan sebagai pusat pertumbuhan di Kalimantan yang didukung oleh banyak perusahaan dan program CSR.
Belu, lanjutnya, perlu belajar dan membangun kerja sama agar mampu mengejar ketertinggalan, termasuk dalam mewujudkan kota layak anak serta peningkatan kualitas pelayanan publik yang saat ini masih menjadi pekerjaan rumah.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti potensi pariwisata Belu, termasuk rencana pelaksanaan Festival Fulan Fehan yang akan melibatkan ribuan penari Likurai. Hal mendorong pergerakan ekonomi masyarakat juga kian dikenalnya Kabupaten Belu.
Ketua Tim Perencana UGM, Arif Kusumawanto, menjelaskan bahwa penyusunan masterplan tidak hanya berfokus pada penataan kota.
Namun juga mencakup, Arsitektur dan tata kota, Pengembangan wilayah, Penguatan ekonomi masyarakat dan Pengembangan sosial maupun budaya.
Dokumen masterplan ini ditargetkan rampung pada Juli 2026 dan akan menjadi dasar dalam penyusunan regulasi pembangunan ke depan. “Yang kita bangun bukan hanya tata kota, tetapi juga ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Terpisah, Bupati yang ditanyai soal rencana penataan kota, ia mengatakan pihaknya tadi berkeliling pada spot-spot yang akan ditata pada masa mendatang. Tentunya akan ada perbaikan, penertiban dan bahkan relokasi.
Menyoal minimnya anggaran saat ini, ia mengatakan pihaknya optimis, akan ada perhatian. “Soal anggaran kita akan cari. Sekarang kita rencanakan dengan baik penataan Kota Atambua menjadi kota internasional. Walau ada efisiensi anggaran, hal ini jangan buat kita efisian untuk membangun dan berkarya,” tutupnya.
Sementara itu, Kabid Cipta Karya, Dinas PUPR Belu, Vinsensius Sau mengatakan, pihaknya menyambut baik master plan yang disusun.
Sebagai dinas teknis, tentunya terlibat dan menunggu master plan final soal pengembangan kawasan kota Atambua dan sekitarnya. ” kita siap tindaklanjuti apa yang disusun secara bersama,” tutupnya. (*)







