Lomba Paduan Suara jadi Gebrakan Perdana PGRI Belu, Bupati Apresiasi dan Minta Guru Tingkatkan Kualitas Pendidikan

ATAMBUA, Kilastimor.com-Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Belu yang dipimpin Yanuarius Wadan S.Pd mulai unjuk gigi.

Kepengurusan yang dilantik belum lama ini melakukan gebrakan dengan menggelar Lomba Paduan Suara Mars dan Hymne PGRI tingkat kabupaten tahun 2026. Kegiatan itu berlangsung, Jumat (30/4/2026) sore, di Gedung Betelalenok, Atambua.

Adapun tema Lomba Paduan Suara yakni “Melodi Pendidikan, Guru Bergerak, Indonesia Pintar”.

Kegiatan akbar perdana ini menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 sekaligus momentum membangkitkan kembali semangat guru di wilayah perbatasan.

Untuk diketahui, sebanyak 11 tim perwakilan cabang PGRI se-Kabupaten Belu ambil bagian dalam lomba yang berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan. Juri dalam lomba tersebut masing-masing Dosen Sendratasik, Unwira Kupang, Stanis Tolan dan Musisi, Yance Bere yang juga guru di Kota Kupang.

Bupati Belu, Willybrodus Lay dalam sambutannya sebelum membuka lomba tersebut mengapresiasi kegiatan tersebut dan menekankan pentingnya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan, khususnya pada aspek literasi dan numerasi di tingkat sekolah dasar.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap masih adanya siswa kelas atas SD yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik.

“Ini harus jadi perhatian serius. Anak kelas 1 dan 2 harus dipastikan bisa baca tulis. Kalau kelas 5 belum bisa, panggil orang tuanya dan lakukan pendampingan khusus,” tegasnya.

Bupati juga mendorong adanya inovasi dalam kegiatan PGRI, termasuk penyelenggaraan lomba paduan suara secara bergilir di kecamatan hingga ke tingkat regional bahkan internasional.

“Ke depan, lomba ini jangan hanya di Atambua. Putar ke kecamatan, lalu tingkatkan ke daratan Timor, bahkan sampai festival lintas negara dengan Timor Leste,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengusulkan agar bahasa Tetun dijadikan muatan lokal di sekolah sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus membuka peluang komunikasi internasional di wilayah perbatasan.

Ketua PGRI Kabupaten Belu, Yanuarius Wadan, menegaskan bahwa PGRI merupakan rumah besar perjuangan guru yang memiliki sejarah panjang sejak masa penjajahan hingga saat ini.

Ia mengakui, dalam satu dekade terakhir organisasi PGRI di Belu sempat mengalami kelesuan. Namun sejak kepengurusan baru terbentuk pada Desember 2025, berbagai langkah pembenahan mulai dilakukan.

“Kami bertekad menghidupkan kembali PGRI sebagai organisasi profesi yang solid, bermartabat, dan profesional. Dalam waktu singkat, kami telah melakukan konsolidasi hingga ke tingkat ranting dan mendorong kepemilikan KTA online bagi guru,” jelas Yanto Talok sapaan karibnya.

Menurutnya, hampir 1.000 guru di Belu kini telah memiliki kartu anggota digital sebagai bagian dari transformasi organisasi.

Menariknya, dalam lomba kali ini, lagu Mars dan Hymne PGRI yang sebelumnya dinyanyikan dalam satu suara, berhasil diaransemen menjadi empat suara melalui kolaborasi dengan pelatih musik dari Kupang. “Ini mungkin sejarah baru. Dari Belu, kita berani berinovasi,” tambahnya.

Yanuarius juga menekankan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi sarana refleksi dan kebangkitan jati diri guru.

“The voice of the nation future. Suara guru adalah suara masa depan. Dari sini kita bangkit, bersatu, dan memperjuangkan pendidikan yang lebih baik,” tegasnya.

Ia berharap kegiatan ini mampu memantik semangat guru untuk terus berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan di daerah perbatasan.

Ketua Panitia, Ony Ratudabo dalam laporannya menyampaikan, kegiatan ini bertujuan mempererat solidaritas antar guru, meningkatkan profesionalisme, serta menumbuhkan semangat nasionalisme melalui lagu Mars dan Hymne PGRI.

“Selain memeriahkan Hardiknas, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi bagi guru untuk mengembangkan bakat seni yang selama ini jarang tersalurkan,” ujarnya.

Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Kabupaten Belu, serta sponsor dari Bank NTT dan BPJS Kesehatan.

Pantauan media ini, lomba paduan suara ini secara resmi dibuka dengan pemukulan gong oleh Ketua DPRD Belu, Theodorus Manehitu Djuang, didampingi bupati, anggota DPRD Belu, Engelbert Yonas Talok, sejumlah pengurus PGRI, sebagai simbol dimulainya kompetisi ini.

Suasana kegiatan berlangsung penuh antusiasme, dengan dukungan para pelatih, peserta, dan suporter yang turut memeriahkan acara.

Melalui kegiatan ini, PGRI Belu berharap mampu menghadirkan energi baru bagi para guru untuk terus berkarya, berinovasi, dan menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan generasi bangsa di wilayah perbatasan. (*)

Editor: Ferdy Talok