Pengguna Medsos di Belu Diminta Kedepankan Budaya “Hakneter No Haktaek”

Edmundus Nuak

 

ATAMBUA, Kilastimor.com-Kebebasan bermedia sosial (Medsos) bukan berarti penguna medsos sebebas-bebasnya tanpa memperhatikan norma maupun adat istiadat.

Kehadiran berbagai platform media sosial bertujuan untuk saling berinteraksi hingga membagi informasi positif. Lebih dari itu, tentunya informasi yang dapat dipertangungjawabkan secara hukum maupun etis.

Yang terjadi saat ini, banyak pengguna media sosial di Kabupaten Belu menyalahgunakan kebebasan yang ada, dengan menyebar informasi tak bertanggungjawab dan melampaui batas kewajaran. Misalnya menggunakan grup-grup medsos untuk memaki, menghina bahkan memprovokasi.

Fakta-fakta penyalahgunaan medsos yang terjadi, menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi Ketua Komisi 1 DPRD Belu, Edmundus Nuak.

“Akhir-akhir ini, kita menyaksikan medsos bukan lagi sebagai wadah informasi dan interaksi, tapi sebagai wadah untuk menghina memaki dan narasi negatif,” bilangnya di kantor DPRD Belu, media, Kamis (23/102026).

Sebagian pengguna media sosial kata Ketua DPD Nasdem Belu itu, mulai menggunakan platform medsos seperti Facebook untuk menyerang privasi, memaki tanpa rasa bersalah. “Kita tidak melarang penggunaan medsos. Tapi harusnya digunakan untuk memberi pesan positif dan optimisme. Jangan pake untuk maki-maki orang, menghina maupun provokasi,” tandasnya.

Dikemukakan, beberapa akun anonim tanpa tedeng aling-aling memaki Bupati Belu dengan kata-kata kotor dan tak beretika. Sikap kritis atas kinerja dan lainnya dibenarkan serta perlu disampaikan secara baik. Kalau memaki dan menghina sangatlah tidak diterima. “Masakh seorang bupati yang adalah orang tua kita, pemimpin kita dimaki-maki di medsos bermodal akun anonim. Ini sangat tidak dibenarkan,” tegas Mundus Tita sapaan karibnya.

Ia meminta, platform medsos yang ada, untuk tidak mentolerir aksi-aksi tak bermoral dan tak beretika tersebut. Jika dibiarkan, akan menjadi kebiasaan bahkan dianggap benar. “Menurut saya, platform medsos harus hilangkan akun anonim biar tidak disalahgunakan,” tegasnya.

Ia juga meminta Dinas Kominfo Kabupaten Belu, untuk mengikuti tren negatif yang ada di dunia maya. Dengan begitu, bisa dilakukan langkah-langkah penertiban, menuju dunia medsos yang sehat.

Ditegaskan, sebagai orang Belu, harusnya memiliki budaya hakneter no haktaek atau budaya saling menghormati dan menghargai. Jangan sampai budaya dan kebiasaan ini hilang, akibat kehadiran medsos. “Mari kita bermedsos dengan mengedepankan budaya kita orang Belu yakni hakneter no haktaek,” imbuhnya.

Medsos tambahnya, hendaknya dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan, menambah informasi serta interaksi sosial yang sehat. Etika bermedsos harus dikedepankan, sehingga bermanfaat bagi semua orang dan menjadi referensi yang kuat bagi kemajuan pribadi maupun komunal. (*)

 

Editor: Ferdy Talok